Kewarasan Mental Narapidana Di Tengah Over Kapasitas Penjara

Penulis Buku Sharing Mu Personal Branding Mu
Kewarasan Mental  Narapidana Di Tengah Over Kapasitas Penjara 10/12/2020 1063 view Lainnya Dokumentasi Pribadi

Over kapasitas lapas menjadi fenomena minus yang sampai saat ini belum juga bisa terselesaikan.

Berdasarkan sistem database pemasyarakatan per 4 Oktober 2020 ini saja, tercatat tahanan dan narapidana mencapai 233,590 sedangkan jumlah kapasitas daya tampung hanya sebesar 133,109 jiwa. Kondisi tersebut tentunya menjadikan lembaga pemasyarakatan bak bom waktu manusia yang sewaktu-waktu bisa meledak. Pecahnya lembaga pemasyarakatan dalam arti kondisi rentan kerusuhan, kesemrawutan, terlanggarnya hak asasi manusia, hingga problem kondisi kesehatan mental.

Berjejalnya manusia dalam satu kondisi ruangan yang penuh sesak membuat narapidana tak hanya merasa kesulitan dalam beraktifitas, akan tetapi juga membuat persinggungan antara narapidana rentan terjadi.

Pada tahun 2019, penulis pernah melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Kesesakan dan Coping Stres dengan Perilaku Agresi Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Tenggarong” yang diterbitkan di jurnal Psikoborneo tahun 2020. Dalam penelitian yang dilakukan terhadap 90 narapidana memperlihatkan bahwa terdapat hubungan antara kesesakan dengan perilaku agresi narapidana.

Agresi yang terjadi merupakan sumber dari agresi yang tidak dikelola dengan baik. Dalam psikologi, munculnya stres terjadi, disebabkan situasi atau pikiran yang membuat seseorang merasa putus asa, marah, gugup, dan bersemangat. Dan situasi tersebut muncul sebagai respon tubuh baik secara fisik maupun mental.

Adapun agresi disini menurut Buss dan Perry (1992) menerangkan bahwasanya perilaku agresi itu meliputi 3 dimensi motorik, afektif, dan kognitif. Empat dimensi tersebut dapat dikategorikan ke dalam 4 kategori agresi yaitu agresi fisik, verbal, kemarahan, tindakan mengekspresikan kebencian, permusuhan, dan antagonism terhadap orang lain.

Dalam sebuah wawancara saat penulis ditugaskan untuk melakukan assesment dan konseling terhadap tahanan ataupun narapidana, penulis menemukan bahwa kondisi-kondisi stres yang terjadi selain disebabkan kondisi penuh sesak, juga disebabkan oleh kondisi menghadapi sidang/menjelang vonis, faktor kerinduan terhadap keluarga, menghadapi tuntutan cerai dari istri, ketakutan akan penolakan dari sang anak, keluarga dan lingkungan sekitarnya, perasaan tidak menerima akan statusnya sebagai yang bersalah, hingga belum adaptif dengan lingkungan.

Sebagian dari kondisi sakit fisik yang terjadi, terkadang dibarengi dengan gejala stres yang dialami oleh tahanan/narapidana. Stres yang dialami tersebut adalah gabungan dari hasil terganggunya fungsi intelektual, perilaku, metabolisme, kekebalan tubuh, dan respon fisiologis lainnya yang disebabkan oleh faktor dari dalam maupun luar tubuh.

Penuh sesaknya ruangan yang ada, membuat terbatasnya ruang gerak, sirkulasi udara menjadi buruk, hingga membuat kondisi pengap. Kepengapan ini adalah salah satu hal yang acapkali membuat antar penghuni mudah emosi. Tidak sengaja menyenggol saja cukup membuat adu mulut hingga perkelahian terjadi. Bisa dibayangkan jika seorang narapidana mendapatkan surat cerai dari sang istri, dimana kondisi mentalnya tengah bergejolak, lantas seseorang rekan tidak sengaja menyenggol dirinya atau bahkan memberikan respon buruk seperti ejekan, atau ucapan yang tidak diharapkan. Tentu akan langsung membuat penyaluran emosi tidak tertahankan lewat perilaku agresi. Jika orang tersebut memiliki tipe memendam, biasanya akan berdampak pada kondisi depresi. Dan depresi yang tidak ditangani dengan baik akan memunculkan potensial perilaku bunuh diri.

Celakanya, keterbatasan kapasitas yang ada, seiring sejalan dengan terbatasnya jumlah petugas lapangan yang menangani narapidana/tahanan, seperti tenaga medis dan petugas terlatih yang memiliki back ground psikologi. Terkhusus dengan tenaga ahli yang terlatih menangani kondisi psikologis sebagai penjaga kewarasan mental narapidna.

Mengawal Kewarasan Mental Narapidana

Kewasaran mental narapidata dapat tercapai jika kondisi mental telah dapat dipenuhi dengan baik. JIka hal ini terjadi maka bukan tidak mungkin tujuan dari pembinaan akan terwujud. Tentunya keterwujudan pembinaan yang baik ini butuh langkah tepat, salah satunya telah menyelesaikan terlebih dahulu problem dasarnya yaitu idealnya rasio antara jumlah kapasitas dengan jumlah penghuni, dan peningkatan sumber daya manusia yang ada di lembaga pemasyarakatan.

Menangani kapasitas dapat dilakukan dengan pembangunan lembaga pemasyarakatan baru, namun tentunya anggaran yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Cara lain yang dapat dilakukan adalah merevisi kembali UU pemidanaan, terkhusus merevisi PP 99 yang menjadi salah satu pasal yang berkontribusi terhadap penuh sesaknya lembaga pemasyarakatan. Dimana telah kita ketahui bahwasanya dalam PP 99 tahun 2012 mengatur tentang pengetatan pemberian remisi terhadap terpidana narkotika, korupsi, dan terorisme.

Dalam kasus korupsi, dan terorisme memang sudah sepantasnya tidak ada ampun terhadap kejahatan tersebut. Akan tetapi dalam kasus-kasus narkotika, seringkali pasal pengguna, kurir, dan bandar menjadi sebuah celah untuk disalahgunakan. Dan imbas dari penyalahgunaan dari pasal tersebut adalah masa hukuman dan tentu saja hak untuk mendapatkan remisi yang tidak mudah. Inilah yang membuat ketidakseimbangan kapasitas terjadi di lapas-lapas di seluruh Indonesia. Yang bebas 1-3 sementara yang dikirim dari tahanan polres-polres mencapai 2-3x lipatnya. Makin berbahaya lagi karena ini masa pandemi. Satu saja yang tertular covid-19, maka akan menjadi bencana bagi lembaga pemasyarakatan.

Cara selanjutnya dalam upaya menjaga kewarasan mental narapidana adalah dengan meningkatkan sumber daya manusia lewat pelatihan-pelatihan penanganan psikologis terhadap para petugas lapangan. Karena pelatihan adalah langkah paling efektif dalam jangka panjang dan tentunya lebih masuk akal dalam hal pembiayaan.

Dan yang lebih penting adalah sebuah cita-cita pembinaan masyarakat yang berhasil, guna menciptakan sebuah penegakan hukum sekaligus sebagai representasi dari pengejawantahan Hak Asasi Manusia. Wallahu’alambishoab.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya