Seandainya Saya Wartawan Tempo

Dosen Universitas Bung Karno
Seandainya Saya Wartawan Tempo 08/10/2023 571 view Pendidikan Desain Sendiri

Coba deh baca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”. Begitu kata seorang kawan, menganjurkan. Kala itu, tahun 2013, tahun ketiga saya aktif jadi wartawan di sebuah majalah kecil di Jakarta Barat.

Namun, karena tak punya cukup uang untuk beli buku itu, juga tak pernah saya jumpai, jadilah saya belum dapat kesempatan untuk membacanya.

Baru sekarang, saat saya sudah tidak lagi jadi wartawan aktif, saya dipertemukan dengan buku anjuran kawan, sepuluh tahun silam. Buku itu ada di meja seorang dosen senior di kampus. Si senior tak ada saat saya menengok sejumlah tumpukan buku di mejanya. Dan “Seandainya Saya Wartawan Tempo” ada di antara tumpukan buku itu.

Saya mengambilnya. Lalu saya kirim pesan kepada si senior, izin untuk meminjam dan membaca. Sebetulnya sih waktu mengirim pesan, saya sudah di jalan pulang. Jadi kalau pun ia tidak mengizinkan, saya sudah terlanjur mambawanya.

Seminggu setelah buku itu di tangan, saya tiba di halaman terakhir. Saya mambacanya saat pagi sebelum ke kampus, di kereta dalam perjalanan, atau saat jeda mengajar. Saya niatkan betul untuk menyelesaikan buku ini secepatnya. Itu karena saya menikmati betul buku terbitan tahun 90-an ini.

Ya. Buku ini memang sudah lama beredar. Dan, hampir setiap wartawan tulis yang mulai karir di tahun 90-an, menjadikan buku ini sebagai bacaan wajib. Referensi buat mereka yang baru mulai mau menapaki jalan panjang menjadi wartawan.

Panduan Menulis

Setelah membaca buku ini, apa pendapat saya? Sebagai pembaca aktif majalah Tempo lebih dari delapan tahun, kalimat dan diksi yang ada di buku ini langsung saya kenali. Ya, ini memang ciri khas dan gaya menulis Tempo. Kalimatnya saya kenali betul. Pilihan diksinya tidak asing. Sangat khas.

Perihal isi, buku ini tak banyak bercerita tentang impian seorang yang ingin jadi wartawan Tempo. Atau, bukan juga berisi curhatan seseorang karena gagal gabung jadi awak redaksi Tempo. Isinya lebih kepada panduan menulis. Utamanya menulis berita feature.

Teknik menulis feature dijelaskan panjang lebar. Pun ada contoh yang menyertai. Entah feature gaya biasa atau wartawan pemula maupun feature ala Tempo. Dan itu membuat saya sangat menikmati isi dalam buku ini.

Delapan tahun saya jadi pembaca setia majalah Tempo. Beberapa rubrik punya tempat khusus di hati. Salah satunya adalah rubrik Catatan Pinggir. Rubrik ini diasuh oleh wartawan senior, juga salah satu sastrawan ternama Indonesia, Goenawan Muhammad. Saya menikmati betul tulisan dia.

Selain itu, salah satu tulisan favorit saya di majalah yang pernah dibredel di era Orde Baru ini adalah liputan investigatif. Tiap kali membaca liputan investigatif Tempo, serasa waktu berjalan terlalu cepat dari biasanya. Dan saya lupa akan yang lain. Selain terus bergerak dari halaman satu ke halaman lain.

Saya ingat, suatu hari di kantor, saya membaca liputan investigatif Tempo soal kasus Bank Century. Saya tersadar hari sudah sore ketika saya tiba di halaman terakhir. Artinya, sejak tiba di kantor menjelang sing, saya tidak mengerjakan apa pun selain membaca liputan itu.

Dan kejadian seperti ini berulang kalau saya sudah baca Tempo. Saya jatuh cinta betul dengan tulisan-tulisan di Tempo. Sihir yang sama kembali saya cicipi saat membaca buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo”.

Tantangan ke Depan

Semester Ganjil 2023 ini, di Universitas Bung Karno, kebetulan saya mengasuh dua kelas terkait jurnalistik, yakni Etika Jurnalistik dan Penulisan Karya Jurnalistik. Dua mata kuliah ini diambil oleh para mahasiswa yang pilih konsentrasi Jurnalistik.

Di kelas, saya anjurkan kepada para mahasiswa untuk membaca buku ini. Seandainya Saya Wartawan Tempo. Saya minta mereka untuk membacanya dengan cermat. Siapa tahu mereka pun merasakan sihir yang sama, seperti yang saya alami sepekan terakhir. Mungkin, mereka tidak lagi tertarik membaca majalah Tempo. Tapi, melalui buku ini, saya yakin, daya tarik itu tetap ada dan hidup dalam tiap halamannya.

Kepada mereka juga saya berpesan untuk tidak hanya bercita-cita menjadi wartawan yang biasa-biasa saja. Jadilah wartawan yang punya karakter. Jadilan penulis berita yang bermimpi, sepuluh tahun yang akan datang tulisannya akan menyihir pembacanya. Tulisan mereka diminati. Nama mereka disebut, sekaligus dikagumi.

Hari ini, terutama setelah menjamurnya media online, juga muncul jurnalisme warga, pekerjaan wartawan sepertinya tak lagi istimewa. Yang dikerjakan para wartawan, bisa juga dikerjakan masyarakat biasa. Yang diliput anak S satu, disiarkan langsung oleh tukang sayur depan gang.

Lantas apa yang akan kamu banggakan? Yang akan membuatmu bangga adalah karakter tulisanmu. Dan pembacamu jatuh cinta kepadanya. Seperti saya, jatuh cinta pada tulisan di majalah Tempo. Seperti saya yang terpukau di hadapan buku ini: Seandainya Saya Wartawan Tempo.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya