Menjadi Raksasa Energi Terbarukan

Statistisi di Badan Pusat Statistik
Menjadi Raksasa Energi Terbarukan 08/12/2022 61 view Ekonomi astra-agro.co.id

Sejak dahulu kita sering mendengar Indonesia adalah negeri yang kaya. Dari sabang sampai Merauke, bertaburan kekayaan alam, mulai dari mineral, logam, minyak bumi, batu bara, emas, karet, sawit, padi, dan berbagai macam tumbuhan lainnya. Tak ayal Indonesia menjadi rebutan para penjajah sejak berabad-abad lalu.

VOC sebagai penjajah kekayaan Indonesia terlama, bahkan bisa menjadi perusahaan terkaya di alam semesta, yang belum terkalahkan hingga saat ini, dengan nilai kekayaan perusahaan mencapai 78 juta gulden Belanda atau jika dikonversikan mencapai Rp. 112.640.175.000.000.000 (Rp. 112,64 kuadriliun). Nilai ini bahkan mencapai lebih dari 6 kali lipat PDB Indonesia (BPS, 2021). Bayangkan dengan kekayaan sebesar itu, VOC bisa membangun 6 buah negara Indonesia, lengkap dengan pemerintahnya, semua perusahaannya, dan rakyat di dalamnya.

Namun tak dinyana, setelah Indonesia merdeka, Indonesia tidak mampu memanfaatkan sumber dayanya untuk menjadi salah satu negara kaya dan maju di dunia. Meskipun GDP Indonesia adalah nomor tujuh tertinggi di dunia, namun ternyata jika dibagi per penduduk, GDP per kapita Indonesia hanya 4.691 US$ per tahun, yang menempatkan Indonesia pada peringkat 116 dari 194 negara di dunia.

Apa yang menyebabkan Indonesia dengan kekayaan alamnya yang sangat melimpah dan beraneka ragam tidak mampu menjadi negara adidaya di dunia? Jika kita melihat negara maju di dunia saat ini, di antaranya Amerika Serikat, Jerman, dan China, ternyata mereka menjadi negara maju bukan dari menjual sumber daya yang ada di negaranya.

Amerika contohnya. Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, Amerika adalah raja perdagangan di dunia. Amerika menjadi importir terbesar di dunia, sekaligus eksportir terbesar kedua di dunia. Menariknya, sebagian besar barang yang diimpor adalah barang dasar seperti barang modal, barang baku industri, dan sisanya barang konsumsi masyarakat. Sementara barang yang diekspor sebagian besar adalah barang yang telah diolah dan menghasilkan nilai jual lebih seperti BBM olah, mobil, microchip, LPG, dan lain-lain.

America juga menjadi raja dunia dengan teknologinya, melalui perusahaan besar seperti Microsoft, Google, Amazon, Apple, Meta, dan lain-lain. Perusahaan teknologi tersebut mampu menguasai data dan informasi dari seluruh penduduk bumi. Dengan data penduduk bumi ini saja sudah menjadi modal yang tak ternilai harganya, sebagaiman yang dikutip dari The Economist (2017), “Data is the world's most valuable resource, no longer oil”. Mereka mampu mengetahui preferensi masyarakat, pola belanja, pola bepergian, dan lain-lain sehingga data tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan produk yang disukai masyarakat, meningkatkan pendapatan iklan, mengembangkan teknologi artificial intelligence, dan sebagainya.

Jerman sebagai negara adidaya di dunia, juga menjadi kuat bukan dengan sumber daya alamnya, namun dengan inovasi dan orientasi ekspornya. Jerman terus mengembangkan teknologi industri, otomotif, mekanik, engineering, kimia, dan medis, serta berorientasi untuk menjual teknologi tersebut ke seluruh dunia. Di antara perusahaan besar yang berasal Jerman adalah VW, BMW, Bayer, SAP, Adidas, dan lain-lain.

Sementara itu Republik Rakyat Tiongkok (RRT) juga menjadi negara kuat di dunia melalui ekspornya. RRT adalah eksportir terbesar di dunia, dengan komoditas ekspornya antara lain peralatan teknologi seperti komputer, peralatan siar, telepon, perangkat mesin kantor, microchip, alat semikonduktor, kabel, printer, video game, dan lain-lain. Produk china membanjiri dunia, sangat mudah menemukan barang-barang mulai dari yang sederhana sepatu, baju, panci, hingga yang kompleks seperti flashdisk, komputer, mouse, yang bertuliskan “Made in China”. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari ekosistem bisnisnya yang baik. Pemerintah RRT menerapkan pajak dan bea ekspor yang rendah, kemudahan peraturan ekspor-impor, dan kebijakan mata uang yang kompetitif.

Selain itu masyarakat RRT memiliki budaya bisnis yang baik dengan mengambil untung yang sedikit namun skala perdagangan yang besar, target mereka adalah pasar dunia. Industri telah menyatu bersama masyarakat . Jika di Indonesia industri kecil identik dengan pembuatan keripik, makanan, dan minuman kemasan. Di RRT industri kecilnya membuat peralatan logam untuk mesin, peralatan plastik, perabotan rumah tangga, dan benda-benda lainnya yang biasa kita beli di Mr.DIY, toserba, ataupun toko online murah.

Melihat kesuksesan para negara adidaya di atas jelas bahwa mereka tidak mengandalkan menjual sumber daya alam negaranya, karena sebanyak apapun sumber daya alam ada yang bersifat irreversible dan akan habis, dan jika dijual keuntungan tidak akan maksimum. Negara yang maju melihat peluang yang lebih besar dan itu yang harus dilakukan Indonesia, melihat peluang.

Saat ini dunia sedang mencari energi terbarukan yang lebih bersih, karena bagaimanapun bahan bakar fossil akan habis sementara permintaan akan energi terus meningkat. Permintaan energi global saat ini tercatat telah meningkat 3 kali sejak 1950 dan pemakaiannya diperkirakan telah mencapai 10.000 juta ton pertahun. Sebagian besar energi itu dihasilkan dari bahan-bahan yang tidak terbarukan seperti batubara, gas, minyak bumi dan energi nuklir. Di antara bahan-bahan tersebut minyak bumi merupakan sumber utama energi yang paling kritis. Perkiraan menyebutkan bahwa cadangan minyak bumi dunia akan habis dalam waktu 40 tahun lagi sedangkan batubara dan gas bumi diperkirakan akan habis dalam waktu 250 tahun dan 70 tahun. Selain tidak terbarukan energi berbasis fosil juga tidak ramah lingkungan karena pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan gas CO2 yang dapat mengakibatkan pemanasan global. Kombinasi gas buangan pembakaran batubara dengan uap air di awan berpotensi menghasilkan hujan asam dan hujan asam ini bisa menyebabkan terbunuhnya ikan-ikan di danau air tawar serta kerusakan pada daun-daun tanaman (Jumina dan Karna Wijaya, 2012). Oleh karena itulah dibutuhkan energi baru yang dapat terus menerus digunakan dan diperbaharui.

Indonesia dapat menjadi raja energi terbarukan. Indonesia dianugerahi dengan potensi besar untuk menghasilkan energi panas bumi, air, solar, dan baterai.

Posisi gegorafis Indonesia pada kerangka tektonik dunia menyebabkan Indonesia potensial untuk menghasilkan energi geothermal. Sumber daya energi panas bumi di Indonesia mencapai 28,5 Giga Watt electrical (GWe) yang terdiri dari resources 11.073 MW dan reserves 17.453 MW, yang menjadikan Indonesia salah satu negara dengan sumber daya panas bumi terbesar di dunia. Saat ini yang dimanfaatkan baru 1.948,5 MW, sehingga masih membuka peluang untuk memperbesar pembangkit listrik geothermal baru.

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki potensi untuk menghasilkan pembangkit energi tenaga air. Potensi pembangkit listrik tenaga air Indonesia saat ini diperkirakan sebesar 76.679 MW, yang termanfaatkan saat ini hanya 10,1%.

Sementara itu, sebagai negara yang terletak di khatulistiwa, potensi energi matahari yang bisa dimanfaatkan jauh lebih besar lagi, mencapai 207.898 MW, sementara yang dimanfaatkan baru sekitar 0,08% saja.

Sebagai negara penghasil nikel terbesar di dunia, daripada sekedar mengekspor nikel atau mengolahnya sebagai baja anti karat, Indonesia dapat membuat pabrik baterai untuk kendaraan dan peralatan listrik. Baterai ini juga dapat dikombinasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Hybrid, sehingga sinar matahari dapat disimpan di dalam baterai untuk selanjutnya dapat digunakan menjadi tenaga listrik.

Sudah waktunya Indonesia membuka mata melihat anugerah sumber energi yang sangat melimpah tersebut. Jangan sampai sejarah terulang, Ketika Indonesia menjadi negara yang kaya akan rempah namun dimanfaatkan oleh VOC, kaya akan sumber daya mineral dan emas namun dikuasai oleh perusahaan asing, memiliki lahan yang luas namun ditanami sawit oleh perusahaan asing.

Dengan pendanaan dan perencanaan yang matang serta komitmen yang sungguh-sungguh dari pemerintah, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi negara adidaya melalui energi terbarukan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya