Peran Keluarga dalam Membentuk Sikap Toleransi Anak

Mahasiswa
Peran Keluarga dalam Membentuk Sikap Toleransi Anak 30/04/2022 97 view Lainnya pixabay

Indonesia merupakan negara besar yang memiliki jumlah pulau terbanyak di dunia. Alhasil Indonesia mempunyai masyarakat yang majemuk. Indonesia kaya akan ragam budaya, bahasa, suku, dan tradisi-tradisi. Ada sekitar 1.340 suku dari 300 kelompok etnik, dan 726 bahasa daerah di mana sekitar 300 bahasa daerah masih aktif dipakai. Di Indonesia ada 6 agama yang diakui (Islam, Kristen, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu) serta ada lebih dari 50-an kepercayaan lokal.

Adanya masyarakat yang majemuk itu merupakan sebuah anugerah dari Allah SWT. Namun jika hal itu tidak dikondisikan dengan baik, maka akan muncul penyakit yang bernama “intoleransi”. Intoleransi menjadi ancaman serius bagi keragaman suatu bangsa, tidak terkecuali Indonesia. Intoleransi juga dapat dianggap sebagai pemantik radikalisme di tengah-tengah keragaman bangsa.

Berdasarkan hasil riset Wahid Foundation, Indonesia memiliki potensi intoleransi yang cukup besar. Ada 61,3% memiliki masalah dengan kelompok lain dan ada sekitar 49 % termasuk kategori intoleran. Oleh karenanya perlu tindakan-tindakan preventif untuk mencegah terjadinya tindak intoleransi. Salah satunya dengan menanamkan pendidikan toleransi sejak dini melalui lingkungan keluarga.

Makna Toleransi

Secara bahasa, toleransi dapat berarti sebuah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan dada. Menurut istilah, toleransi berarti bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat pandangan, kepercayaan, kebiasaan) yang berbeda dan yang bertentangan dengan pendiriannya. Jadi kesimpulan makna toleransi adalah sikap sabar dalam menanggung beban perasaan terhadap sesuatu yang berbeda, baik berbeda pendapat, keyakinan, maupun praktik peribadatan.

Orang yang tinggal di lingkungan yang majemuk harus mempunyai budaya toleransi yang baik. Budaya toleransi dalam konteks ini adalah tindakan untuk bersabar, menahan diri, menghargai, menghormati, tidak mengganggu atau melecehkan pihak lain. Sikap toleransi harus ditanamkan ke generasi muda sejak dini. Keluarga, sekolah, komunitas sosial, dan pemerintah harus aktif dalam memberikan nilai-nilai toleransi kepada generasi muda, terutama kepada anak-anak. Jika pendidikan toleransi sudah berjalan dengan baik, maka masalah intoleransi dan hal-hal negatif lainnya terkait masalah keragaman akan hilang dengan sendirinya.

Pendidikan Toleransi di Keluarga

Pendidikan tidak selamanya dimaknai dengan belajar di dalam kelas (pendidikan formal). Proses belajar yang sesungguhnya ialah di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat tatkala manusia berhubungan satu dengan lainnya. Hal itu dimulai di dalam lingkungan rumah atau keluarga. Pendidikan keluarga merupakan pertama dan utama bagi setiap individu yang lahir. Secara sosiopsikologis, pendidikan keluarga memegang peran penting dalam pendidikan toleransi. Efektivitas penanaman nilai-nilai toleransi sangat tergantung pada sejauh mana komitmen, partisipasi, dan keaktifan sebuah keluarga.

Terdapat sejumlah argumen mengapa keluarga merupakan instrumen strategis dalam penanaman toleransi ke anak. Pertama, keluarga adalah madrasatul ula (sekolah pertama) bagi anak. Peluang dan tingkat resiprokalitas komunikasi ke anak sangat tinggi di dalam lingkungan keluarga. Komunikasi dalam lingkungan keluarga bisa lebih intensif dibanding di lingkungan luar.

Kedua, masa kanak-kanak merupakan masa emas dalam dunia pendidikan, oleh karenanya penanaman pendidikan karakter termasuk nilai-nilai toleransi harus dilaksanakan sejak dini.

Ketiga, keluarga adalah sebuah alat filter dari pengaruh-pengaruh negatif yang ada. Dalam hal itu, keluarga juga harus bisa menjadi role model yang baik untuk anak.

Setiap keluarga harus menerapkan sistem pendidikan yang baik agar anak-anak sejak dini terbiasa dengan toleransi. Ada beberapa cara yang dapat digunakan oleh para orang tua untuk mendidik dan melatih anaknya terkait toleransi. Adapun caranya antara lain melalui keteladanan. Metode keteladanan adalah pembelajaran dengan memberi contoh, baik berupa tingkah laku, sifat cara berfikir dan sebagainya. Dalam hal ini orang tua harus menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya. Sebagai contoh, orang tua bisa memberi contoh untuk saling menghormati setiap teman, tetangga, dan orang-orang yang ada di sekitar rumah. Orang tua juga bisa memberikan contoh kerja sama dan gotong royong dengan semua masyarakat tanpa memandang usia, agama, maupun sukunya.

Cara berikutnya adala memberi nasehat. Metode nasehat adalah metode paling dasar dalam pendidikan toleransi di dalam keluarga. Melalui sebuah nasehat, orang tua bisa mengarahkan anaknya ke jalan yang lebih baik. Dari proses interaksi dan komunikasi ini, secara tidak langsung nilai-nilai toleransi bisa ditanamkan ke dalam diri anak

Kemudian melalui cara pembiasaan. Metode pembiasaan merupakan hal yang tidak bisa dilepaskan dalam sebuah pendidikan toleransi. Setelah memberikan sebuah keteladanan dan nasehat, maka para orang tua harus menekankan anak-anaknya untuk membiasakan diri bersikap toleran. Untuk membiasakan anak bersikap toleran terkadang harus dengan dipaksa. Terkadang memang perlu sebuah pemaksaan dalam membiasakan berbuat baik, maka dari itu orang tua harus terus memantau sikap dan perilaku anak-anaknya.

Itulah 3 (tiga) metode yang dapat digunakan oleh para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai toleransi ke anak. Toleransi adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan, jadi hal itu harus diberikan kepada anak-anak. Tidak ada pembelajaran yang instan, semua ada prosesnya masing-masing dan tetap membutuhkan daya juang dan kesabaran.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya