Resiko Mudik dan Pelajaran dari India

Mahasiswa UIN SGD Bandung
Resiko Mudik dan Pelajaran dari India 29/04/2021 117 view Budaya png.pngtree.com

Mudik atau mulang keudik adalah kegiatan tahunan yang syarat dengan rasa kegembiraan di mana anak bertemu orang tua tercinta, dan bertemu sanak saudaranya. Mudik selalu menjadi momen yang wajib dalam setiap tahunnya karena lebaran tanpa mudik bak seperti sayur tanpa garam. Selain itu mudik telah membumi di nusantara menjadi budaya yang penuh syarat nilai-nilai keagamaan.

Mudik adalah jalan silaturahmi dan jalan harapan yang dianggap paling baik bagi orang di bumi Indonesia, budaya mudik tidak mengenal etnis dan suku di nusantara. Semua orang berbagi suka dan kasih, bereuforia bak menjadi pemenang kompetisi Piala Dunia bahkan mungkin lebih dari itu. Karena tiga minggu sebelumnya orang-orang telah riuh mempersiapkanya.

Namun dalam dua tahun terakhir ini, semenjak covid-19 berkoloni menjajah nusantara, Mudik pun dilarang oleh Pemerintah. Alasan Pemerintah melarang ya karena pemerintah sayang terhadap kita. Di tahun lalu pemerintah melarang mudik dengan keluarnya Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) soal larangan mudik 2020. Aturan tersebut tertuang dalam Permenhub Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H dalam rangka pencegahan penyebaran virus Corona. Kemudian pada tahun ini pemerintah melarang kembali dengan diumumkanya dalam Surat Edaran Nomor 13 Tahun 2021 dari Satgas Penanganan Covid-19 tentang Peniadaan Mudik Hari Raya Idul Fitri Tahun 1442 Hijriah dan Upaya Pengendalian Penyebaran Covid-19 Selama Bulan Suci Ramadhan 1442 Hijriah.

Hal ini menyebabkan kekecewaan dari sebagian masyarakat karena mungkin dari sisi lain keinginan kuat untuk mudik ini karena faktor tahun kemarin yang tidak mudik di mana membuat makin menebalkan rindu dengan keluarga di kampung halaman. Kemudian budaya mudik pun yang biasanya menjadi angin segar bagi perekonomian masyarakat. Terutama bagi masyarakat pelaku usaha di bidang makanan, souvenir dan hal-hal yang menjadi barang pelengkap saat mudik.

Walaupun demikian kita harus menerima larangan mudik ini dengan legowo, mengapa? Sebagai manusia Indonesia yang tinggi akan akal dan budi. Kita harus memahami bahwa larangan tersebut bukan semata-mata pemerintah meniadakan budaya yang syarat akan nilai agama, bukan juga pemerintah yang membenci masyarakat Indonesia dengan kebudayaannya. Toh apa untungnya pemenrintah melarang kita? Ini semua demi kebaikan kita.

Belajar dari peningkatan kasus covid-19 di india yang mana dalam satu hari merengut sekitar 2000-an nyawa, sungguh angka yang begitu mengerikan. Bahkan media menyebutnya dengan tsunami covid. Karena melihat hamparan mayat yang antri di depan tungku-tungku pembakaran untuk dikremasi yang begitu banyaknya. Mengapa di India seperti itu? Salah satu faktor peneyebabnya yaitu sikap pongah masyarakat yang terlalu berpuas diri ketika tingkat covid-19 semakin landai. Hal tersebut menyebabkan meraka lupa dengan protokol kesehatan. Euforia ini menyebabkan orang lupa untuk memakai masker dan mencuci tangan. Mereka bebas lepas berkegiatan berolahraga, berkerumun dan lainnya. Bahkan jika mau jujur bahwa festival keagamaan menjadi cluster dan tempat bertumbuhnya si covid-19. Untuk itu, agar jangan sampai momentum mudik ini menjadi salah satu penyumbang pertambahan jumlah kasus covid di Indonesia seperti di India, maka kita tidak boleh terlena. Kita harus selalu siap siaga.

Kemudian untuk pemangku kebijakan harus siap siaga tidak boleh kecolongan lagi apa lagi dikhawatirkan banyak turis masuk dari India ke Indonesia. Larangan mudik bukan salah satu ikhtiar untuk mencegah bertambahnya penyebaran covid tapi pemerintah harus lebih memperketat apa lagi untuk turis, dikhawatirkan jika tidak diperketat ini akan menjadi faktor penyebaran covid-19. Selain itu pemerintah harus menjaga perasaan masyarakat yang mana ia akan cemburu jika ia dilarang mudik dan turis mudah masuk melenggang ke Indonesia.

Larangan untuk mudik mau bagaimanapun patut kita terima karena ini bentuk ikhtiar dari pada kita sebagai anak bangsa. Sekurang-kurangnya jika memaksakan untuk mudik protokol kesehatan tetap menjadi wajib jangan abai terhadap keselamatan diri dan keselamatan keluarga yang ingin dikunjungi. Di satu sisi kita memahami bahwa kita bosan dan jengah akan keadaan yang kurang terhadap sentuhan silaturahmi, tapi disisi lain kaidah agama mengatakan دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ (Upaya menolak kerusakan harus didahulukan dari pada upaya mengambil kemaslahatan). Sebagai mana dalam kaidah tersebut kita memahami keselamatan diri ini lebih penting dari pada festival keagamaan karena pada dasarnya melindungi jiwa lebih penting dari sekedar mudik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya