Kritik Hadist Shahih Soal Istri Menolak Melayani Hasrat Seksual

Pegiat Literasi Pesantren di Corner Institute Semarang
Kritik Hadist Shahih Soal Istri Menolak Melayani Hasrat Seksual 21/08/2021 62 view Agama Magdalene

Fatema Mernissi salah satu pemikir muslim kelahiran Maroko yang sangat terkenal melalui pemikiran-pemikiranya yang mendalam dan kritis. Ia adalah aktivis perempuan yang kritis dengan pandangan-pandanganya dalam mengkritik hadis. Semangat tersebut menjadi bekal para aktivis kesetaraan gender pada generasi berikutnya. Dalam tulisan ini kami ingin membedah sebuah hadis yang tidak ramah pada perempuan namun mendapatkan legitimasi sahih.

Hadis di sini menerangkan seorang istri akan dilaknat sampai pagi oleh malaikat karena menolak ajakan untuk berhubungan seksual dengan suaminya, dengan mendialogkan pendapat para ulama. Hadis yang akan kita bahas sangatlah populer di kalangan ulama, cendekiawan dan orang awam. Kualitas hadisnya sangat baik karena diriwayatkan oleh dua ulama hadis yang kredible yaitu Imam Bukhori dan Imam Muslim, sehingga hadis ini dapat dikelompokkan dalam hadis sahih.

اذا دعا الرجل امرئته الي فراشه فابت ان تجئ لعنتها الملائكة حتي تصبح

“Jika suami mengajak istrinya ke atas ranjang (bersenggama) kemudian istri tidak memenuhinya, maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi” (HR. Bukhori, Muslim)

Secara teks, hadis ini dinilai sangat ekstrim karena mengandung ancaman yang cukup serius untuk istri (ia akan dilaknat) apabila ia menolak (aba’t) ajakan (da’a) suaminya untuk berhubungan seksual. Oleh banyak pihak terutama kelompok konservatif tekstualis, teks hadis ini diulang-ulang hanya untuk menekan suaminya agar melayani hasrat seksualnya tanpa ada jaminan yang sama bagi istri.

Pandangan ini, dengan begitu telah mengabaikan perspektif keadilan dalam hak-hak seksual, selain itu juga mengabaikan kesehatan reproduksi perempuan. Hemat saya berhubungan intim dalam tekanan atau pemaksaan akan menimbulkan luka dalam organ reproduksi perempuan.

Narasi tafsir yang tidak adil gender seperti ini dapat menjadikan agama terkesan sempit dan bias. Hadis di atas tidak dapat diambil mentah-mentah secara tekstual saja, melainkan harus ditafsirkan sejalan dengan misi Islam sebagai agama yang memberikan rahmat bagi semuanya agar terciptanya kemaslahatan secara bersama antara suami dan istri.

Kasus seperti ini sebenarnya sangat lumrah dialami oleh pasangan suami istri di kalangan masyarakat umum karena ruang sosial-budaya kita sudah terhegemoni dengan pandangan satu pendapat ahli fiqih. Sehingga membincang hal ini terkesan sangat tabu dan menabrak pondasi fiqih klasik.

Pemahaman literal atas teks hadis di atas akan menimbulkan efek psikologi dan mental bagi tubuh perempuan. Apabila hal ini dibiarkan akan muncul berbagai kekhawatiran (madharat) di antaranya agama tidak memiliki kesadaran adil dalam menjalankan tugasnya, kemudian mengabaikan kesehatan bagi perempuan.

Lantas bagaimana menyikapi hadis tersebut? Saya mengutip pemikiran ulama kontemporer KH. Faqihuddin Abdul Qadir pencetus metode Mubadalah (kesalingan). Dalam hal ini ia mengatakan, setiap hadis tidak boleh dimaknai secara tekstual saja melainkan harus dimaknai sejalan dengan semangat perjuangan Islam.

Mengutip pandanganya di Mubadalah.id, ia mengatakan teks hadis ini tidak berdiri sendiri tetapi bagian dari bangunan besar ajaran Islam yang memiliki visi kemaslahatan bagi orang banyak dan misinya adalah akhlak mulia. Dalam proses pemaknaannya tidak dapat dipisahkan dengan visi dan misi Islam secara umum. Secara garis besar ia memaknai teks tersebut dengan metode Mubadalah.

Mamahami teks tersebut dibutuhkan beberapa ayat dan hadis lain yang mendukung untuk saling berbuat baik. Sehingga penolakan istri dalam hadis tersebut bisa jadi karena perilaku suami sehingga membuatnya marah dan berujung pada penolakan. Dalam arti, pokok kesalahannya tidak hanya pada istri melainkan juga kesalahan suami.

Oleh karenanya, ada kesalingan dalam hadis tersebut dengan mengkaji pristiwa sebelumnya. Hal ini sejalan dengan pandangan Buya Husein dalam bukunya. Ia menganjurkan pasangan suami istri agar menjalin relasi yang baik agar tidak berdampak hak yang merugikan. Pada sisi lain Al-Qur’an juga menjelaskan perlunya relasi suami istri yang didasarkan atas dasar interelasi mawaddah wa rahmah.

وجعل بينكم مودة ورحمة
“Dan, dijadikanya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum [31]:21)

Berangkat dari semangat ayat di atas mengartikan tujuan perkawinan bukanlah kepuasan seks bagi suami atas dasar kekuasaan mutlaknya pada istri melainkan ketenangan jiwa dari keduanya sehingga relasi suami istri sampai pada kasih dan sayang (mawaddah wa rahmah). Hal ini dianggap menjadi jembatan untuk harmonisasi pasangan suami istri dan menjadi etika dasar hubungan seksual suami istri. Demikian dapat memberikan ketenangan jiwa kepada kedua belah pihak dan dilakukan dengan cara-cara yang mencerminkan cinta kasih.

Dengan landasan ayat di atas ini, sistem kehidupan rumah tangga suami istri dapat berjalan harmonis dan bahagia. Selain itu yang perlu dijaga adalah kesehatan. Apabila akan melakukan hubungan badan harus dijalani melalui proses-proses yang sehat. Hal ini sangat penting dalam hubungan seks (persetubuhan). Proses ini tentunya harus dalam kondisi psikologi yang tenang, nyaman, dan terbebas dari segala bentuk tekanan. Oleh sebabnya, hadis di atas tidak dapat dipahami secara tekstual belaka tetapi perlu mengkaji pristiwa sebelumnya agar tercipta keadilan.

Ada Beberapa penafsir hadis yang memberikan pandanganya cukup baik. Mereka mengatakan bahwa kewajiban memenuhi hasrat seksual suami ditunjukan terhadap istri yang memang tidak mempunyai alasan (udzur) apapun untuk menolaknya. Tidak ada kepentingan yang sifatnya wajib dan tidak dalam situasi ancaman suami yang bisa merugikan dirinya. Oleh karena itu, sah-sah saja menilai kesalahan ada pada istri apabila mengambil pendapat yang terakhir ini.

Sebenarnya Buya Husein dalam bukunya Islam Agama Ramah Perempuan (2020) juga pernah menjelaskan tentang ketelitian terhadap hadis-hadis yang diskriminatif. Apabila hadisnya tidak sahih atau dhoif bisa secara langsung tertolak. Sedangkan apabila menemukan hadis sahih namun terkesan kontradiksi dengan semangat Islam maka harus ditelusuri kevalidan hadis tersebut.

Meskipun hadis sahih tersebut disepakati oleh para ulama sebagai dasar hukum, namun tetap saja setidaknya kita perlu melihatnya dari banyak aspek. Sederhananya kita masih perlu penelitian dan analisis kritis untuk memahami makna empirisnya. Sehingga tidak terkesan kontradiktif dengan teks-teks valid lainya serta tidak berlawanan dengan logika rasional dan bukti-bukti empiris.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya