Memahami DNA Suporter Sepak Bola

Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga
Memahami DNA Suporter Sepak Bola 17/10/2022 531 view Lainnya kompasiana.com

Beberapa waktu lalu, teman saya di kampus datang dengan wajah riang dan berseri-seri. Sekilas, saya mengerti apa yang ingin dia sampaikan. Klub bola yang menjadi rival klubnya kembali menelan kekalahan. Kebetulan, klub bola yang menjadi rivalnya adalah klub yang saya dukung (MU).

“Percaya proses boss!” ucapnya, seolah mengembalikan ucapan yang sering saya lontarkan berkali-kali. Meskipun dianggap lelucon, saya merasa agak blenger mendengarkan ocehan-ocehan mengenai kekalahan MU. Bukan karena klub tersebut gagal mencapai visi “tsunami trofi”, kekesalan justru timbul lantaran obrolan yang gitu-gitu aja.

Kita tahu, bagaimana militannya fans MU di berbagai sudut kehidupan. Di Twitter misalnya, atmosfer yang semula terlihat biasa saja, akan terasa memanas ketika MU bermain. Kondisi tersebut bisa saja terjadi, entah karena girangnya para fans ketika klub kesayangannya menang, maupun ledekan fans klub lain karena Maguire melakukan blunder yang tidak sanggup diprediksi.

Seiring berjalannya waktu, rasanya stigma dan perilaku tersebut mendorong naluri untuk ikut dengan kebiasaan yang mereka jalani. Mungkin karena itu, teman-teman menganggap saya adalah fans fanatik Manchester United. Ditambah, saya pernah memamerkan kemenangan MU di sosmed. Sehingga, ungkapan seperti, “Mampuss!”, “Sing sabar yo, dadi fans MU!” sudah menjadi asupan wajib bagi telinga.

Akhirnya saya sadar, bahwa sebagai fans bola yang bijaksana, saya terpaksa untuk mendukung klub Galatasaray, karena klub itu terbilang tidak terlalu populer untuk dibicarakan. Saya yakin, teman-teman akan melontarkan perkataan seperti “wis ga asik!”, “fans karbitan!”. Namun, Hal ini dilakukan agar mengurangi sensitifitas dalam persaingan sepak bola.

DNA Suporter Bola

Dari cerita receh tentang fanatisme fans MU, saya teringat dengan tragedi sepak bola yang terjadi di Kanjuruhan beberapa hari lalu. Beberapa fakta memang sudah sering dibicarakan. Akan tetapi, kita perlu sedikit menengok berbagai sudut pandang mengenai peristiwa tersebut. Supaya kita dapat memilih dan memilah dari berbagai pandangan yang dinarasikan.

Tulisan ini tidak ditujukan untuk sekedar berceloteh mengenai fenomena yang sedang terjadi. Tujuan utama tulisan ini untuk sekedar menyadarkan kita tentang bagaimana manusia bisa menjadi fans fanatik sepak bola. Saya berharap, khotbah ini tidak dianggap angin berlalu, sebab saya sudah merelakan diri sendiri sebagai fans yang militan

Perihal pertama yang harus diketahui yaitu, bahwa DNA manusia diciptakan untuk belongs to a group. Artinya, seseorang diharuskan untuk memiliki kelompok dalam menjalani kehidupan. Kecenderungan ini mungkin terjadi secara tidak sadar. Namun, manusia tetap melakukannya.

Jika ditarik pada fenomena fans sepak bola daerah, maka yang dapat kita temukan adalah suatu keputusan yang dilakukan secara kolektif untuk mendukung klub bola daerahnya. Dari sinilah kita tahu adanya potensi dukungan kelompok terhadap klub sepak bola dari masing-masing daerahnya. Resikonya, orang akan dijauhi ketika dia tidak ikut mendukung klub bola daerahnya.

Terkadang manusia tidak sadar dari mana emosinya muncul. Ini sekaligus menjadi poin kedua, bahwa sebenarnya para pendukung tertipu dengan keikutsertaan emosionalnya terhadap peristiwa yang telah terjadi. Lalu bagaimana kondisi tersebut? Mimicking behaviour, sebuah istilah psikologi yang mengatakan, bahwa sesorang meniru suatu kondisi atau perilaku, disebabkan oleh sesuatu yang sedang dia lihat.

Kita ambil contoh, penonton drakor misal, mereka merasa empati ketika ada adegan sedih dalam sinetron tersebut. Emosi mereka muncul gara-gara merasa mengikuti apa yang dilakukan sang tokoh. Bahkan, merasa bahwa adegan tersebut bukan akting. Hal ini yang terjadi pada fans sepak bola. Ketika timnya gagal mencetak gol, mereka akan teriak, seolah dirinya menjadi sang penendang bola.

Dari beberapa aspek tertera orang bisa mengkultuskan diri. Faktor dorongan sosial dan psikologi, membawa para pendukung ikut serta dalam mengekspresikan emosinya. Mungkin ada beberapa faktor lain yang memicu adrenalin penonton, sehingga emosinya tak terbendung. Faktor pendukung seperti keramaian dan kekalahan sudah banyak diungkapkan.

Bagi saya pribadi, tragedi tersebut mengingatkan para pecinta sepak bola untuk selalu menjaga perilaku dan pikiran, baik di luar maupun di dalam lapangan. Karena terkadang kita tertipu dengan emosi yang kita rasakan. Situasi tersebut bisa muncul kapan saja, ketika tidak mengoreksi ketidaktahuan yang sebenarnya dialami.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya