Modus Kecurangan Seleksi CPNS dari Masa ke Masa

Modus Kecurangan Seleksi CPNS dari Masa ke Masa 02/11/2021 427 view Opini Mingguan pinterest.cl

Pengawas ujian membuka amplop berisi lembar soal dan lembar jawaban kepada kami sambil menghitung jumlah peserta ujian. Kemudian bertanya, "Apakah peserta ujiannya hanya empat orang?" Kami semua mengangguk. Kemudian dia mengatakan dengan suara kecil tetapi kami masih mendengarnya, "Jika soal hanya empat berkas, peserta juga empat orang, artinya tidak bisa curang kecuali nilai tidak cukup".

Peristiwa ini terjadi pada Tahun 2006 lalu saat saya dan teman-teman mengikuti seleksi CPNS di pemda tempat kami tinggal. Sistem seleksi CPNS saat itu tidak seketat sekarang. Pelaksanaan ujian saat itu di stadion sepak bola yang dapat memuat banyak peserta. Proses memasuki lokasi ujian juga hanya perlu menunjukkan kartu ujian. Panitia kemudian mencocokan wajah peserta dengan pas foto yang tertera pada kartu ujian. Itupun sekilas saja.

Sistem ujian masih memakai lembar soal yang kemudian dikembalikan kepada panitia. Lembar jawaban juga masih menggunakan pensil 2b dengan menghitamkan lingkaran dari jawaban yang telah kita pilih.

Sangat jauh berbeda dengan sistem seleksi CPNS tahun 2021. Dulu menggunakan metode dan cara manual, baik itu sejak pendaftaran, ujian, penilaian, dan pengumumannya. Maka, dibandingkan dengan sekarang sistem seleksi CPNS telah menggunkan sistem digital yang canggih. Harapannya adalah untuk mencegah terjadinya modus-modus kecurangan dalam seleksi penerimaan CPNS.

Membaca berita tentang kecurangan seleksi CPNS tahun 2021 yang menyebabkan jumlah peserta didiskualifikasi mencapai angka 200 orang lebih menunjukkan bahwa kali ini Pansel CPNS 2021 kecolongan. Selain itu juga dapat dibayangkan bahwa modus-modus yang dilakukan peserta termasuk panitia untuk berlaku curang demi kepentingan pribadi tanpa melihat integritas diri dan lembaga.

Beberapa tahun sebelum saya mengikuti seleksi CPNS, saya mendengar cerita tetangga pada ibu saya, bagaimana si ibu menjadi panitia pemeriksa lembar jawaban seleksi CPNS. Ibu tersebut adalah guru yang direkrut untuk memeriksa lembar jawaban peserta seleksi CPNS.

Lembar jawaban diberikan kepada pemeriksa yang telah dipotong bagian atasnya yang tertulis nama dan nomor ujian. Lembar jawaban diberi kode berdasarkan formasi. Jenis-jenis kode tersebut hanya diketahui oleh panitia seleksi level tinggi saja. Tidak semua pansel mengetahui kode-kode ujian tersebut.

Nilai hasil ujian diisi dalam tabel yang telah disediakan dan disesuaikan dengan kode lembar ujian. Tabel tersebut diberikan kepada panitia tanpa membicarakan tentang semua hal yang berkenaan tentang seleksi CPNS.

Di sinilah kecurangan dari pansel dimulai. Pansel dapat melihat nilai dari seluruh peserta dan seluruh formasi yang disediakan. Jika dan hanya jika ada "nama titipan" yang diberikan kepada pansel, maka pansel harus melihat kembali tabel hasil evaluasi tersebut sebagai panduannya. Untuk kemudian "menggeser" nama lain dan mengisi dengan nama titipan tersebut.

Peluang kecurangan ini terjadi pada masa-masa seleksi CPNS secara manual. Selain memanipulasi nilai peserta untuk mendapatkan passing grade yang telah ditentukan, pansel juga dapat memanipulasi formasi saat pengumuman hasil seleksi CPNS.

Pengalaman manipulasi formasi juga saya alami secara langsung. Pada saat itu saya berpendapat mereka silap memasukkan jenis formasi saya dan teman saya. Namun, setelah berada dalam dunia birokrasi, ternyata memang ada peluang-peluang yang tercipta untuk kecurangan seleksi CPNS.

Saya dan teman-teman yang ikut seleksi CPNS di pemda pilihan kami telah membagi formasi sesuai dengan keinginan. Kami berempat telah sepakat memenuhi masing-masing dua orang untuk satu formasi.

Saat pengumuman CPNS yang diterbitkan di surat kabar cetak, nama saya dan teman saya tidak keluar. Hanya dua teman saya yang lain yang ada namanya. Tentu saja saya sedih. Tetapi tiga hari setelah pengumuman, tiba-tiba saya menyadari bahwa di surat kabar tidak ada nama formasi. Jika tidak ada nama formasi bagaimana bisa nama kami ada. Saya dan teman saya melaporkan kepada pansel. Ternyata nama kami "masuk" ke dalam formasi lain.

Di saat bersamaan kami juga mendengar peserta CPNS lain melapor formasinya hilang. Formasi-formasi yang hilang ini adalah formasi yang baru, seperti jurusan teknik geologi, teknik penerbangan, pekerjaan sosial, hubungan internasional, dan jumlah yang diterima hanya satu atau dua orang untuk Pemda Tingkat II.

Formasi yang tidak umum merupakan kesempatan untuk pansel dalam mengeliminasi nama peserta yang lulus dan menggantikan dengan nama lain. Apalagi jika peserta seleksi tidak ada yang mengenal peserta yang sama formasinya. Pada akhirnya saya dan teman saya mendapatkan hak kami sebagai CPNS dengan nilai kami di atas passing grade yg telah ditentukan.

Pada seleksi CPNS dulu, kecurangan dari peserta tes dapat juga dilakukan melalui joki ujian. Ujian diikuti oleh orang yang telah dibayar dan disinyalir mampu untuk menjawab soal CPNS sehingga nilai peserta dapat melewati passing grade.

Kecurangan-kecurangan seperti ini diharapkan dapat dihapuskan saat memakai sistem komputer. Ternyata semakin canggih sistem maka permasalahan akan mengikuti kecanggihannya. Peserta dan pansel mempunyai wilayah yang berbeda dan bisa bekerja secara mandiri dan tidak terikat.

Namun, dalam kasus kecurangan seleksi CPNS 2021, peserta dan pansel bekerja secara serentak dan bersama-sama. Karena alat bantu yang digunakan seharusnya telah mengalami sterilisasi sebelum ujian, tetapi karena adanya orang dalam maka aplikasi yang digunakan untuk berbuat curang telah ditanam dengan "seizin" oknum pansel.

Kecurangan-kecurangan ini mengecewakan banyak pihak. Bukan hanya peserta yang jujur, tetapi juga pansel yang bekerja secara jujur dan berintegritas.

Harapannya adalah untuk menyaring seorang birokrat dibutuhkan integritas sejak proses rekrutmen sampai dengan pengesahaan sebagai anggota birokrat. Namun, karena kebutuhan sesaat untuk mengenyangkan perut, kecurangan dalam seleksi CPNS ini telah merusak sistem birokasi itu sendiri. Kecurangan ini ibarat lingkaran setan yang tidak habis-habisnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya