Mengembalikan Etika Komunikasi di Media Sosial

Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang
Mengembalikan Etika Komunikasi di Media Sosial 16/09/2021 69 view Budaya blog.pulse-advertising.com

Komunikasi berkembang pesat dalam dunia digital dewasa ini. Perkembangan yang pesat terjadi karena pandemi Covid-19 yang akhir-akhir ini melanda dunia. Pandemi membawa perubahan tatanan sistem komunikasi yang awalnya berlangsung secara tatap muka menjadi komunikasi secara daring.

Perubahan tatanan sistem komunikasi menciptakan suatu media komunikasi berbasis jaringan yang disebut sebagai media sosial. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia berkisar 150 juta jiwa berdasarkan data Kominfo, pada tahun 2019. Data itu menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia mayoritas menggunakan media sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Kehadiran media sosial menimbulkan pro dan kontra bagi proses komunikasi antar personal saat ini. Media sosial menjadi alat untuk mempermudah orang dalam menjalin komunikasi. Akan tetapi, media sosial juga menghadirkan sikap dan kebiasaan berkomunikasi yang kurang sehat. Kebiasaan yang kurang sehat menurunkan etika dalam berkomunikasi.

Setiap orang dapat menyampaikan segala gagasannya dengan bebas dalam media sosial. Sebab, mereka tidak perlu mengomunikasikan gagasannya sesuai dengan kaidah kebahasaan yang berlaku. Dengan kata lain, komunikasi yang terjadi di dalam media sosial bersifat informal.

Bila kebebasan tersebut tidak dibatasi, seseorang akan memiliki kecenderungan untuk berkomunikasi secara negatif dan mengabaikan etika komunikasi. Dua contoh kecenderungan negatif yang marak terjadi saat ini adalah cyberbullying dan ujaran kebencian.

Kecenderungan negatif terjadi karena seseorang tersebut tidak memilah gagasan sehingga berdampak negatif bagi pihak lain. Sedangkan etika komunikasi mengutamakan penghargaan pada lawan bicara. Cyberbullying dan ujaran kebencian merupakan tindakan yang memojokkan lawan bicara ataupun pihak tertentu dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, cyberbullying dan ujaran kebencian memiliki perbedaan yang jauh dengan kaidah etika berkomunikasi yang ideal.

Cyberbullying adalah bentuk kejahatan fisik terhadap seseorang dengan memanfaatkan teknologi digital. Teknologi digital yang seringkali dipakai untuk melakukan cyberbullying adalah media sosial. Survei yang dilakukan oleh lembaga donasi anti-bullying, Ditch The Label menyatakan bahwa 42% dari 10.020 remaja dari Inggris mengakui pernah mengalami cyberbullying di Instagram, belum termasuk media sosial yang lainnya. Data tersebut menjadi bukti bahwa etika berkomunikasi dalam media sosial mengalami penurunan yang begitu pesat dengan kehadiran cyberbullying.

Bentuk cyberbullying sangat beragam. Secara umum, bentuk cyberbullying dibagi menjadi empat jenis (Fasya Syifa Mutma, September 2019:169). Bentuk yang dimaksudkan antara lain pemberian nama palsu yang berkonotasi negatif, menyebarluaskan foto seseorang yang tidak selayaknya dipublikasikan, menghina fisik seseorang, dan memberikan gagasan atau pemikiran yang merendahkan kepada seseorang.

Selain cyberbullying, bentuk penurunan etika berkomunikasi dalam media sosial adalah ujaran kebencian. Ujaran kebencian berbeda dengan cyberbullying. Sebab, ujaran kebencian terarah pada penyampaian suatu gagasan negatif yang berlebihan terhadap pribadi atau suatu kelompok tertentu. Ujaran kebencian tidak tertuju pada sifat fisik seseorang.

Sekurang-kurangnya terdapat lima objek ujaran kebencian, yaitu ujaran kebencian terhadap agama minoritas, agama mayoritas, suku bangsa minoritas, pro pemerintah, dan kontra pemerintah (Muhammad Aulia Ash-Shidiq dan Ahmad R Pratama : 2021). Kelima objek tersebut merupakan ujaran yang paling banyak terjadi dalam media sosial.

Melalui penelitian yang sama, mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengenal ujaran kebencian. Akan tetapi, banyak orang justru mengabaikannya apabila ujaran kebencian tersebut tertuju pada kelompok di luar mereka. Pengabaian yang dimaksudkan membuat ujaran kebencian bertumbuh semakin kuat dalam media sosial. Peran masyarakat sebagai pengontrol dalam berkomunikasi menghilang dan kebebasan berpendapat menjadi tidak terkendali.

Berlandaskan uraian di atas, etika berkomunikasi perlu kembali ditumbuhkan dalam hidup bermedia sosial. Jika etika berkomunikasi dalam media sosial tidak ditumbuhkan kembali, cyberbullying dan ujaran kebencian akan terus berkembang dan merebak dalam masyarakat Indonesia. Perkembangan cyberbullying dan ujaran kebencian dapat membawa dampak yang buruk bagi persatuan dan kesatuan negara.

Setiap orang kembali diajak untuk mengambil peran sebagai pengingat bagi orang lain untuk memiliki etika dalam berkomunikasi. Banyak cara dapat dilakukan, antara lain dengan memberikan komentar yang positif, menyadari batas privasi diri, dan membangun gagasan yang konstruktif serta kreatif dalam menyampaikan suatu gagasan. Apabila setiap orang ambil bagian dalam membangun etika berkomunikasi yang sehat, media sosial dapat menjadi sarana untuk membangun relasi yang sehat dan memperkokoh persatuan bangsa dan negara Indonesia.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya