Pendidikan Berbasiskan Panggung

Pendidikan Berbasiskan Panggung 06/03/2020 917 view Pendidikan Pxfuel.com

Pendidikan menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, dan perbuatan mendidik.

Namun jika dikaji secara lebih dalam, pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses untuk hidup, tetapi identik dengan kehidupan itu sendiri. Untuk itulah pendidikan boleh dikatakan sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia yang takkan pernah berkesudahan.

Dalam tataran teori, melalui pendidikan otak dan hati manusia terus diasah. Berbagai konsep humanis untuk memperkuat isi otak dan hati pun terus dikumandangkan. Yang pada saatnya teori yang diajarkan dan dipahami dapat menjadi dasar sekaligus penunjang bagi peserta didik khususnya dan manusia pada umumnya dalam berpikir dan berbicara secara kritis, argumentatif, inovatif, dan tersistematis.

Sejak lahir, Tuhan sudah menghadiakan bakat dan potensi dalam diri setiap pribadi. Itu berarti, baik guru maupun murid memiliki itu. Selanjutnya setiap bakat itu harus dikembangkan secara baik, sistematis, dan berkelanjutan.

Pada titik ini, kita pun harus mengakui bahwa wadah yang paling tepat untuk mengejawantahkan semua bakat itu adalah panggung. Hemat saya panggung memiliki kedahsyatan luar biasa. Melalui panggung, siswa yang sudah dibekali oleh berbagai ilmu dan teori akan dimampukan untuk tampil secara praksis. Sebab pendidikan yang adalah kehidupan itu sendiri haruslah adanya keseimbangan antara teori dan praksis.

Untuk membuktikan kedahsyatan panggung, maka berikut ini saya paparkan fakta-fakta humanis yang sudah terjadi di tempat saya mengabdi yakni SMA Katolik Regina Pacis Bajawa-Flores-NTT.

Pada 2018 silam, salah seorang siswa SMA Katolik Regina Pacis, atas nama Ronaldo Longa, sebagaimana sering dipanggil dengan sapaan populernya Aldo Longa, mengikuti audisi The Voice Indonesia.

Tahap demi tahap berhasil Ia lalui. Penampilan dan suara khasnya yang serak dan merdu berhasil menyedot perhatian publik tanah air. Akhirnya, seorang siswa tampan yang saat itu baru berumur 17 tahun itu, berhasil menjuarai kompetisi The Voice Indonesia 2018.

Keberhasilan Aldo menjadi pemenang The Voice Indonesia 2018 sekaligus mau melegitimasi bahwa SMA Katolik Regina Pacis yang berada di daerah terpencil pun mampu melahirkan artis nasional.

Mengapa Aldo bisa berhasil? Mari simak kisahnya. Sejak kecil Aldo sudah memiliki bakat untuk menyanyi. Pada saat mengenyam pendidikan menengah, Ia sudah sering tampil pada berbagai acara, baik di sekolah maupun dalam lingkungan masyarakat. Bakatnya ini semakin jelas dan matang ketika mulai memasuki pendidikan menengah atas di SMA Katolik Regina Pacis.

Selama sekolah, Aldo memilih kegiatan ekstrakurikuler akustik band dan kelompok paduan suara. Ia selalu aktif dalam setiap perlombaan antar kelas, terkhusus lomba solo vokal pada bulan bahasa maupun bulan Kitab Suci Nasional.

Pada tahun 2017, Aldo berhasil menjuarai FLS2N solo vokal tingkat Kabupaten, Provinsi NTT dan mewakili Provinsi ke tingkat nasional di Manado. Selanjutnya, pada Februari 2018 Aldo meraih juara satu dan Faustin Soro yang adalah juga siswi Regina Pacis meraih juara 2 solo vokal pop tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Indonesia Stars Ethnic Intermodel Management Jakarta.

Selain itu, bertolak dari pengalaman selama menjadi guru kurang lebih memasuki tahun ke-6, rata-rata siswa SMA Katolik Regina Pacis yang semasa SMA tekun menghidupi bakatnya, selalu tampil ketika lembaga memberi kepercayaan untuk berkompetisi baik ditingkat lokal maupun nasional, pada umumnya mereka berhasil dalam dunia kampus maupun dunia kerja. Ini bisa terjadi, lagi-lagi hanya karena lembaga pendidikan selalu menciptakan dan mencuri panggung dalam setiap event perlombaan.

Akhirnya, proses pendidikan dan perjuangan yang di alami para peserta didik secara umum dan oleh Aldo Longa secara khusus di atas, sebenarnya sedang dan mau melegitimasi bahwa pendidikan berbasiskan panggung adalah urgen.

Dan pada hemat saya, itulah pemahaman dan praktisi pendidikan yang sesungguhnya. Sebab, panggung selain sebagai wadah humanis untuk menerapkan teori yang diajarkan dikelas, namun lebih daripada itu, sebenarnya sedang melibatkan siswa untuk merasakan hidup yang sesungguhnya. Bahwa hidup haruslah adanya keterlibatan dan keseimbangan antara teori dan praktek.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan masa kini tak bisa lagi dipahami hanya sebatas untuk mencerdaskan otak semata. Namun lebih daripada itu, haruslah menjadi rahim yang mampu melahirkan generasi-generasi yang memiliki multi kecerdasan baik dari tataran teori maupun praksis.

Untuk mewujudkannya, maka penerapan pendidikan yang berbasiskan panggung segera dibudayakan dalam setiap lembaga pendidikan itu sendiri. Sebab pendidikan berbasiskan panggung adalah jawaban tepat atas ungkapan Mendikbud Nadiem Makariem yakni pendidikan yang merdeka. Mari mulai.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya