Keberhasilan Indonesia Mengelola Sampah Plastik Menjadi Program Televisi

Mahasiswa Terujung
Keberhasilan Indonesia Mengelola Sampah Plastik Menjadi Program Televisi 08/02/2020 1133 view Budaya STMJIndo.com

Diskusi tentang bahaya sampah plastik telah menjadi perbincangan hangat dan serius selama beberapa tahun terakhir di berbagai belahan dunia. Mulai dari isu rusaknya ekosistem laut, dan proses penguraian sampah plastik yang memakan waktu cukup lama. Bahkan lebih lama daripada sinetron Tukang Bubur Naik Haji dan Cinta Fitri.

Persoalan sampah plastik telah menjadi bagian dari persoalan dunia, sehingga beberapa negara maju mencoba mengubah kebutuhan mereka dari plastik ke bahan yang mudah diurai oleh tanah dan air. Penemuan-penemuan baru bermunculan, bahkan ajakan untuk menggunakan kantong tradisional yang terbuat dari sulaman rotan dan bahan lainnya mulai digaungkan.

Beberapa negara barat berusaha menerapkan program daur ulang sampah agar dapat digunakan kembali. Selain itu mereka juga memberikan penghargaan pada perusahaan dan masyarakat yang turut serta membantu program yang sedang mereka kembangkan.

Korea dan Thailand punya cara yang berbeda; mereka menjadikan sampah plastik untuk program kecantikan, seperti operasi plastik dan tambal payudara. Sehingga sampah yang telah digunakan dapat dimanfaatkan untuk hal yang sifatnya lebih estetik.

Lain dari pada itu, Indonesia ternyata telah lebih maju dari pada negara-negara belahan dunia lainnya, dalam mengelola sampah plastik: dengan cara menjadikannya program televisi. Maka dari itu, sudah hal yang biasa jika masih banyak acara televisi di Indonesia berkualitas sampah dan menipu akal sehat, sebagaimana kita tertipu oleh shemale Thailand yang super cantik karena operasi plastik.

Lagi pula, mayoritas masyarakat Indonesia sungguh sangat mencintai program televisi yang berbahan dasar sampah. Sudah barang tentu, hal ini merupakan bentuk paling nyata dari keberhasilan pemerintah bagi masyarakat akar rumput, dari sekian banyak program gagal yang dicanangkan pemerintah untuk mereka.

Mungkin selama ini kita menyangka bahwa para kapitalis medialah yang harus bertanggung jawab penuh terhadap segala macam bentuk program televisi sampah yang selama ini menjadi biang kerok dari munculnya generasi pesakitan di Indonesia. Namun setelah kasus TVRI menyeruak ke publik, wajah pemerintah pun keliatan kurapnya.

Kurap pemerintah semakin mengelupas ketika Dewan Pengawas TVRI berkomentar bahwa “Liga Inggris dan Discovery Channel tidak sesuai dengan jati diri bangsa”. Padahal TVRI sedang naik daun di bawah kepemimpinan Helmy Yahya.

Tentu setiap orang yang memiliki kepala punya analisis yang berbeda-beda tentang statement dari Dewas TVRI; ada yang berkomentar bahwa jati diri kita hanya didapati lewat sinetron Azab dan Rumah Uya, ada juga yang berpendapat bahwa jati diri kita hanya dapat ditemukan dalam program Liga Super Indonesia dan Pesbukers. Barangkali ada benarnya pendapat para netizen tentang komentar Dewas, karena program sampah adalah jati diri bangsa Indonesia.

Maka jangan heran, jika generasi micin, bucin, dan yang licin-licin seperti belut politik yang dapat keluar masuk republik tanpa ketahuan, dapat kita jumpai di Indonesia. Bisa jadi mereka lahir dan berkembang karena tontonan yang selama ini mereka lihat di Televisi. Karena, apa yang dilihat dan didengar pada hakikatnya akan menjadi pola dasar mereka berkelakuan.

Progam sampah yang selama ini tinggi rating selalu mengajarkan hal-hal yang tidak jauh dari berbagai sebab rusaknya generasi muda di Indonesia. Coba perhatikan bagaimana lawakan-lawakan sampah berkembang dengan mencaci dan menghina fisik seseorang di depan publik dapat kita lihat selain di televisi? Di mana karma-karma agama yang justru merendahkan agama itu sendiri dapat kita lihat selain di televisi?

Oleh karena itu sudah sewajarnya kita tertinggal dari bangsa yang lebih maju, karena konstruk berpikir kita retak oleh program-program sampah yang ditayangkan oleh televisi. Ketika bangsa-bangsa maju di dunia mencoba mendoktrin generasi muda dengan berbagai program televisi, kita malah bangga melihat generasi muda terjebak dalam cinta di usia yang kencing saja belum lurus.

Maka dari itu, memukuli wasit di lapangan secara berjamaah, memaki fisik seseorang di depan publik secara bersama-sama, menggeliat dari hukum di depan warga negara bak seorang pahlawan adalah identitas Indonesia. Oleh karena itu, acara-acara televisi berkualitas bukanlah identitas kita, apalagi jika dibuat oleh asing. Karena Indonesia adalah negeri bermartabat, pantang diintervensi asing, apalagi meniru kebudayaan asing.

Lagi pula kita adalah bangsa Indonesia, yang kaya akan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan tentu saja kebodohan juga berlimpah ruah di republik ini. Hanya di Indonesia sudahlah manusia, ganteng pula, namun bangga menjadi binatang, sehingga banyak generasi muda, poli-tikus dan abdi dalem berprilaku bar-bar dan tak taat aturan layaknya binatang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya