Pembelajaran Dari Hati Tangani Resesi

Pembelajaran Dari Hati Tangani Resesi 01/06/2021 327 view Lainnya sofiathefirst.fandom.com

Seperti biasa, sore ini saya menghabiskan waktu menemani anak, setelah seharian bekerja di luar rumah. Kali ini kami menonton serial film kartun Sofia The First. Film ini bercerita tentang seorang putri kerajaan dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai intrik dalam kerajaannya.

Kisah tentang Kerajaan Enchanchia, negeri yang digambarkan sebagai kerajaan yang dipenuhi kemakmuran. Raja yang bijaksana dan rakyat yang bahagia. Visualisasi penduduk dengan berbagai pekerjaan, menunjukkan kekayaan sumber daya kerajaan yang melimpah. Petani, penambang, pembuat roti, penjual air, pedagang kain aneka warna, tukang kayu, petugas kerajaan hingga penjahit, semua digambarkan dengan detail. Kehidupan sederhana namun terpancar kebahagiaan dari setiap keluarga-keluarga kecil tersebut.

Kali ini, serial Sofia menceritakan bagaimana sihir jahat tiba-tiba melingkupi kerajaan Enchanchia dan membuat setiap rakyatnya mengalami kegagalan. Panen gagal karena cuaca yang tiba-tiba tak menentu, nelayan yang tertelan gelombang besar yang datang tiba-tiba dan kapal yang menjadi karam sehingga para pedagang dan saudagar menderita kerugian besar. Gambaran kemakmuran di awal cerita tiba-tiba berubah menjadi malapetaka.

Tentu saja, karena itu hanyalah cerita, maka kalahnya sihir jahat menjadi akhir yang bahagia. Intrik yang terjadi selama mengatasi konflik tetap berpusaran pada kepiwaaian Sang Putri dalam menakhlukkan Sang Penyihir serta kelemahlembutannya dalam berkomunikasi dengan rakyatnya. Digambarkan Sofia yang mendatangi keluarga-keluarga yang berkesusahan dan mencari tahu kesulitan mereka. Terlihat penggambaran yang apik bagaimana skill komunikasi sang Putri agar rakyat mereka memahami hal apa yang sedang terjadi di negeri. Dia bahkan berjanji, bahwa semua akan baik-baik saja dan kerajaan akan menyelesaikannya.

Alih-alih rakyat menghujat dan menyalahkan penguasa, mereka bergotong royong memberi makan tetangganya dan saling menjaga satu sama lain. Saudagar yang masih menyimpan banyak kekayaan membeli banyak roti di toko yang sepi dan membagikannya pada mereka yang kelaparan. Terdengar obrolan diantara mereka “kita harus bisa bertahan dan bersabar, Raja akan menyelesaikan masalah ini. Putri Sofia sudah berjanji pada kita…”. Ungkapan kepercayaan dari rakyat kepada raja mereka.

Film telah usai, namun saya masih mengingat dan mengaitkannya dengan situasi yang saat ini Indonesia alami.

Indonesia yang orang bilang sebagai tanah surga, di mana tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Kolam susu yang digambarkan akan cukup hidup hanya dengan kail dan jala. Kaya dan makmur. Namun kini Covid-19 melanda ibarat sihir jahat yang tiba-tiba menghancurkan. Sama seperti rakyat di Anchenchia yang kehilangan panen akibat hal-hal di luar kendali mereka. Anchenchia yang diserang sihir jahat menggambarkan Indonesia yang dilanda pandemi. Bukan hanya Indonesia, bahkan mungkin seluruh dunia mengalami hal serupa.

Indonesia secara resmi memasuki resesi setelah secara berturut-turut Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa Ekonomi Indonesia turun. Ekonomi turun mengandung pengertian capaian perekonomian yang bahkan tidak mencapai hasil seperti tahun sebelumnya. Jika di tahun 2019, PDB Indonesia mencapai 15.832 triliun rupiah, di tahun 2020 PDB Indonesia hanya berada di kisaran 14.873 triliun saja. Jika dilihat dari capaian menurut harga konstan, di mana pengaruh pergerakan harga diabaikan dan menggunakan tahun dasar tahun 2010, Ekonomi Indonesia mengalami penurunan 2,07 persen.

Hampir semua lapangan usaha mengalami penurunan hasil. Hampir semua lapangan usaha terkontraksi dan tidak bertumbuh. Hanya beberapa lapangan usaha yang sanggup bertahan dari pandemi. Jasa Kesehatan serta Informasi dan Komunikasi menjadi lapangan usaha yang “diuntungkan” dengan situasi pandemi. Mengakibatkan kedua lapangan usaha tersebut masih tumbuh positif.

Dampak dari resesi bukan hanya pada nilai PDB yang rendah. Muara dari penurunan di sektor ekonomi tentunya adalah kemiskinan. Angka kemiskinan naik 10,19 persen di tahun 2020. Belum lagi pengangguran yang juga mengalami peningkatan di sepanjang tahun 2020.

Bahkan setelah satu tahun pandemi berlalu, belum ada tanda-tanda Indonesia bebas dari pandemi. Kasus baru masih muncul di setiap harinya, bahkan cenderung bertambah seiring berjalannya waktu. Kebijakan yang digulirkan seolah selalu “dilawan” hingga pada akhirnya padam dan tidak menghasilkan peran apapun. Vaksinasi, aneka program subsidi hingga larangan mudik tidak serta merta memulihkan kondisi yang ada.

Mungkin benar, Anchenchia hanya dongeng, akhir cerita dibuat indah untuk menghibur. Sebagaimana aturan tidak tertulis yang ada. Akhir sebuah dongeng haruslah hidup bahagia selamanya. Namun adalah keniscayaan untuk Indonesia mampu bertahan dan bangkit keluar dari jurang resesi.

Mungkin kerendahan hati Raja Roland, ketulusan hati Putri Sofia, dan tingkat kepercayaan rakyat Anchenchia kepada pemimpinnya bisa menjadi pembelajaran bagi kita semua. Pembelajaran untuk bisa bertahan dan menang melawan sihir jahat, melawan pandemi.

Mungkin tidak sesederhana itu, tapi segala hal yang kompleks berawal dari hal yang sederhana bukan?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya