Tak Sabar Ingin Lepas Masker

Pegawai Negeri Sipil
Tak Sabar Ingin Lepas Masker 07/04/2021 133 view Lainnya Eitrawmaterials.eu

Beberapa hari belakangan saya mendapat pertanyaan yang sama dari kelompok penerima vaksin yang kami periksa. “Kapan kami bisa melepas masker?” Tanya mereka sebelum menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis kedua. Seolah suntikan dosis kedua memberikan kekebalan menyeluruh terhadap pandemi Covid-19.

Dua bulan terakhir saya bertugas memeriksa kelayakan penerima vaksin. Menjawab berbagai pertanyaan terkait dengan vaksin Covid-19 merupakan hal rutin yang saya lakukan. Mulai dari menjawab pertanyaan terkait informasi vaksin sampai upaya untuk meyakinkan sasaran penerima vaksin bahwa vaksin Covid-19 aman dan halal. Namun, pertanyaan tentang kapan bisa melepas masker cukup mengusik sebab pertanyaan tersebut muncul dari petugas publik. Saya berpikir bila petugas publik mulai memiliki keinginan melepas masker setelah vaksinasi, bagaimana dengan masyarakat yang akan menerima vaksin pada tahap ketiga dan keempat.

Masker telah menjadi kebutuhan primer di masa pandemi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa masker efektif mengurangi penyebaran infeksi virus corona baru (SARS-CoV-2). Masker dapat mencegah penyebaran droplet virus dan manfaat kebijakan penggunaan masker juga terbukti menurunkan angka infeksi Covid-19.

Di sisi lain, penggunaan masker juga menimbulkan kejenuhan. Penelitian MacIntyre CR dan rekan (2021) menunjukkan bahwa pengalaman buruk seseorang ketika menggunakan masker dan persepsi Covid-19 hanya memiliki tingkat keparahan ringan menyebabkan keengganan orang tersebut untuk menggunakan masker. Rutinitas penggunaan masker berkepanjangan juga memunculkan istilah “mask fatigue”. Istilah tersebut dikaitkan kepada seseorang yang merasa lemas atau lelah setelah mengenakan masker dalam jangka waktu lama.

Lalu, layakkah kejenuhan dan efek kurang menyenangkan dari penggunaan masker tersebut menjadi landasan untuk tidak menggunakannya. Terutama setelah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menerbitkan pedoman yang menyatakan bahwa dua orang yang telah mendapatkan vaksinasi dapat melepas masker ketika saling bertemu. CDC beranggapan bahwa pertemuan keduanya memiliki risiko rendah penularan Covid-19. Namun, CDC tetap merekomendasikan protokol kesehatan di tempat-tempat umum dan menghindari keramaian atau ruangan dengan ventilasi yang tidak baik.

Beberapa penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa vaksin bekerja sesuai dengan prediksi mekanisme kerjanya. Vaksin memberikan potensi perlindungan dari penyebaran infeksi dan mencegah penyakit. Bukti penelitian awal juga memperlihatkan bahwa dua vaksin pertama di Amerika Serikat (Pfizer dan Moderna) tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga secara signifikan mencegah penyebaran virus corona baru.

Indonesia menggunakan vaksin yang berbeda. Mayoritas sasaran vaksinasi di Indonesia menerima vaksin CoronaVac produksi Sinovac. Vaksin CoronaVac hingga tulisan ini saya buat belum memiliki data atau bukti penelitian terkait dengan proteksinya untuk penyebaran pandemi. Meskipun demikian, program vaksinasi di Indonesia jelas akan menurunkan potensi sakit berat dan angka kematian pada pasien Covid-19. Hal tersebut juga menjadi tujuan vaksinasi Covid-19.

Di masa pandemi, kita berhadapan dengan banyak angka dan data. Terdapat lebih dari 23 ribu penelitian ilmiah yang terbit dengan topik Covid-19 pada tahun lalu. Tentu butuh analisis yang baik sebelum menerapkan seluruh kesimpulan dan informasi penelitian-penelitian tersebut ke dalam kebijakan protokol kesehatan untuk mencegah dan mengendalikan pandemi. Termasuk kebijakan boleh melepas masker bagi orang yang telah mendapatkan suntikan vaksin Covid-19.

Kita sedang melawan virus baru yang bahkan terus berkembang. Beberapa negara terus menemukan bentuk baru (varian) hasil mutasi virus SARS-CoV-2. Selain itu, kita juga menghadapi masalah lainnya akibat mutasi tersebut. Penelitian Hansen CH dan rekan yang terbit pada jurnal The Lancet menemukan bahwa potensi reinfeksi (infeksi berulang) Covid-19 pada 0,65% dari pasien Covid-19 di Denmark.

Varian baru virus berpotensi meningkatkan peluang seseorang mengalami reinfeksi. Pada beberapa studi kasus, kondisi infeksi ulang menunjukkan gejala yang lebih berat. Namun, para peneliti tetap optimis bahwa infeksi ulang tidak terjadi pada mayoritas pasien Covid-19. Peneliti juga terus mempelajari bagaimana sistem kekebalan tubuh kita bereaksi terhadap virus atau vaksin Covid-19. Termasuk berapa lama pastinya kekebalan tubuh (antibodi) akan bertahan setelah diberikan vaksin.

Pentingnya Tetap Menjalankan Protokol Kesehatan Setelah Vaksinasi

Belum tersedianya informasi terkait dengan seberapa efektif vaksin CoronaVac (Sinovac) mencegah penyebaran, potensi seseorang mengalami reinfeksi Covid-19, dan bertambahnya varian virus corona baru menjadi dasar penekanan bahwa kita masih tetap butuh menjalankan protokol kesehatan.

Pertanyaan di awal bahwa “kapan kita dapat melepas masker?” saat ini mungkin belum memiliki jawaban. Kita masih harus mematuhi protokol kesehatan seperti mencuci tangan, menggunakan masker, dan menjaga jarak.

Proses vaksinasi terus berjalan dan akan semakin banyak penduduk yang menerima vaksin hingga target kekebalan kelompok (herd immunity) terpenuhi. Vaksinasi secara umum akan menurunkan angka kecacatan, kematian, dan kesakitan. Namun, kita tetap harus menggunakan masker dan melakukan langkah pencegahan dan pengendalian Covid-19 lainnya. Jadi, kita harus bersabar untuk bisa melepas masker ketika pandemi masih terus berlangsung.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya