Mewaspadai Kejahatan Online Saat Pembelajaran Daring

Guru di Kota Batu
Mewaspadai Kejahatan Online Saat Pembelajaran Daring 19/03/2021 150 view Pendidikan reportpenipuan.com

Pandemi Coronavirus Disease (Covid 19) sampai saat ini masih belum berakhir, perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro di beberapa daerah masih terus dilakukan untuk menekan penyebaran Covid 19. Hal ini pada akhirnya juga berdampak pada kebijakan pemerintah daerah untuk memperpanjang masa belajar daring (online). Dengan semakin panjangnya durasi belajar secara online, maka intensitas seorang anak untuk mengoperasikan smartphone juga akan semakin tinggi. Sehingga potensi anak untuk melakukan atau mendapatkan kejahatan secara online juga semakin besar.

Dikatakan sebagai kejahatan online karena dilakukan dengan menggunakan perangkat teknologi informasi dan internet sebagai sarananya. Contoh kejahatan online yang diterima atau dilakukan oleh anak antara lain, meneror atau membully melalui status atau group di media sosial, game online yang bermuatan kekerasan, pelecehan melalui chatting yang berbau ajakan untuk melakukan aktivitas seksual, berbagi konten pornografi, penyebaran berita hoaks, melakukan ujaran kebencian dan perilaku menyimpang lainnya.

Data dari Organisation of Economic Co-operation and Development (OECD) Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2018 mencatat sebanyak 41 persen siswa Indonesia pernah mengalami bullying atau perundungan. Prosentase itu berada di atas rata-rata negara OECD yang prosentasenya sebesar 23 persen. Kemudian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga mencatat total pengaduan (korban dan pelaku) kejahatan online dari tahun 2017 sampai 2019 sebanyak 1.940 anak.

Berangkat dari data yang dikeluarkan oleh PISA dan KPAI tersebut, maka diperlukan tindakan bersama dalam mengatasi dan mencegah terjadinya kejahatan online yang dilakukan oleh anak-anak. Apalagi dengan kondisi belajar secara online seperti saat ini, membuat intensitas anak dalam menggunakan smartphone dan media sosial akan cukup tinggi. Sehingga bukan tidak mungkin angka kasus kejahatan online baik yang dilakukan maupun dialami oleh anak, akan terjadi peningkatan cukup tajam jika tidak segera diatasi dengan serius.

Pemahaman dan Pengawasan Orang Tua

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa bunuh diri menduduki penyebab kematian nomor dua di dunia pada remaja berusia 15 sampai 29 tahun setelah kecelakaan. Sebagai salah satu contoh yang baru saja terjadi di Indonesia pada pertengahan Januari tahun 2020 adalah kasus bunuh diri yang dilakukan oleh murid salah satu SMP di Jakarta yang diduga sebagai korban perundungan dari salah satu temannya. Dugaan itu muncul karena ada bukti tangkapan layar percakapan whatsapp yang beredar di media sosial.

Melihat data dari WHO dan kasus yang baru saja terjadi, maka penting kiranya pemahaman orang tua terhadap dampak dari kejahatan online tersebut. Perlu diketahui bahwa dampak yang ditimbulkan dari kejahatan online dapat mempengaruhi anak baik secara mental, emosional, bahkan fisik. Secara mental menyebabkan anak merasa jengkel, marah dan malu, secara emosional menyebabkan anak menjadi kehilangan keinginan dan semangat, dan secara fisik bisa menyebabkan sakit kepala sebagai akibat depresi.

Untuk meminimalisir terjadinya kejahatan online saat proses belajar di rumah yang cukup panjang ini, maka yang paling mendasar adalah antara ayah dan ibu harus memiliki paradigma yang sama dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Disini pembagian peran antara ayah dan ibu harus berjalan dengan baik. Orang tua jangan bosan-bosan bertanya dan mendengar tentang apa yang anak mereka lakukan seharian. Saat ini seorang anak lebih senang diajak berpikir untuk menyelesaikan persoalan ketimbang menerima perintah yang mengarah pada penekanan. Sehingga jalur demokratis menjadi penting untuk mengetahui sekaligus menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada sang anak.

Selain itu dalam lingkup keluarga sosok ayah haruslah menunjukkan seorang pemimpin yang memiliki wibawa bagi anaknya, sedangkan ibu adalah sosok teman dekat sang anak yang siap menerima “curhat” kapan dan dimanapun tempatnya. Kolaborasi kedua peran ini sangat penting sebagai bentuk kontrol terhadap perilaku kehidupan anak sehari-hari.

Optimalisasi Peran Guru Saat Belajar Dari Rumah

Seorang guru harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang psikologi perkembangan siswanya. Jika guru memiliki pemahaman yang baik terhadap psikologi perkembangan siswanya, maka terwujudnya keberhasilan proses dalam mendidik sangatlah besar. Pada proses pembelajaran secara online seperti saat ini maka penekanan pada proses sosio-emosional sangat diutamakan. Penekanan proses tersebut bisa melalui pembelajaran yang memberikan perasaan gembira pada anak. Jika diberikan tugas maka berilah materi yang ringan tapi syarat makna. Pembelajaran berbasis masalah nampaknya bisa digunakan sebagai salah satu metode pembelajaran yang dapat menekan potensi kejahatan online yang akan dilakukan oleh anak.

Misalnya seorang guru ingin memberikan materi tentang muatan hukum tindak pidana kekerasan online, maka jangan diberikan tugas membaca atau menulis pasal-pasal dalam kitab undang-undang hukum pidana, karena jelas tidak akan bermakna pada anak. Tapi jika muatan hukum diberikan melalui gambar-gambar, atau video yang berkaitan dengan materi muatan hukum tersebut, kemudian mereka diminta untuk mengekpresikan dengan karya yang sesuai dengan keinginan mereka, maka saya yakin akan terjadi proses pembelajaran yang bermakna. Intinya pembelajaran secara online seperti sekarang ini lebih ditekankan pada konteks bukan sekedar teks.

Selanjutnya terbentuknya sinergisitas antara guru dengan orang tua juga menjadi poin yang sangat penting dalam meminimalasisir terjadinya kejahatan online selama pembelajaran jarak jauh ini. Komunikasi secara intens antara orang tua dengan guru sangat diperlukan guna mengevaluasi perkembangan proses pendidikan selama di rumah. Guru harus aktif mencari tahu proses kegiatan pembelajaran anak di rumah, orang tua melaporkan secara jujur kepada guru tentang proses pembelajaran yang dilakukan anak di rumah. Keterbukaan dan kejujuran sangat diperlukan pada kondisi seperti saat ini. Orang tua jangan melindungi atau menutupi apa yang sebenarnya terjadi saat anak belajar di rumah. Karena jika itu terjadi maka tujuan pendidikan yang diinginkan orang tua terhadap anaknya tidak pernah terwujud. Intinya evaluasi pembelajaran yang otentik menjadi kunci terhadap kualitas proses pendidikan yang telah dilakukan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya