Politik Dinasti Itu Sudah Biasa!

Mahasiswa
Politik Dinasti Itu Sudah Biasa! 26/07/2020 577 view Opini Mingguan pixabay.com

Politik dinasti, nepotisme atau apapun itu sebutannya, merupakan suatu realita politik yang sudah biasa. Kenapa saya katakan begitu? Setiap hari tanpa disadari kita telah melakoni budaya itu. Tidak hanya dalam dunia politik saja. Ambillah contoh yang paling sering terjadi dalam dunia kerja. Barang siapa yang memiliki kedekatan keluarga atau suatu jaringan tertentu dalam suatu instansi maka dia akan berpotensi untuk bekerja di instansi tersebut. Masyarakat biasanya menyebut sebagai kesaktian “orang dalam”.

Fenomena orang dalam itulah yang dinamakan modal sosial. Suatu sumber daya tertentu yang dapat berupa dalam bentuk apapun seperti jaringan, norma atau nilai yang mana dapat memberi kebermanfaatan. Begitupun yang terjadi pada politik dinasti. Memiliki ikatan kekerabatan dengan pelaku politik merupakan suatu modal sosial juga. Meskipun kontestan politik tidak menggembor-gemborkan politik dinastinya, bahkan menganggap dirinya berkontestan atas dasar pengabdian masyarakat tapi realita modal sosial tidak dapat dipungkiri.

Politik dinasti dapat berpotensi menjadi suatu modal sosial yang menjanjikan bagi mereka yang menjadi kontestan politik dalam pesta demokrasi. Lebih dari itu, dapat menjadi alat politik strategis yang mampu menyokong kemenangan kontestan politik. Dia hadir dan akan eksis meskipun pelaku politik tidak menampilkannya pada publik.

Perlu diketahui juga dalam dinamika politik itu menggunakan logika “Rational Choice” atau Pilihan Rasional. Bagi James S. Coleman, seorang sosiolog asal Amerika bahwa Rational Choice merupakan suatu pilihan yang tidak menghiraukan mengenai apa yang akan menjadi preferensi maupun apa yang akan menjadi sumber daya pilihan yang akan dipilih individu, yang terpenting yakni aktualisasinya bahwa tindakan yang dilakukan berorientasi pada tercapainya tujuan yang relevan dengan pilihan aktor (Upe, 2010, p. 193). Secara sederhana Rational Choice merupakan pilihan yang tidak tahu menahu mengenai cara yang akan dilakukan, bahkan tidak terlalu menimbang baik buruk suatu cara, yang terpenting yakni tujuan dari individu tersebut tercapai.

Kunci dari model berfikir dari Rational Choice yakni konsepsi mengenai aktor dan sumber daya. Aktor menjadi pelaku dari tindakan Rational Choice. Sedangkan sumber daya merupakan suatu preferensi yang menarik perhatian bagi pelaku untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai. Tentunya juga sumber daya ini harus mampu dijangkau atau dikontrol oleh aktor. Melalui dua konsep tersebut maka aktor memilih sumber daya yang dimiliki dan terjangkau berdasarkan pertimbangan atas potensi tercapainya tujuan, sehingga tujuan yang ingin dicapai mampu diraih.

Sedikit brutal nampaknya, tapi begitulah realita politik. Apapun cara yang dilakukan, selagi mampu mencapai tujuan yang ingin diraih, kenapa tidak?. Ketika modal sosial dalam bentuk jaringan kekerabatan telah dimiliki, sekaligus juga menjadi sumber daya preferensi yang mampu dikuasai maka tinggal melakoni saja apa yang telah tersedia. Begitulah logika politik. Tindakan tersebut merupakan fenomena yang wajar jika menggunakan kacamata yang tepat. Hanya saja jika tidak menggunakan kacamata yang kurang tepat maka yang ada hanyalah kehebohan, cibir sana cibir sini.

Lantas kenapa fenomena politik dinasti menjadi begitu heboh di media publik? begitulah realitas media publik. Ia mampu memodifikasi dan menjadikan viral suatu fenomena tertentu. Framing media begitu amat rapi dan menarik. Terlebih bahan yang digodoknya saat ini merupakan politik dinasti orang yang lagi populer di negeri ini. Ditambah masyarakat di negeri ini merupakan masyarakat yang memiliki tipikal gampang gempar, suka heboh, ada berita sedikit panas semakin dipanasin.

Bukan berarti saya pro pada pihak tertentu. Bukan juga berlagak sok netral. Apalagi dianggap pro elit dan lain sebagainya. Semua itu hadir atas konstruksi masyarakat yang begitu liar. Lantas saya hanya memaparkan apa yang sedang terjadi saja. Hanya menampilkan apa yang terjadi saja. Berdasarkan bekal paradigma yang dimiliki, maka begitulah realitas yang saya pahami.

Machiavelli dianggap brutal dalam gagasannya, dianggap sadis dalam pemikirannya oleh publik. Konsep menghalalkan segala cara yang dianggap brutal, kata publik. Padahal Machiavelli hanya membongkar dinamika yang terjadi pada elit kuasa. Beliau hanya menyajikan apa yang terjadi dalam realita kekuasaan. Dalam artian beliau berusaha menyadarkan kepada publik apa yang sedang terjadi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya