Yasinan dan Simbol Keharmonisan Masyarakat

WIRASWASTA
Yasinan dan Simbol Keharmonisan Masyarakat 16/12/2023 214 view Agama dokumen pribadi

Tradisi yasinan memiliki akar yang dalam pada sejarah Islam di Indonesia, utamanya masyarakat Jawa. Istilah "yasinan" merupakan singkatan yang digunakan oleh masyarakat muslim Indonesia untuk memudahkan pemahaman terhadap kegiatan membaca Surat Yasin, baik secara individu maupun berjamaah. Yasinan merupakan bagian dari serangkaian amalan keagamaan, seperti Tahlil, Maulid, Khataman, dan lainnya. Membaca Surat Yasin, termasuk di malam hari, diyakini memiliki keutamaan, yaitu mendapatkan ampunan dosa.

Dalam sejarahnya, Wali Songo dan para penyebar Islam di Pulau Jawa juga dikenal sebagai tokoh yang toleran terhadap tradisi lokal. Mereka mencoba meraih hati masyarakat dengan menyelipkan ajaran Islam dalam tradisi yang sudah ada. Seiring berjalannya waktu, yasinan muncul sebagai salah satu produk kebudayaan dengan nuansa Islam yang berkembang pesat di kalangan masyarakat Islam di Jawa.

Pada awal penyebaran agama Islam, terutama pada masa Kerajaan Demak, yasinan digunakan sebagai sarana doa untuk leluhur yang telah meninggal dunia. Praktik ini bertujuan menggantikan tradisi sebelumnya di masyarakat Jawa yang masih dipengaruhi oleh kepercayaan animisme, dinamisme, serta ajaran Hindu dan Budha. Pada masa itu, masyarakat Jawa juga dikenal mengirimkan mantra dengan kepercayaan Kejawen.

Sebelum adanya Islam, masyarakat meyakini bahwa arwah seseorang akan tetap berada di sekitar rumah selama tujuh hari setelah meninggal, sebelum akhirnya berpindah. Pemahaman ini membuat masyarakat menyediakan ancak berisi makanan, minuman, serta bunga atau kemenyan di ruang tamu untuk arwah leluhur. Dalam kepercayaan tersebut, arwah kembali pada hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1.000 setelah meninggal.

Ketika Islam mulai diterima, tradisi ini tidak langsung menghilang. Doa-doa mantra digantikan oleh bacaan Surah Yasin dengan harapan agar doa tersebut dapat mencapai arwah keluarga yang telah meninggal. Selain itu, praktik memberikan sesaji digantikan oleh tahlilan pada hari pertama, ketiga, ketujuh, empat puluh, seratus, hingga seribu harian.

Proses akulturasi ini menunjukkan bahwa masyarakat Jawa mampu menerima dan mengintegrasikan tradisi baru, atau memodifikasi tradisi lama sesuai dengan ajaran Islam. Tradisi ini berkembang tanpa disadari, membentuk identitas baru dalam masyarakat Jawa. Identitas tersebut dijaga dan diwariskan sebagai bagian dari kearifan lokal, menjadi ciri khas budaya bagi masyarakat Islam Jawa.

Tradisi yasinan, sebuah praktik keagamaan dalam Islam, telah menjelma menjadi lebih dari sekadar ritual doa. Di tengah-tengah masyarakat Islam, khususnya di Jawa, Yasinan menjadi sebuah penguat hubungan sosial yang memperdalam ikatan antar individu dan membangun kebersamaan.

Yasinan sering kali menjadi momentum berkumpulnya masyarakat dalam kegiatan berjamaah. Doa bersama, pembacaan Surah Yasin, dan tahlilan tidak hanya menjadi aktifitas keagamaan, tetapi juga peluang untuk mempererat tali persaudaraan. Kehadiran tetangga, sahabat, dan keluarga di dalam majlis yasinan menciptakan suasana keakraban dan saling mendukung, menjadikan Yasinan bukan hanya sebagai peribadatan, tetapi juga bentuk solidaritas sosial.

Selain itu, spiritualitas bersama dalam yasinan menciptakan kesan keharmonisan di antara para jama’ah. Peningkatan keimanan yang dirasakan oleh setiap individu turut memberikan kontribusi pada atmosfer positif dalam jama’ah yasinan. Doa-doa yang diucapkan bersamaan mengarah pada keinginan yang serupa, yakni keberkahan dan keselamatan bagi semua. Ini menciptakan iklim emosional yang mendukung dan memelihara keharmonisan di dalam masyarakat.

Yasinan bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi juga simbol kebersamaan dalam menghadapi cobaan hidup. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap individu dihadapkan pada berbagai tantangan dan krisis. Dalam konteks ini, yasinan sering diadakan sebagai bentuk dukungan moral dan spiritual bagi mereka yang sedang mengalami kesulitan. Masyarakat hadir untuk saling menguatkan, memberikan semangat, dan bersama-sama memohon pertolongan dari Yang Maha Kuasa.

Tradisi yasinan juga menjadi wadah untuk mengenang dan menghormati leluhur yang telah meninggalkan dunia. Pada awalnya, yasinan digunakan sebagai doa untuk leluhur di tengah perubahan keyakinan masyarakat Jawa dari kepercayaan animisme dan dinamisme menuju ajaran Islam. Kini, yasinan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur tersebut, menggambarkan penghargaan dan cinta kasih terhadap generasi sebelumnya.

Dengan demikian, yasinan tidak hanya menghidupkan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga menjadi perekat sosial yang mempererat hubungan di antara anggotanya. Dalam setiap ayat yang dibaca, setiap doa yang diucapkan, terbentuklah keharmonisan yang menjadikan yasinan sebagai simbol kebersamaan dan solidaritas dalam masyarakat Islam.

Yasinan sebagai sebuah praktik keagamaan Islam, membawa berkah dalam bentuk yang lebih luas dari pada sekadar ritual doa. Pengalaman pribadi saya sebagai anggota jamaah yasinan, bersama dengan tetangga-tetangga non-Muslim yang dengan sukarela membantu mempersiapkan kegiatan, menciptakan landasan untuk memahami dan meningkatkan sikap toleransi di tengah-tengah keragaman agama.

Dalam setiap sesi yasinan, tetangga non-Muslim saya, turut ambil bagian membantu memasak dan menyiapkan keperluan lainnya. Keikutsertaan mereka bukan hanya sebagai bentuk keramahan tetapi juga menunjukkan keterbukaan untuk mendukung kegiatan keagamaan yang berbeda. Hal ini menegaskan bahwa yasinan tidak sekadar ritual eksklusif bagi umat Islam, melainkan juga sebagai panggilan bersama untuk menciptakan kebersamaan di tengah perbedaan keyakinan.

Keikutsertaan tetangga non-Muslim dalam yasinan sebagai tanda penghormatan terhadap tradisi lingkungan, mencerminkan bahwa keagamaan bukanlah penghalang untuk saling menghormati dan bekerjasama. Mereka memahami bahwa yasinan bukan hanya sekadar praktik keagamaan, tetapi juga ekspresi nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Kebersamaan dalam kegiatan ini membuktikan bahwa toleransi muncul dari pemahaman yang mendalam tentang perbedaan dan keinginan bersama untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.

Dalam konteks ini, yasinan menjadi wahana untuk membangun jembatan komunikasi antar agama. Setiap kali tetangga non-Muslim ikut serta, terjadi pertukaran budaya dan pemahaman yang melampaui batas agama. Mereka tidak hanya melibatkan diri dalam kegiatan fisik, tetapi juga dalam proses saling berbagi nilai-nilai kehidupan. Kebersamaan ini menjadi panggung untuk merayakan persatuan di tengah keberagaman dan melibatkan semua pihak dalam harmoni agama.

Melalui partisipasi tetangga non-Muslim dalam yasinan, terbentuklah kerangka yang mendukung kehidupan beragama yang inklusif dan mendalam. Sikap toleransi yang diperoleh melalui pengalaman ini melampaui batas keberagaman dan menciptakan ruang bagi kerjasama lintas agama. Dengan demikian, yasinan tidak hanya menjadi simbol keharmonisan dalam masyarakat Islam tetapi juga sebagai panggilan bersama untuk membangun masyarakat yang bersatu dalam keberagaman.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya