Hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan

Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang
Hidup adalah Kristus dan Mati adalah Keuntungan 03/11/2020 1731 view Opini Mingguan pixabay.com

Setiap Minggu the columnist senantiasa memberikan sumbangsih bagi generasi milenial dalam memberikan opininya.

The columnist bertujuan melatih kekritisan dan ketangkasan kaum muda dalam menganalisis setiap perkembangan hidup terutama berkaitan dengan intektualitas.

Setiap sajian atau bahan yang diberikan memiliki keberagaman aspek-aspek kehidupan. Mulai dari perpolitikan, kehidupan sosial kemasyarakatan, pemenuhan kebutuhan dalam kehidupan di bidang perekonomian, hingga aspek kerohanian yang merujuk pada keagamaan.

Bagi saya memberikan opini di bidang keagamaan memiliki keunikan dan keistimewaan tersendiri. Sebab, agama adalah aspek paling radikal dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini agama merupakan perwujudan iman saya kepada Tuhan.

Agama menjadi sorotan dan perhatian semua orang. Bahkan hanya karena agama semua aspek kehidupan yang lain turut terlibat dalam permasalahan soal agama. Kiranya ini menjadi hal baik bagi saya dan generasi muda dalam membangun bangsa ini agar mampu memahami pluralisme agama di Indonesia dalam membangun bangsa dan negara ini. Tujuannya agar setiap umat beragama semakin dimampukan untuk meningkatkatkan rasa menghormati, menghargai, toleransi dan memamdang keanekaragaman agama yang ada di Indonesia ini sebagai kekuatan bangsa. Terima kasih kepada The columnist.

Bagaimana jika agamamu dihina? Pertanyaan ini menjadi buah refleksi dan permenungan mendalam bagi saya dan para pembaca yang budiman dalam merefleksikan sejauh mana relasi dan kemendalaman antara “aku dan agamaku”.

Setiap orang tentu tidak ingin jikalau agamanya dihina bukan? Hal ini terbukti secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak persoalan yang dapat anda temukan hanya karena agama. Semua itu karena agama. Mulai dari kehidupan sosial hingga politik. Yang paling radikal adalah dalam panggung percaturan politik. Semua mengatasnamakan agama demi mencapai kekuasaan, korupsi, kolusi dan nepotisme, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya mengatasnamakan agama. Agama kerap kali menjadi polemik.

Agama merupakan instrumen dalam kehidupan. Agama adalah jembatan kehidupan antara langit dan bumi. Jembatan antara saya dan Tuhan. Agama adalah perziarahan hidup manusia untuk sampai pada Sang Kesempurnaan hidup. Sebuah jembatan Ilahi yang akan membawa saya untuk mampu mencapai kebahagiaan yang sempurna, kekal, dan abadi.

Kebahagiaan yang dimaksudkan bukanlah persoalan tentang harta, tahta, kekuasaan, kenikmatan duniawi dan semua hal yang bersifat materi. Kebahagiaan yang dimaksud adalah tata batin antara saya dan Tuhan. Relasi untuk memaknai hidup yang semakin baik, berbudi luhur dan hidup sebagai orang yang bermartabat di hadapan sesama dan Tuhan. Agama adalah buatan manusia karena kerinduannya untuk dapat sampai kepada Sang Ilahi. Tempat di mana manusia akan mencapai kesempurnaan hidup.

Tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan keburukan, hal yang negatif, yang akan mengantar manusia kepada kebinasaan hidup. Kebinasaan yang dimaksud adalah kesesatan yang berujung pada keberdosaan, penyesalan dan kepunahan hidup.

Setiap agama yang ada di dunia ini senantiasa mengajarkan kebaikan, moral, perilaku agar menjadi manusia yang bermartabat bagi sesamanya terutama bagi Tuhannya. Agama tidak pernah salah. Yang salah adalah Si pengiman, pelaksana, dan pemilik agama itu sendiri. Dalam hal ini subyeknya, pelakunya.

Lalu bagaimana jika agama saya dihina? Saya sebagai orang Katolik tentu sangat menjunjung tinggi agama saya. Dan, saya yakin inipun dimiliki oleh saudara-saudari saya yang beragama Muslim, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu dan berbagai kepercayaan lainnya.

Sebagai orang yang beriman akan Kristus saya tidak akan pernah marah jika agama saya dihina. Sebab, di dalam agama saya terdiri dari suatu perkumpulan orang-orang dengan berbagai karakter dan sifat serta kepribadian.

Agama Katolik menampung semua orang baik dan buruk/ jahat. Agama Katolik diimani oleh orang berdosa yang menyadari kesalahan dan keberdosaannya sehingga menjadikan agama menjadi jalan menuju pertobatan yang sejati. Pertobatan untuk mencapai pada kemendalaman relasi dengan Tuhan. Karena itu penghinaan terhadap agama adalah sesuatu yang baik dan positif.

Penghinaan agama perlu dihlihat dari kacamata iman sehingga tidak menimbulkan konflik. Penghinaan terhadap agama bagi saya adalah sebuah proses untuk selalu bertobat dan berefleksi diri. Menyadari keadaan dan perkembangan hidup. Sejauh manakah saya mengenal agama saya dengan sungguh-sungguh dan menghidupinya. Dan, saya yakin ini pun diimani dan diyakini oleh Saudara saya yang beragama lain. Karena itu jika ada yang menghina agama saya, saya akan menjadikannya buah refleksi dan permenungan untuk semakin hidup sebagai orang bertuhan.

Hal-hal yang akan saya lakukan jika ada yang menghina agama saya: Pertama, melihatnya dari segi iman. Sebagai orang yang beriman kepada Kristus, saya akan menjadikannya sebagai bentuk ungkapan iman saya. Artinya jikalau ada yang menghina agama saya maka saya perlu meninjau kembali sudah sejauh mana saya mengimani Tuhan saya melalui agama yang saya miliki.

Kedua, menjadikannya sebagai cerminan diri. Jikalau saya orang yang beragama, orang yang bertuhan, orang yang beriman. Mengapa saya harus menghina agama orang? Bukankah penghinaan terhadap agama orang lain adalah bentuk penghinaan terhadap agama sendiri. Dengan kata lain jikalau ada orang yang menghina agama saya maka menjadi tantangan bagi saya sendiri untuk semakin meningkatkan sikap toleransi dalam beragama. Bahwa penghinaan terhadap agama tidaklah dibenarkan. Justru kita sebagai orang yang beragama harus menolong orang tersebut agar kembali memaknai hidup keagamaannya dengan sesungguh-sungguh.

Ketiga, menerapkan hukum cinta kasih. Sebagai orang yang beragama tentu ada nilai-nilai kebaikan dan pengajaran untuk berbuat baik. Cinta kasih adalah cara terbaik bagi diri saya untuk menerima diri jika ada yang menghina agama saya. Artinya saya harus semakin meningkatkan hukum kasih terhadap orang lain agar orang lain memahami nilai-nilai kasih dalam agamanya.

Kasih itu murah hati, kasih itu sabar dan tawakal, kasih tidak memegahkan diri, kasih tidak merendahkan martabat orang lain, kasih memberikan penghargaan dan toleransi terhadap perbedaan, kasih memberikan keharmonisan hidup, kasih memberikan kedamaian, sukacita, dan kebahagiaan sejati. Dengan cinta kasih yang saya miliki maka hidup keagamaan saya pun akan dipenuhi oleh perbuatan kasih.

Keempat. Berdoa. Jika ada orang yang menghina agama saya maka tugas saya bukan membencinya, melawannya, berkonflik dengannya. Melainkan, mendoakannya agar hidup beragamanya semakin baik dan berkembang. Saya akan mendoakannya agar dia mampu sadar, memahami, dan kembali kepada jalan yang benar. Doa adalah kekuatan hidup beriman. Dengan berdoa dan penyerahan diri kepada Yesus Kristus maka saya akan mampu hidup seperti-Nya.

Hidup yang karena dihina, diolok, sengsara, disalibkan, hingga wafatnya memperoleh ganjaran kehidupan abadi. Kebangkitan mulia karena percaya bahwa dibalik penderitaan ada kebahagiaan. Dibalik kematian ada kehidupan. Dibalik dukacita ada sukacita. Dibalik penghinaan terhadap agama ada sikap untuk meningkatkan toleransi dalam hidup beragama. Karena saya menyadari “Penderitaan zaman ini tidaklah sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan Tuhan terhadap saya” (bdk Roma 8:18. Dan akhirnya saya akan sungguh-sungguh menyadari karena “Hidup adalah Kristus dan mati adalah Keuntungan” (bdk Filipi 1:21).

"Mari Bertoleransi demi kemajuan NKRI"

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya