Menjadi Guru di Media Sosial

Pendidik
Menjadi Guru di Media Sosial 06/03/2021 413 view Pendidikan Maxmanroe.com

Pandemi Covid-19 turut mematikan ruang-ruang kelas yang selama ini selalu ramai dengan kesibukan aktivitas belajar. Interaksi antara guru dan siswa juga turut dibatasi sebagai bias dari protokol menjaga jarak fisik.

Dunia digital memainkan perannya sebagai penyelamat proses pembelajaran dimana media sosial menjelma menjadi ruang-ruang kelas. Nada dering pemberitahuan pertanda pesan masuk di setiap grup belajar mengganti nyaringnya bunyi lonceng sekolah. Jejeran kursi dan meja di ruang-ruang kelas juga bertransformasi dalam bentuk susunan nomor kontak dan alamat email siswa yang tersimpan di memori handphone guru. Lembar Kerja Siswa (LKS) yang selalu disajikan dalam rupa kertas HVS putih sebagai media pembelajaran sudah jarang ditemui. Sebagai gantinya, LKS dalam rupa aplikasi digital teranyar menjadi media baru dalam proses belajar mengajar daring.

Dunia pendidikan kelihatannya sudah mulai beradaptasi dan bersolek. Lalu, masih adakah ikatan batin antara guru dan siswa? Akankah hubungan itu juga ikut berubah? Pandemi ini memaksa siswa yang berada pada jenjang kelas I SD, kelas VII SMP, dan kelas X SMA tidak lagi merasakan keriuhan serta keseruan ospek yang menjadi bagian awal dari kegiatan siswa untuk mengenal guru. Selain itu, siswa pada jenjang-jenjang tersebut nyaris hanya satu semester saja bersua muka dengan guru. Akibatnya hubungan emosional untuk saling memotivasi hingga menjadi sumber inspirasi ataupun role model antara guru dan siswa menjadi terhambat. Kesempatan seorang guru untuk menjadi sosok yang digugu dan ditiru juga mengalami pergeseran.

Di era pandemi, ruang kelas tidak lagi memainkan perannya menjadi tempat untuk mewujudkan stigma guru sebagai seseorang yang digugu dan ditiru. Ruang kelas rupanya sudah bersalin rupa ke dunia digital. Media sosial menjadi ruang kelas yang mampu menjawab tantangan tersebut. Oleh Sebab itu, filosofi pendidikan usang oleh Ki Hajar Dewantara yaitu, "setiap rumah menjadi sekolah" kini menjadi sangat relevan.

Di rumah, hanya dengan sekali klik, siswa dapat bersua kapan saja dengan gurunya melalui media sosial. Sekolah pun bisa dilakukan kapan saja dengan mudah melalui grup-grup belajar. Demikian juga dengan aktivitas guru yang kapan saja bisa ditemui melalui penelusuran jejak-jejak digital.

Walaupun media sosial banyak menampilkan wajah-wajah kepalsuan, namun kecanggihan kecerdasan buatan (artificial intelligence) mampu mengarahkan dan mengenali wajah seorang siswa atau guru. Misalnya, ketika penulis melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan media Whatsapp, media sosial lainnya seperti Facebook dalam sekelebat mulai kebanjiran permintaan konfirmasi pertemanan dari siswa.

Artinya, artificial intelligence mampu mengenali wajah seorang guru dalam dunia digital. Sekalipun identitas yang ditampilkan pada profil memakai identitas orang lain. Fenomena ini menunjukkan bahwa pergeseran itu nyata. Untuk menjadi guru yang digugu dan ditiru, tidak lagi hanya berpatokan pada tampilan tutur kata dan tindakan di sekolah ataupun di kehidupan bermasyarakat, tetapi juga aktivitas guru di media sosial yang sekarang ini turut mengambil peran.

Tantangan untuk menjadi sosok guru yang digugu dan ditiru di media sosial memiliki pola yang berbeda dengan di lingkungan sekolah. Kode etik guru yang berlaku di sekolah yang bersifat mengikat turut serta berperan sebagai pembatas agar guru tidak keluar dari rel profesi dan moral. Semua tutur kata dan cara berpakaian mempunyai batasan yang diatur oleh kode etik. Kepala sekolah dan rekan-rekan guru berperan sebagai rekan seprofesi sekaligus penilai yang juga berada pada satu batasan untuk tunduk dan patuh pada kode etik yang sama.

Lingkungan sekolah memungkin semua rekan guru untuk saling menjaga satu dengan yang lainnya agar tetap berada dalam batasan sehingga muruah profesi guru kian terawat dan semakin elok dipandang siswa. Ekosistem pendidikan di sekolah yang demikian turut menjembatani terbentuknya guru sebagai role model. Panggilan Bapak Guru atau Ibu Guru juga semakin memperkokoh stigma profesi guru yaitu seseorang yang digugu dan ditiru.

Sedangkan lingkungan media sosial yang selama ini penuh dengan kemudahan karena kecanggihannya, ternyata menyimpan masalah. Sebab teknologi memunculkan paradoks. Semua orang dapat menjalin pertemanan dengan siapa saja dan secara bebas dapat saling mencela satu dengan yang lainnya. Tidak ada lagi batasan. Sebab teknologi tidak mengenal kode etik seperti halnya lingkungan sekolah.

Persoalannya adalah media sosial memiliki ingatan yang terlampau sangat kuat. Walau hanya dalam sedetik saja berlaku salah, memori media sosial sudah siap merekam dan mengingat hingga pada akhirnya nama baik dan profesi menjadi taruhan. Kasus yang menimpa anggota DPR Fadli Zon karena ikut memberikan like pada salah satu akun dewasa di Twitter menjadi pembelajaran bahwa media sosial menyimpan banyak kerikil tajam yang tidak terlihat.

Komunikasi di media sosial bersifat irreversible. Artinya, terlalu kuatnya memori media sosial membuat komunikasi tidak dapat ditarik kembali sehingga menyebabkan siapa saja bisa tersandung dan jatuh. Demikian pula seorang guru yang bisa tersandung kapan saja. Jika guru berlaku salah maka ada memori yang dapat merekam dan sudah ada siswa yang siap untuk melihat. Menggunakan media sosial dengan bijak adalah satu-satunya kunci agar muruah profesi itu tidak tercoreng.

Keluar dari lingkungan sekolah dan masuk ke dalam dunia digital kiranya tidak membuat guru lupa daratan. Meskipun tanpa kode etik, tetap ada beban dan tanggung jawab moral yang mengikat. Tidak adanya lagi rekan seprofesi atau kepala sekolah yang turut mengawasi setiap aktivitas di media sosial membuat beban dan tanggung jawab seutuhnya bergantung pada kesadaran guru akan profesinya.

Menjadi guru yang digugu dan ditiru di media sosial adalah komitmen untuk selalu menjaga aktivitas digital dari hal-hal yang menyimpang. Memberikan komentar, memberikan like atau membagikan sesuatu di media sosial haruslah tetap berada dalam koridor beban dan tanggung jawab moral. Walaupun tanpa tatap muka, citra guru yang digugu dan ditiru menjadi pertaruhan di media sosial.

Jika menginginkan citra guru itu tetap baik, maka kiranya aktivitas bermedia sosial perlu dijaga. Namun semuanya itu kembali bergantung pada pribadi masing-masing guru. Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya kutip sekali lagi filosofi pendidikan milik Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara yaitu "setiap rumah menjadi sekolah". Jika memang demikian, maka semua tempat adalah sekolah termasuk media sosial. Oleh karenan itu, guru tidaklah boleh lupa daratan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya