Sejarah Rohingya: Asal dan Akar Konflik Rohingya

Mahasiswa
Sejarah Rohingya: Asal dan Akar Konflik Rohingya 18/02/2024 123 view Lainnya Dokumentasi Universitas Airlangga

Beberapa waktu lalu, Indonesia kedatangan tamu yang mencari tempat untuk mengungsi, yakni Rohingya yang menginjakkan kaki di Aceh. Namun, kedatangan mereka mendapat sebuah penolakan dari warga Aceh. Rangkuman sejarah Rohingya di bawah ini akan menjelaskan siapa itu Rohingya dan dari mana mereka berasal.

Secara umum, Rohingya (dulu dikenal sebagai Arakan) merupakan sebuah kelompok etnis minoritas yang awalnya tinggal di Rakhine State (sebelumnya dikenal dengan Burma) di Myanmar. Orang Rohingya mengakui diri mereka sebagai suku asli Burma saat itu, namun pemerintah Myanmar tidak mengakui mereka demikian. Justru, Myanmar menganggap mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Berdasarkan dua hal itu juga terjadi konflik yang serius antara Myanmar dengan Rohingya sampai akhirnya orang-orang Rohingya diusir dari negara tersebut dan baru-baru ini meminta Aceh untuk menerima mereka. Keadaan Rohingya ini menarik perhatian internasional yang mayoritas organisasi berbasis HAM dan beberapa negara lain menyayangkan apa yang menimpa Rohingya dan turut prihatin.

Tahun 1785, Rohingya yang dulu bernama Arakan (diambil dari nama wilayah, Arakan), dikuasai oleh Bamar, yakni sebuah kelompok etnis yang dominan di Burma yang sering menindas Arakan. Tahun 1799, 35 ribu orang melarikan diri ke Benggala Britania untuk menghindari perlakuan keras dari Bamar. Saat itu pula istilah ‘Rohingya’ lahir dan menjadi sebutan tetap bagi warga Arakan tersebut. Nama Rohingya atau ‘Rooinga’ itu berarti penduduk asli yang sudah menetap lama di Arakan yang mayoritas juga merupakan pemegang agama Islam.

Tahun 1823, Burma saat itu berada di bawah kekuasaan Inggris dan mereka menahan imigran dari Bengali dan imigran asli India untuk menetap di Burma untuk bekerja di sawah dan kebun teh. Selama itu pula, penganut Buddha di Burma merasa terancam dan tidak didukung oleh pemerintahan Inggris, melainkan Inggris lebih memilih muslim yang mayoritas dianut orang Rohingya itu untuk mengisi kegiatan administratif mereka. Kemudian, orang Burma yang menganut Buddha itu merasa bahwa tanah murni mereka adalah pemeluk agama Buddha yang menjadikan hal tersebut sebagai dorongan nasionalisme mereka dalam mencapai kemerdekaan Burma.

Saat Perang Dunia II, Inggris mundur dari Burma dan beralih ke India, lalu datanglah Jepang yang mulai menyerang Burma. Namun, mereka justru menyambut Jepang atas tersingkirnya kolonial Inggris dari tanah mereka. Berbeda dengan Rohingya yang justru pro-Inggris karena dukungan mereka kepada Rohingya selama masa kekuasaannya di Burma. Sayangnya, Jepang yang anti Inggris justru menindas Rohingya atas sikap mereka yang mendukung Inggris dan mempersenjatai Rohingya khususnya muslim untuk membela diri mereka terhadap serangan Jepang.

Tahun 1945, Jepang mundur dari Burma dan tiga tahun kemudian, akhirnya Burma memperoleh kemerdekaan mereka dari Inggris. Namun, Burma tetap menolak Rohingya sebagai warga negara mereka yang sah sampai-sampai Muslim Rohingya memulai gerakan untuk bergabung dengan Pakistan yang saat itu merupakan negara baru satu tahun terbentuk. Di bawah kendali Jenderal Ne Win, pemerintah Burma melakukan serangkaian operasi militer terhadap Rohingya.

Tahun 1971, di masa perang pembebasan Bangladesh, beberapa orang Bengali mencari perlindungan ke Arakan meskipun terpaksa. Hal tersebut menimbulkan aksi protes besar-besaran dari penduduk Buddha Arakan yang takut kalah jumlah dan pemerintah Burma secara terpaksa mengusir lebih dari 200 ribu muslim dari Arakan itu kembali ke Bangladesh, termasuk penduduk asli Rohingya.

Di tahun 1982, pemerintah Burma mulai memberlakukan UU Kewarganegaraan Tahun 1982 yang di dalam dokumen itu telah mengidentifikasi 135 kelompok etnis di mana menurut pemerintah menetap di Burma sebelum tahun 1823 dan Rohingya tidak termasuk dalam ratusan kelompok tersebut. Tahun 1823 sendiri merupakan tahun pecahnya perang Inggris dan Burma untuk pertama kali.

Pada saat Inggris mendorong Bengali dan India bermigrasi, pemerintah Burma menyatakan bahwa mereka yang dibawa Inggris bukanlah penduduk asli Burma dan dianggap menempati Burma secara ilegal. Bahkan terdapat bukti substansial mengenai catatan sensus Inggris yang menyatakan bahwa Rohingya merupakan etnis yang sudah lama mendiami wilayah tersebut selama beberapa tahun sebelum kehadiran Inggris.

Beberapa etnis minoritas di Myanmar khususnya Rohingya mendapatkan tindakan diskriminasi dari pemerintahan militer yang memerintah Myanmar pada 1980 an sampai 2000 an. Berbagai gerakan nasionalis yang masih menganggap Burma sebagai tanah murni bagi Buddha Burma dan menggunakan hal tersebut untuk memperkuat legitimasinya. Kemudian di tahun 2012, timbul kerusuhan antara muslim Rohingya dengan umat Buddha Rakhine yang ternyata didorong pemerintah Burma untuk ikut serta kerusuhan tersebut dengan jaminan makanan gratis dan pisau dalam keikutsertaan mereka.

Berdasarkan pihak berwenang Burma, kericuhan yang terjadi itu menewaskan 78 orang dan 140 ribu orang mengungsi akibat pembakaran desa. Kericuhan tahun 2012 itu mengakibatkan pemerintah Burma mulai memberlakukan jam malam dan mengerahkan militer di wilayah Arakan. Peraturan itu membuat penangkapan dan kekerasan yang ditujukan kepada masyarakat Rohingya semakin meningkat.

Pada 2015, perhatian global tertuju pada krisis kemanusiaan yang menimpa Rohingya di mana mereka sedang berlayar di lautan dalam upaya mereka untuk mencari tempat tinggal baru di wilayah Asia Tenggara dan Malaysia merupakan tujuan utama mereka kala itu.

Hingga di bulan November 2023, setelah diketahui sepanjang 2022 orang Rohingya melakukan perjalanan panjang ke seluruh penjuru Asia Tenggara, mereka berlabuh di Indonesia, tepatnya di Sabang, Aceh untuk bermigrasi dan mencari tempat tinggal baru. Meskipun begitu tujuan mereka, rupanya Aceh menolak maksud kedatangan mereka itu.

Demikian sejarah Rohingya secara singkat. Konflik kemanusiaan yang menimpa mereka diharapkan dapat selesai dengan damai.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya