Impian Masuk Piala Asia dan Piala Dunia di Tengah Corona

Impian Masuk Piala Asia dan Piala Dunia di Tengah Corona 18/06/2020 901 view Lainnya CNN Indonesia

Pagi buta setelah salat subuh, saya berlari atau jogging di jalan kampung yang gelap, sepi dan hening. Udara pagi yang segar berhembus dan membuat lari saya semakin melaju kencang. Tiba-tiba sosok loper koran datang menghampiri saya yang tengah asyik berlari. Kegiatan jogging pun terhenti dan saya pun mulai membaca koran KR (Kedaulatan Rakyat).

Perusahaan media cetak yang didirikan oleh HM. Samawi dan Martono Wonohito ini merupakan surat kabar harian lawas yang sudah terbit sejak 27 September 1945 silam. Dan tercatat dalam sejarah sebagai salah satu koran pertama, setelah kemerdekaan Republik Indonesia serta masih konsisten terbit hingga kini.

Saya mulai membaca dari headline koran tersebut hingga berujung pada bagian rubrik olahraga, yang berada di halaman 16 atau terakhir, dan berhenti disana. Mata saya tertuju pada judul "Jadwal Timnas Indonesia Mundur". Kemudian membuat saya berpikir, sebagai seseorang yang masih percaya jika Timnas Indonesia dapat menorehkan prestasi di kancah internasional.

Isi dalam pemberitaan tersebut ialah Kualifikasi Piala Dunia 2022 Mundur, yang seharusnya sudah dilangsungkan pada bulan Maret dan April lalu diundur dan akan digelar pada bulan Oktober dan November esok.

Tim Nasional Indonesia masih menyisakan tiga pertandingan lagi yakni, Matchday 7 akan melawat ke Stadion Rajamangala, Thailand pada 8 Oktober. Yang notabene adalah musuh bebuyutan di kawasan Asia Tenggara. Setelah itu pada Matchday 8 Indonesia akan menjamu tamunya Uni Emirat Arab (UEA) yang telah dijadwalkan pada 13 Oktober.

Dan pada pertandingan terakhir atau Matchday 9 Timnas Indonesia akan bertandang ke Stadion Nasional My Dinh bersua Vietnam di tanggal 12 November. Meski peluang Indonesia untuk lolos ke babak berikutnya ini sudah tertutup, akan tetapi tiga hasil laga sisa tadi berpengaruh ke ajang lainnya, yakni Kualifikasi Piala Asia 2023.

Ternyata baru saya sadari. Kualifikasi Piala Dunia 2022 merupakan satu rangkaian / bagian dari proses Kualifikasi Piala Asia 2023. Jika ternyata Indonesia di tiga laga sisa nanti selalu menang, dan at least tidak menjadi juru kunci, maka salah satu tiket play-off untuk ikut serta dalam ajang Kualifikasi Piala Asia 2023 berhasil diamankan.

Menurut saya pribadi, lebih baik publik bola Indonesia sadar dan mawas diri. Karena setiap tahunnya dari sejak saya kecil tahun 2000 hingga kini, Piala AFF lah yang selalu menjadi titik fokus perburuan agar mengakhiri dahaga gelar sejak 1996 silam. Jika pada tahun ini akhirnya Indonesia berhasil menjadi pemenang, bisa saja akan dianggap sebagai pencapaian terbesar di negara ini.

Tapi apakah benar? Nyatanya tidak juga. Mari kita coba menelusuri google dan kemudian mengetik keyword "Piala AFF 2020 tidak masuk kalender FIFA". Dan memang keuntungannya adalah rival Indonesia berkurang. Namun masih saja disana menyisakan Australia, Singapura dan Vietnam. Yang jika kita lihat grafik permainan serta klasemen FIFA menunjukkann peningkatan cukup pesat.

Tapi apakah rakyat Indonesia sudi dan rela dengan peta persaingan yang "kurang gayeng" serta "kurang menantang" seperti Piala AFF yang terakhir digelar pada tahun 2018? Alangkah heroiknya dan begitu dipujanya para punggawa Garuda jika melawan seluruh tim nasional yang berada di kawasan ASEAN, dan berhasil memenangkan kontestasi yang sejak dahulu diidam-idamkan.

Bisa kita lihat, siapa saja partisipan yang telah mengumumkan undur diri dari ajang tersebut; Filipina, dan dua musuh bebuyutan kita Thailand serta Malaysia. Kedua negara tersebut ingin fokus melanjutkan roda kompetisi yang digelar di masing-masing negara. Langkah yang baik dan patut dicontoh. Mari kembali berjuang dan fokus terhadap proses bernama kompetisi / liga, masih banyak hal yang perlu diperbaiki.

Mungkin apabila esok BLAI (Badan Liga Amatir Indonesia) dapat kembali lagi dan dipercayai untuk mengurus Liga 3 yang jumlah peserta nya masyaAllah "akeh tenan". Jika kita lihat track record nya, pengelolaan Divisi 1 hingga Divisi 3 bahkan mengurus kompetisi usia muda yakni Haornas Cup U-15 dan Soeratin Cup U-18, pada era dahulu sangatlah baik tersusun secara rapi dan memiliki pasar yang dapat menarik perhatian berbagai sponsor.

Serta tak kalah pentingnya, adalah mengintip peluang untuk mencuri poin dari sisa tiga laga Kualifikasi Piala Dunia. Yang akan dilakoni pada bulan Oktober dan November esok. Dengan diadakannya training camp serta sembari melakukan jajak kemampuan / bertanding dengan tim nasional ,yang gaya permainannya hampir sama.

Mungkin saja pihak statistik Tim Nasional dapat berkoordinasi dengan pihak hubungan kerjasama eksternal PSSI atau pihak lainnya. Akhirnya berkirim surat dengan calon lawan tanding, meski tidak harus masuk dalam kalender FIFA.

Namun setidaknya, Timnas Indonesia racikan Shin Tae-yong dapat diuji dan dapat terlihat pola permainan, mentalitas bertanding serta bagaimana adaptasi dilakukan oleh para pemain karena sudah lama libur latihan dan berkompetisi. Hal-hal yang harusnya dapat dilihat secara jauh (visioner) meski di tengah pagebluk ini.

Thailand, UEA serta Vietnam memang bukanlah lawan yang “enteng” untuk dikalahkan. Namun ketika usaha keras & pantang menyerah serta seluruh jiwa raga telah dikorbankan "demi" melihat Bumi Pertiwi tersenyum bangga, saya rasa semua kemustahilan dapat dipatahkan, tak mengenal rekor pertemuan.

Demi mengamankan satu tiket play off babak Kualifikasi di ajang yang menurut saya lebih bergengsi & lebih menarik untuk dinanti daripada Piala AFF. Yang nyatanya setiap pertandingannya tak akan dihitung dan diakumulasikan menjadi tabungan poin agar semakin meningkat di klasemen FIFA.

Karena dahulu, mungkin bisa saya tebak impian sejak kecil para bocah laki-laki di Indonesia adalah menjadi pemain sepakbola. Dan ingin membawa Garuda Terbang Tinggi di kancah Piala Dunia.

Meskipun impian menjadi pemain sepakbola tidak terwujud, namun impian untuk melihat para punggawa Garuda membawa panji suci Merah Putih di dada. Serta mendengarkan lagu Indonesia Raya berkumandang di turnamen sepakbola yang paling bergengsi dan bersifat multinasional sementereng bak Piala Dunia.

Tak akan surut dari hati yang terdalam & doa yang senantiasa dipanjatkan oleh 271 juta jiwa* (Sensus Penduduk tahun 2020 masih dalam proses penghitungan oleh BPS). Entah kapan itu semua akan terjadi & berapa lama lagi kita dapat melihat dan mendengarkan Indonesia Raya berkumandang di kancah Piala Dunia namun tidak melalui sebuah film fiksi / rekayasa? Semoga, besok mungkin kita sampai.

"Setiap ada kemustahilan yang dipatahkan, sesungguhnya di situ ada kemungkinan yang terus dihidupkan."
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya