Menghadirkan Ajaran Ki Hajar Dewantara Dalam Khasanah Pendidikan Kontemporer

Pegiat HAM
Menghadirkan Ajaran Ki Hajar Dewantara Dalam Khasanah Pendidikan Kontemporer 01/12/2020 900 view Pendidikan Koleksi pribadi

Di masa pandemi Covid-19, dunia pendidikan kita menjalani metode yang berbeda, dari usia PAUD hingga perguruan tinggi menjalankan proses belajar dari rumah melalui jaringan internet. Para pengajar pun menyesuaikan dengan memformulasikan bahan ajar melalui aplikasi yang tersedia.

Belajar dari rumah tidak mengurangi peran penting seorang guru. Pada tanggal 25 November kemarin Kita baru saja memperingati Hari Guru Nasional. Peringatan ini mengingatkan kembali pada sosok bapak pendidikan kita, seorang tokoh nasional, Ki Hajar Dewantara dengan ajarannya yaitu, “Ing Ngarso Sun Tulodho Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani.” Artinya, ketika berada di depan untuk mengajar, ia mampu memancarkan aura kepemimpinan yang memberi suri tauladan. Membagikan keutamaan diri yang bersumber dari pengolahan dan refleksi terus menerus. Pada saatnya berada di tengah-tengah orang lain, ia mesti mampu menggelorakan semangat demi perubahan yang lebih baik. Ketika berada di belakang sebagai pengayom/penasehat, ia mampu menggerakkan orang-orang di depannya supaya kehendak tetap menggelora dan keteladanan tetap berjalan.

Ajaran luhur yang mudah diucapkan atau dituliskan namun berat dalam melakukannya. Ketika berada di depan sebagai pemimpin, kita diharapkan untuk tidak bersikap egois dan mementingkan diri sendiri, tidak menonjolkan diri agar dipuji, mampu bersikap adil dan bijaksana baik dalam tutur maupun tingkah laku sementara kecenderungan kita adalah bersikap arogan dan elitis, menonjolkan ego pribadi dan suka memerintah. Ketika berada di tengah tidak menyimpan dendam dan iri hati, ketika berada di belakang tetap bekerja dengan penuh semangat dan kritis terhadap kebijakan pimpinan. Bukan sekedar patuh dan kesetiaan yang mem-babi buta.

Ajaran ini menjadi penuntun dalam kehidupan sehari-hari baik bagi diri sendiri, bermasyarakat maupun bernegara. Walaupun ajaran ini lebih sering dikaitkan dengan dunia pendidikan namun seyogyanya berlaku bagi setiap orang, baik dalam lingkungan kecil keluarga maupun lebih luas lagi. Misalnya sebagai orangtua, ketua RT atau pimpinan sebuah organisasi. Pun sebagai warga desa, kota, anggota partai politik atau organisasi keagamaan.

Kata pengajar pada ajaran pertama tidak hanya mengacu pada guru, terutama apabila kita meyakini bahwa setiap orang adalah guru dan betapa kita selalu bisa belajar dari alam. John Dewey mengatakan, "Jika kita bersedia untuk memahami pendidikan sebagai sebuah proses pembentukan pendapat-pendapat mendasar, bersifat intelektual dan emosional, tentang alam serta tentang sesama manusia, maka filisofi dapat dirumuskan sebagai teori umum tentang pendidikan. Karenanya pendidikan tidak disubordinasi oleh apapun juga untuk menyelamatkan lebih banyak lagi pendidikan".

Baik ajaran Ki Hajar Dewantara maupun pendapat John Dewey, mengilhami kita untuk memikirkan kembali tutur, sikap dan cara berpikir kita. Menjadi refleksi untuk apa yang sedang dilakukan, tujuan dari tindakan kita serta bagaimana metode dan langkah yang tepat dari tindakan tersebut. Hal ini sangat mungkin berkaitan dengan pendidikan. Bagaimana kita menempatkan pendidikan tidak sebatas pada kegiatan belajar mengajar saja namun jauh lebih mendalam, untuk memahami jati diri kita dan keberadaan manusia lain serta kelangsungan kehidupan.

Refleksi kita yang berasal dari gagasan mengenai kehidupan termasuk didalamnya adalah tentang pendidikan, kadang mengalami inkonsistensi. Bahkan para filosof pun mengalami masa inkonsistensi atau ketidaktetapan. Hal ini sangat mungkin terjadi karena dengan pertambahan usia, pengetahuan, bertambah juga pengalaman. Selain itu perubahan dalam situasi sosial politik juga sangat mungkin mempengaruhi pandangan seseorang. Kita bisa saja memiliki gagasan ideal mengenai pendidikan, tentang bagaimana seharusnya pendidikan itu dalam masyarakat yang berbeda, yang dibangun menurut jalur-jalur filosofi yang tepat.

Namun kemudian pada intinya gagasan tersebut harus dibangun kembali menjadi sebuah pola praktis sebagai strategi yang dapat disesuaikan di bawah kondisi yang ada. Misalnya di daerah terpencil, pada situasi bencana atau corak hidup masyarakat di daerah pesisir, pedesaan, kota Industri dan lain-lain.
Ada saling keterkaitan antara gagasan mengenai pendidikan dengan perubahan dalam pola hidup masyarakat. Termasuk pandangan mengenai sekolah dan tenaga pengajarnya. Dalam masyarakat modern saat ini, lembaga pendidikan formal makin beragam. Penyelenggara pendidikan pun tidak hanya berasal dari Pemerintah. Ada Lembaga kursus, sekolah negri dan swasta, PKBM, akademi, universitas negri, universitas swasta dan universitas terbuka. Kesemuanya baik dan membantu memberi pilihan sesuai minat perorangan.

Ketika pendidikan masih dipandang sebagai pusat perubahan yang konstruktif, penting bagi semua jajaran pendidikan untuk berpikir mendalam dan secara serius mengenai tujuan serta konsekuensi pendidikan. Bukan hanya berorientasi pada menonjolkan pola pikir sendiri dan keuntungan finansial, namun juga seperti apa yang telah diamanatkan oleh Bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantara. Ajaran tersebut dapat diterapkan baik dari segi tehnik pendidikan, isi pengajaran dan pengorganisasian pendidikan sehingga tidak terjebak pada rutinitas dan kesepakatan kolektif mengenai infrastruktur sekolah termasuk seragam dan ijasah misalnya. Tentu saja strategi pendidikan dapat dirancang berdasarkan kondisi yang ada namun tidak beranjak dari filosofi dan tujuan pendidikan tersebut.

Cara menerapkan filosofi pendidikan dapat bersifat fleksibel tergantung pada kondisi fisik dan karakter yang berbeda seperti lokasi, kebiasaan, cara pandang, serapan pengetahuan, ekonomi dan sebagainya. Fleksibilitas juga menyangkut ketersediaan fasilitas pendukung seperti bangunan, tenaga pengajar dan tekhnologi. Sepanjang tidak melenceng dari filosofi pendidikan dan terjebak pada persoalan tehnis. Keinginan untuk menonjolkan identitas dapat membuat kita melupakan apa arti pendidikan dan bagaimana seharusnya pendidikan dijalankan.

Belajar dari kasus Plato dan Rousseau yang mengalami inkonsistensi dalam filosofinya, William F. O'Neil dalam bukunya mengenai ideologi-ideologi pendidikan mengajukan tawaran. Jika kita menciptakan sebuah masyarakat yang sempurna maka kita harus mendidik dalam cara tertentu. Akan tetapi, dalam budaya kita saat ini, pendidikan yang sempurna adalah mustahil, karenanya kita harus menyesuaikan praktik-praktik yang ada untuk membuatnya jadi sebaik mungkin dalam keadaan yang ada sekarang.

Bersikap praktis merupakan kompromi antara gagasan ideal atau sempurna dengan kondisi yang tersaji. Filosofi mungkin dapat mempengaruhi cara seseorang menafsirkan atau mengurai kondisinya namun filosofi tidak selalu memainkan peran dalam menciptakan keadaan dimana seseorang dapat menafsirkan atau memulai keadaannya. Namun cara pandang seseorang penting untuk menentukan apa yang akan dilakukan. Cara pandang ini dapat dipengaruhi oleh pengetahuan akan situasi, lingkungan sosial, keyakinan keagamaan dan prasarana fisik.

Sekali lagi, semua strategi praktis sekalipun tidak akan mengurangi filosofi yang menghargai kebebasan individu dan kemanusiaan baik saat di depan, tengah maupun belakang menuju Indonesia di masa depan serta cita-cita revolusi 4.0.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya