Gondrong Adalah Hak Segala Bangsa

Gondrong Adalah Hak Segala Bangsa 11/04/2020 2134 view Lainnya pinterest

Memiliki rambut gondrong adalah sesuatu yang istimewa bagi sebagian lelaki. Mereka menganggapnya sebagai suatu reward dan identitas diri mereka. Namun sebagian orang masih menilai kalau orang berambut gondrong adalah orang yang buruk karena tidak rapi alias tidak enak dipandang.

Entah mengapa di era yang serba digital ini masih ada saja orang yang melihat pribadi orang lain hanya dari luarnya saja. Bahkan sebelum mengetahui namanya sudah berani menilai isi kepala beserta kepribadiannya. Apakah itu hal yang waras?

Stigma-stigma buruk terhadap orang berambut gondrong ini tidak saja dilanggengkan di masyarakat. Dalam dunia perkuliahan misalnya, masih banyak terjadi praktik-praktik rasisme soal larangan orang berambut gondrong. Seakan-seakan semua orang yang berambut gondrong adalah pembangkang, penjahat dan pembawa masalah.

Semisal teman seperkuliahan saya, ini terjadi di kampus tercinta saya yang nama universitasnya dirahasiakan saja. Dirinya pernah diusir dan tidak boleh mengikuti perkuliahan hanya karena berambut gondrong. Teman saya ini diberi kesempatan masuk kelas hanya jika dia mau memangkas pendek rambutnya.

Yang menjadi pertanyaan apa hubungan rambut gondrong dengan kegiatan belajar? Apakah rambut berpengaruh terhadap daya pikir seseorang ? Saya pikir tidak ada korelasinya sama sekali. Selama ia mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas dan tidak membuat keributan di kelas tentu tidak ada salahnya.

Dunia sudah modern tapi masih banyak pemikiran manusia-manusia yang belum bisa mengikutinya. Masih ada doktrin-doktrin masa lalu yang terus tertanam, menempel dan terus tumbuh di kepala sebagian orang. Menilai sebelum membaca dan mengenal menurut saya bukanlah suatu kemajuan, justru kemunduran pemikiran.

Pikirkan saja bagaimana cara kita mengetahui rasa mie ayam tanpa mencicipinya? Rasanya berendam di air panas tanpa menceburkan diri? Lalu apakah sah jika kita menilai kepribadian orang lain tanpa mengenalnya? Yang lebih buruk jika orang tersebut mendapat cap buruk dan menyebabkan dirinya kehilangan hak mendapatkan ilmu dari proses belajar di perkuliahan seperti teman saya tadi.

Rambut gondrong juga memiliki cakupan yang luas dan bukan hanya sekadar mahkota di kepala. Gondrong juga memiliki sejarah yang cukup penting untuk diceritakan kembali. Misalnya pada masa lalu rambut gondrong pernah menjadi simbol dan identitas pemuda dalam perjuangan revolusi Indonesia. Seperti yang dikatakan Ali Sastromidjojo dalam otobiogarfinya kalau kekuatan revolusi di Yogyakarta pada awal tahun 1946 digambarkan dengan gaya rambut pemudanya yang gondrong dan urakan.

Entah sejak kapan stigma buruk terhadap orang-orang gondrong tumbuh dalam masyrakat. Mengingat sejarah mengatakan perlawanan-perlawanan terhadap penguasa yang otoriter sedikit-banyaknya dilakukan orang berambut gondrong.

Namun kalau boleh menuduh, saya akan menyalahkan Orde Baru sebagai biang dari masalah ini. Pada rezim Soeharto pemuda yang gondrong dianggap sebagai pemuda yang acuh tak acuh dan pembangkang. Lalu tak tanggung-tanggung rezim ini melakukan kampanye anti gondrong ke suluruh pojok masyarakat.

Menurut hasil penelitian Jurnal of Indonesian History tentang Rambut Gondrong di Semarang Pada Tahun 1967-1973 pada masa Orba anak muda yang ideal adalah ia yang patuh pada orang tua seperti konsep keluarga Jawa.

Lalu dikatakan kalau pengaruh gaya rambut gondrong pada masa itu juga dipengaruhi oleh band asal Inggris, The Beatles yang identik dengan rambut gondrong. Melihat trend yang terjadi di lingkungan anak muda itu, pemerintah merasa khawatir karena pemerintah menganggap cara berpakaian dan gaya rambut sebagai tolak ukur yang ideal untuk menilai tingkah laku anak muda.

Dikutip dari buku Dilarang Gondrong! Praktik kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda Awal 1970-an diceritakan pada masa itu aparat negara mulai melakukan razia di jalan terhadap pemuda berambut gondrong. Dalam operasinya pemerintah melibatkan anggota pasukan teritorial. Namun senjata yang mereka gunakan bukan lagi senjata laras panjang, seperti AK-47 atau M-16 melainkan gunting rambut. Menggelikan, bukan ?

Pada masa Orba komunis bukan jadi satu-satunya yang ditakuti pemerintah. persoalan rambut gondrong juga dianggap penting dan ekstrem sehingga dibutuhkan penanganan yang serius. Hal tersebut membuat rambut gondrong menjadi soal yang perbincangkan di koran-koran dan majalah.

Seperti yang dikutip dari buku Massa Misterius Malari : Rusuh Politik Pertama dalam Sejarah Orde Baru yang ditulis oleh Widiarsi Agustina, pada masa Orba TVRI yang merupakan televisi milik pemerintah ikut berperan dalam kampanye pelarangan rambut gondrong dengan melarang artis maupun seniman yang gondrong untuk tampil di stasiun TVRI.

Lalu berita-berita orang berambut gondrong yang disiarkan selalu berkonotasi negatif, seperti pencurian, pembunuhan, pemerkosaan dan lain-lain. Sehingga mulai tumbuhlah stigma buruk pemuda gondrong yang menganggap mereka sebagai penjahat dan anti pemerintah.

Namun pada masa itu, aktivis mahasiswa tidak gentar dan gerakan perlawanan terhadap rezim Soeharto semakin banyak yang berambut gondrong. Pilihan berambut gondrong digembor-gemborkan sebagai bentuk keresahan mahasiswa terhadap ekonomi yang menurun dan korupsi yang merajalela. Tidak salah rasanya jika pilihan untuk berambut gondrong dilakukan sebagai pembeda antara kubu gerakan mahasiswa dan kubu militer pemerintah Orde Baru.

Namun di era sekarang di mana demokrasi mulai lahir, untuk menjadi aktivis tidak perlu dan harus berambut gondrong, walau rambut gondrong identik dengan perlawanan dan kritik. Untuk melakukan perlawanan terhadap keotoriteran penguasa kita cukup berani dan memiliki kekuatan pantang menyerah untuk berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik.

Gondrong adalah pilihan, baik sebagai simbol atau sekadar gaya rambut saja. Bukankah berekspresi merupakan bentuk kemerdekaan dalam diri. Menyampaikan keberadaan diri dengan berekspresi juga termasuk hak asasi manusia, yang tidak boleh diganggu sebab itu hak yang diperoleh sejak kelahirannya di bumi ini.

Melarang untuk berambut gondrong bisa dikatakan mengganggu hak asasi orang lain. Begitu tidak adil rasanya menilai orang lain hanya karena stigma buruk di masa lalu. Kalau kita mau membuka mata lebih lebar lagi, bukti nyata gondrong pembangkang, gondrong acuh tak acuh dan lainnya mungkin tidak kita temukan di era modern ini.

Pada kenyataannya, banyak orang gondrong yang memiliki pemikiran dan wawasan yang luas. Lebih sopan dari orang yang bergaya rapi dan lebih ramah dari orang berpotongan rambut pendek. Bukan ingin merendahkan orang berambut pendek dan rapi, tapi gondrong memang tak seburuk yang dipikirkan kebanyakan orang. Sepertinya kalimat, “Jangan menilai buku dari covernya saja,” ada benarnya juga.

Banyak orang gondrong yang terkenal dan berprestasi pada bidangnya masing-masing. Dari keagamaan hingga kesenian, sedikitnya orang-orang ini telah membantu menghapus stigma buruk gondrong dan mengembalikan hak orang gondrong menjadi manusia biasa. Yang bisa produktif dan berkarya juga.

Sedikitnya ada beberapa orang yang bisa menjadi bukti. Seperti seorang kyai yang viral karena melakukan dakwah di lokasisasi dan klub malam. Sesuatu yang tak biasa dilakukan oleh Gus Miftah, kyai dengan gaya rambut gondrong ditutupi blankon khas orang Jawa.

Lalu dari dunia perfilman ada Adipati Dolken, Chiko Jerikho dan Reza Rahardian yang sering terlihat tampil dengan rambut gondrongnya. Lanjut ke dunia permusikan indie ada Jason Ranti dan Fajar Merah dengan lirik-lirik lagunya yang puitis dan bercerita soal tragedi sehari-hari.

Orang-orang ini telah menepis stigma dan doktrin negatif orang berambut gondrong. Sebagai bangsa yang telah merdeka dan berpikir, kita perlu sadari dan tanam dalam diri kalau gondrong tidak pernah merusak otak dan pemikiran. Gondrong hanya bentuk kemerdekaan berekspresi dan gondrong adalah hak segala bangsa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya