Menyongsong Abad Global Peradaban Green Muslim Activist

Pembelajar Kajian Ilmu Politik Pemerintahan
Menyongsong Abad Global  Peradaban Green Muslim Activist 26/03/2022 185 view Agama Dokumen pribadi

Salah satu agamawan terkenal dengan berbagai karya monumentalnya yang cukup banyak menginspirasi kita semua, yakni Seyyed Hossein Nasr telah berhasil membuka mata kita semua bahwa krisis lingkungan yang semakin hari semakin masif adalah buah dari krisis spiritualitas. Pada konteks ini Hossein Nasr mencoba untuk menunjukkan bahwa sebenarnya krisis lingkungan bisa terjadi karena di saat yang bersamaan terjadi krisis spiritual. Artinya krisis lingkungan tidak akan terjadi kalau tidak terjadi krisis spriritualitas. Ada korelasi yang cukup kuat bagaimana kedekatan agama (teologi) dengan garis krisis lingkungan.

Apa yang disampaikan Nasr tersebut telah terbukti dan tidak terbantahkan bagaimana krisis lingkungan itu terjadi di tangan orang-orang yang beragama. Situasi tersebut menjadi sangat kontras bagaimana bisa krisis lingkungan ini terjadi bahkan dilakukan oleh orang-orang yang beragama sementara secara pesan teologis tidak dibenarkan lingkungan itu dirusak, dieksploitatif, bahkan dijarah tanpa rasionalitas yang tidak terlalu mendesak.

Kita semua tentu meyakini tidak ada satu agama yang ada di muka bumi ini yang memberikan pesan teologis untuk merusak dan menghancurkan lingkungan tanpa alasan apapun. Walaupun ada dugaan misalnya pandangan antroposentrisme yang lahir di teologi Kristen yang mencoba menempatkan manusia sebagai makrokosmis dari alam, namun faktanya dalam perjalanan waktu dalil itu melemah, dan bahkan dalam berbagai acara keagamaan pimpinan gereja seperti Paus Fransiskus dalam beberapa kali khotbah juga telah mengintruksikan kepada jamaahnya untuk cinta kasih dan peduli terhadap lingkungan. Pada tahapan inilah sebetulnya mulai jelas bahwa setiap agama telah memberikan pesan teologis dan posisi yang sangat jelas terhadap isu-isu yang berkaitan dengan lingkungan hidup.

Sesuai dengan dinamika perjalanan waktu, kesadaran yang mencoba memberikan ruang ekologis dalam kaca mata agama mulai tumbuh dan berkembang dengan sangat baik pada beberapa tahun terakhir ini. Munculnya berbagai kelompok-kelompok aktivis dalam masing-masing keagamaan yang mencoba menjadi garda terdepan dalam mengawal isu kerusakan ekologis menjadi batu loncatan yang sangat besar bagi keberlanjutan. Misalnya saja dari berbagai penelitian yang dilakukan oleh orang Jepang yakni Takenobu Aoki tahun 2016, dia melihat di Indonesia ini ada dua kekuatan besar yang lahir dan sangat prospektif dalam mengawal isu-isu ini. Kedua kekuatan besar yang dimaksud oleh Takenobu Aoki ini adalah Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Bahkan tidak hanya Takenobu saja, namun ada beberapa peneliti asing yang sebetulnya telah melihat dan mengakui bahwa hanya di Indonesialah yang memiliki dua kekuatan ormas besar yang menjadi tandingan negara. Oleh karenanya, atas dasar inilah aktivis Muslim hijau dalam menyongsong waktu-waktu berikutnya pada konteks Indonesia menjadi sangat mendesak dibutuhkan.

Keberadaan kelompok-kelompok aktivis Muslim hijau semestinya harus dibangun dari sutau kesadaran kolektif bahwa manusia beragama hari ini tidak boleh berpangku tangan dalam menghadapi realitas. Kita semua menghadapi ancaman yang sama yakni krisis lingkungan hidup. Walaupun secara historis ada kontribusi kita atas kerusakan ekologis sebagai manusia beragama, maka bukan suatu keterlambatan bagi kita untuk memulihkan kembali terhadap apa yang terjadi.

Kita harus berani menjadi pandu kepeloporan sekaligus mampu memberikan keteladanan bagi dunia global bahwa agama kita bukan agama yang diam ketika melihat krisis, namun agama yang mampu menjadi solusi keluar dari krisis. Itulah manifestasi keagamaan yang tidak hanya terjebak pada ibadah-ibadah mahdah, namun harus teraktualisasi sebagai amal dalam kehidupan kita sehingga ada proses pembaharuan cara pandang terhadap cara keberagamaan kita.

Meminjam istilah yang pernah disampaikan oleh seorang sejarawan sekaligus budayawan terkenal yakni Kuntowijoyo dalam bukunya yang berjudul Muslim Tanpa Masjid dengan istilah demistifikasi Islam. Apalagi Kuntowijoyo jauh-jauh hari telah memperingatkan kita semua sebagai umat Islam bahwa isu lingkungan seharusnya menjadi agenda umat Islam. Berkaca dalam konteks ini ada semacam keterlambatan sebagai refleksi kita. Di samping itu perlunya membangun pandangan global umat Islam atas Green Muslim Activist adalah aktualisasi keberagamaan kita.

Dunia ini sudah terlalu lama kering dan rapuh dipenuhi oleh ambisi-ambisi pertumbuhan ekonomi sebagai panglima kuasa. Sudah saatnya hadirnya green muslim activist memberikan siraman kerohanian agar dunia ini hidup secara lestari dan tidak terlalu lama kering. Umat Islam tentu harus bangkit dan menyadari bahwa di dalam jati dirinya telah tersimpan modalitas yang cukup besar. Modal itu tidak hanya secara kuantitatif semata, namun secara kualitas kita sebagai umat Islam juga cukup melimpah. Oleh karena itu pekerjaan besar yang mulai kita aktualisasikan adalah bagaimana membangun peradaban Islam ini yang menjadi rujukan dunia-dunia global khususnya dalam gerakan-gerakan manifest untuk membentengi diri dari persinggungan-persinggungan krisis ekologi hari ini secara sistematis, menyeluruh, dan komprehensif.

Sudah sepatutnya wajah Islam dimanifestasikan dalam gerakan-gerakan amal yang pro terhadap perjuangan advokasi kerusakan lingkungan hidup. Pada kancah dunia sekalipun Islam dituntut tampil dan hadir sebagai suluh kebangsaan yang mampu memberikan ragam alternatif solusi dari apa yang hari ini sedang kita hadapi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya