Karugrag dan Tentang Seimbang di atas Gelombang

Pekerja Seni
Karugrag dan Tentang Seimbang di atas Gelombang 29/06/2021 77 view Opini Mingguan commons.wikimedia.org

Orang yang menjelang sembuh dari sakit berpotensi kembali sakit bila tak sabar dan telaten menempuh tahap demi tahap proses penyembuhan. Bahasa Sunda punya istilah sendiri untuk menyebut kondisi kembali sakit saat tubuh belum fit: karugrag. Dalam konteks pandemi, karugrag mirip dengan kondisi serangan gelombang kedua.

Kondisi kesehatan orang yang karugrag biasanya lebih parah dari sakit sebelumnya. Tubuh yang belum juga fit dihantam kembali sakit. Masuk akal bila karugrag bisa lebih parah sebab serangan kedua menghantam tubuh dengan benteng yang tak lagi utuh akibat runtuh dihantam serangan pertama.

Apakah Indonesia sedang karugrag? Para ahli belum sependapat. Sebagian menilai lonjakan angka kasus yang terjadi pasca libur lebaran 2021 adalah serangan gelombang kedua. Sebagian lain menyebutnya lonjakan saja, bukan gelombang kedua sebab menganalogikannya mirip gelombang tsunami: surut dulu kemudian menanjak sangat tajam. Indonesia belum pernah sampai pada titik surut. Infeksi ada tiap hari. Yang membedakan hari satu dan yang lain hanya jumlah kasusnya.

Apa pun definisi gelombang kedua, nyatanya hari ini angka kasus positif Covid-19 naik tajam di sejumlah daerah. Tapi, peta sebarannya tidak merata. Sebagian daerah mengalami kenaikan sementara daerah lain tidak. Antar Rukun Warga dalam satu kelurahan bahkan bisa berbeda warna zona.

Per Jum’at, 25 Juni 2021, angka kasus di DKI Jakarta naik 6.934 menjadi 501.396 kasus. Nun jauh di seberang sana, di Maluku Utara, kasus terkonfirmasi hanya 4.870 kasus per Rabu, 23 Juni 2021. Sehari di Jakarta lebih banyak ketimbang dua tahun di Maluku Utara.

Di Maluku Utara sendiri, angka tiap kota/kabupaten tidak merata. Kabupaten Halmahera Utara menjadi penyumbang tertinggi dengan 1.055 kasus. Sementara Kabupaten Taliabu hanya mencatatkan 15 kasus positif.

Perbedaan tajam ini disebabkan banyak faktor. Salah satunya karena tingkat mobiltas yang rendah antar kedua daerah tersebut. Meski berada di wilayah provinsi yang sama, namun di antara keduanya terbentang Laut Maluku yang tidak mungkin diarungi dengan ojek online.

Bila ditarik garis lurus, jarak antar keduanya sekitar 500 km. Dengan jarak yang sedemikian jauh, tingkat mobilitas penduduk antar kedua daerah tersebut relatif rendah. Karenanya, tingkat penularan cenderung rendah. Meski Halmahera Utara tembus angka seribu, “tetangganya” masih bertahan di angka belasan saja.

Kondisi di Pulau Jawa sebaliknya. DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berada di peringkat pertama, kedua, ketiga, dan keempat kasus Covid-19 di Indonesia per 26 Juni 2021. Sementara DIY dan Banten berada di urutan ke kedelapan dan kesembilan. Faktornya mudah sekali terbaca: jumlah penduduk terbanyak, kawasan terpadat, dan mobilitas tertinggi. Dengan tiga variabel itu saja, pantas bila kasus di Pulau Jawa selalu tinggi.

Oleh karena perbedaan-perbedaan ini dan sekian ”kebhinekaan” lainnya, pemerintah musti cerdik membagi kuasa dan kewenangan penanganan Covid-19. Ada daerah yang harus langsung diurusi pusat. Ada daerah yang cukup dikomandoi gubernur. Ada pula daerah yang cukup diurusi bupati atau wali kotanya.

Apa yang hari ini dilakukan pemerintah sudah mengarah ke sana. Hanya saja, masih kerap tejadi tumpang tindih antara tingkat kekuasaan dan lintas instansi.

Percaya Vs Tidak Percaya

Kecuali berbagai persoalan penanganan di tingkat pemerintah, mental sebagian masyarakat juga sudah berubah, tidak sama seperti ketika menghadapi serangan gelombang pertama. Alih-alih selalu waspada, sebagian masyarakat justru merasa jemu dan muak dengan kondisi.

Hidup di masa pandemi ibarat makan buah simalakama. Keluar rumah mati kerana virus, diam di rumah mati karena kelaparan.

Selain berpengaruh pada tingkat kepatuhan, kejemuan dan kemuakan ini juga turut mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hal ihwal Covid-19. Setelah dua tahun “hidup bersama” corona, bahkan masih ada orang yang terang-terangan tidak percaya adanya Covid-19.

Yang tinggal di daerah dengan tingkat penularan tinggi, yang tetangga dan kerabatnya positif terinfeksi, barang tentu sukar untuk mengatakan tak percaya. Apalagi mereka yang pernah terpapar. Namun, buat mereka yang tinggal di daerah dengan angka kasus yang relatif rendah, yang tetangga dan kerabatnya sehat-sehat saja, ketidakpercayaan itu masih mungkin terjadi.

Kepercayaan muncul dengan cara yang berbeda-beda. Ada orang yang percaya karena ia percaya data dan ilmu pengetahuan meski belum pernah mengalaminya secara empiris, meski fenomena itu jauh secara jarak darinya.

Ada orang yang percaya karena ia percaya cerita atau pengalaman orang lain. Ada orang yang percaya karena pemerintah menyampaikan demikian. Buatnya, tidak mungkin pemerintah berbohong. Ada juga orang yang kepercayaannya sepenuhnya tergantung pada pendapat tokoh panutannya. Ia percaya karena si tokoh A mempercayai. Demikian pula sebaliknya.

Bila kepercayaan demikian beragam, begitu pula dengan ketidakpercayaan. Ada orang yang tidak percaya karena kebenciannya kepada pemerintah. Buatnya, apa pun yang disampaikan dan dilakukan pemerintah adalah salah dan bohong.

Ada orang yang tidak sepenuhnya percaya ”kata berita” sebab yakin akan teori konspirasi elit global. Jadi, ia percaya adanya Covid-19 tapi tidak sepenuhnya percaya apa yang muncul media-media arus utama. Orang jenis ini biasanya punya tingkat kepercayaan rendah kepada lembaga semacam WHO dan tentu saja negara.

Ada pula orang yang tidak sepenuhnya percaya “kata berita” karena mereka lebih mempercayai data dan ilmu pengetahuan “alternatif”. Untuk fenomena ini, tentang Hyper Reality Akut dan sejumlah pernyataan lain yang disampaikan Indro Cahyono yang sempat viral adalah contoh terbaik.

Dengan peta sebaran yang beragam dan tingkat kepatuhan serta kepercayaan masyarakat yang juga berbeda-beda, kondisi karugrag hari ini nampaknya lebih kompleks dari serangan sebelumnya.

Seimbang di Atas Gelombang

Kendati demikian, bukan berarti pandemi ini tak kan berakhir. Gelombang datang. Dan tidak ada yang lebih asik bermain dengan gelombang kecuali seorang peselancar. Keseimbangan adalah kunci utamanya.

Segala upaya medis masih terus dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat. Prokes masih terus dikampanyekan. Yang melanggar tak segan ditindak. PPKM Mikro masih berlaku. Sekolah tatap muka bahkan urung dilakukan sebab banyak daerah masuk zona merah.

Yang masih sering luput dari ingatan adalah bahwa penyakit ini bukan hanya soal virus yang menyerang saluran pernapasan. Sakit apa pun, pada dasarnya bukan hanya mengenai tubuh kasar (lahir/fisik/raga) yang terganggu, yang terinterupsi. Melainkan tubuh dalam arti seluas-luasnya: tubuh kasar-halus; lahir-batin; fisik-meta fisik; jiwa-raga.

Manusia bukanlah mesin yang batasan-batasannya dapat dengan dingin dipilah dan dikategorisasikan. Tentang kondisi batin yang mempengaruhi kesehatan lahir sudah terkonfirmasi oleh ilmu psikologi. Namun, sayangnya, hal ini masih kurang mendapat perhatian.

Masyarakat perlu dikokohkan mental dan pikirannya dengan cara apa pun sejauh tidak sesat dan menyesatkan. Yang yakin pada meditasi, meditasilah. Yang yakin pada yoga, yogalah. Yang yakin dengan wirid, wiridlah. Yang yakin pada do’a, berdo’alah.

Terlepas dari percaya atau tidak, suka atau tidak kepada pemerintah, yang lebih penting untuk menahan lonjakan kasus ini adalah tetap berpikiran positif atas hidup. Setidaknya yakin bahwa “aku kuat, aku sehat” seraya mengoptimalkan ikhtiar. Waspada harus, tapi jangan sampai tegang dan berlebihan.

Masyarakat juga perlu hiburan agar tidak suntuk dengan kabar kematian dan rumah sakit yang kewalahan. Tapi hiburan yang menyegarkan jiwa dan pikiran. Bukan hiburan yang membuat bodoh, yang sekedar memantik tawa semu atau memupuk konsumerisme seperti yang sering seliweran di televisi.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya