Fazlur Rahman: Metode Penafsiran Gerakan Ganda

Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya
Fazlur Rahman: Metode Penafsiran Gerakan Ganda 24/06/2023 104 view Agama commons.wikimedia.org

Fazlur Rahman Malik (1919-1988) atau yang lebih dikenal dengan Fazlur Rahman merupakan salah satu tokoh penting dalam pembaharuan dalam dunia Islam. Ia merupakan seorang muslim yang taat dan penganut madzhab Hanafi. Pemikiran besar Fazlur Rahman berangkat dari analisis ayahnya sendiri yang menunjukkan bahwa Islam harus dapat menghadapi tantangan zaman dengan kehadiran modernitas.

Fazlur Rahman mewarisi semangat ayahnya yang suka belajar. Maka tidak mengherankan di usia sepuluh tahunnya, ia telah menghafalkan 30 juz dalam Al-Qur'an. Ia juga memiliki kegemaran untuk belajar filsafat, bahasa Arab, tafsir, dan hadits. Ia juga menguasai banyak bahasa di antaranya adalah bahasa Urdu, Persia, Inggris, Prancis. Eropa Kuno, Jerman, dan Bahasa Latin.

Keresahan utama Fazlur Rahman adalah berawal dari pengamatan terhadap tradisi di lingkungan sekitarnya yang tidak menunjukkan adanya perkembangan. Untuk menjawab keresahannya tersebut, ia percaya bahwa Al-Qur'an sebagai pedoman dan sumber utama dapat menjadi penggerak semangat bagi umat Islam itu sendri. Dengan ini juga ia meyakini bahwa Islam dapat berkembang sesuai dengan perubahan zaman.

Pemikiran Islam dari Fazlur Rahman dibagi menjadi tiga tahapan. Pertama, pemikiran Fazlur Rahman belum menyentuh ranah yang serius pada kajian normatif. Ia menulis Prophecy in Islam: Philosophy and Orthodoxy (1985) untuk merespon serangan internal, yaitu ketidakpuasan warisan madzhab hukum yang selalu berubah mengikuti waktu dan merespon serangan eksternal, yaitu serangan kritikus barat terhadap Islam.

Kedua, pemikiran Fazlur Rahman mulai menyentuh kajian normatif dengan tujuan untuk merumuskan kembali Islam agar dapat menghadapi tantangan era kontemporer. Pemikiran tahap keduanya ini juga bertujuan untuk menyelaraskan kehidupan kaum muslim Pakistan agar dapat hidup selaras dengan tuntunan Islam dengan hasil interaksinya saat menimba ilmu di barat.

Dalam tahap ketiga, ia telah menjadi pemikir yang independen dan berkomitmen tinggi untuk membawa Islam agar dapat menghadapi persoalan dan tantangan dari perubahan zaman.

Pemikiran besar yang digagas olehnya adalah mengenai cara penafsiran terhadap teks Al-Qur'an yang dikenal dengan hermeneutika double movement. Adapun hermeneutika merupakan seni atau metode untuk memahami dan menafsirkan teks. Sedangkan double movement dapat diartikan sebagai gerakan ganda. Jadi, hermeneutika double movement merupakan metode penafsiran dengan gerakan ganda.

Fazlur Rahman menyodorkan hermeneutikanya sebagai sebuah solusi jika metode penafsiran pada tahap pertama. Fazlur Rahman juga meyakini bahwa jika penafsiran ganda ini diterapkan pada ayat-ayat Al-Qur'an maka segenap perintah Allah dapat lebih efektif diterapkan di masa kini.

Hermenutika double movement ini dihadirkan untuk dapat menjawab persoalan-persoalan yang terjadi di era kontemporer. Hermeneutika dengan gerakan ganda ini menggunakan prinsip utama, yaitu dua gerakan berpikir, yaitu induktif dan deduktif. Dalam hermeneutika ini, Fazlur Rahman memberikan dua tahapan saat akan melakukan penafsiran terhadap ayat-ayat Al-Qur'an.

Pertama, seorang penafsir harus melihat terlebih dahulu konteks peristiwa dan kondisi saat suatu ayat tersebut diturunkan (asbabun nuzul). Seorang penafsir harus mampu mengambil pesan apa yang pertama kali disampaikan saat ayat-ayat yang sedang dikaji itu diturunkan.

Kedua, setelah pesan yang sudah digali dari konteks ayat-ayat yang sudah dikaji dalam tahap pertama, maka selanjutnya adalah mengambil prinsip-prinsipnya saja untuk dapat dikontekstualisasikan dalam era kontemporer. Dengan demikian, maka yang ingin disasar oleh Fazlur Rahman adalah mengambil prinsip-prinsip mendasar dari Al-Qur'an.

Fazlur Rahman juga menyarankan kepada umat Islam untuk menggunakan hermeneutika double movement ini kedalam teks-teks hadits. Baginya, hadits juga merupakan segala informasi yang mencakup perkataan dan perbuatan nabi yang dapat digunakan sebagai ketetapan landasan dalam beragama.

Menurut Fazlur Rahman, agama Islam dengan Al-Qur'annya bukan sekedar teks murni yang berasal dari Allah, melainkan juga sebuah tradisi yang dikonstruksi dari dialektika antara teks dan konteksnya. Baginya dalam menentukan hukum dalam Islam, umat Islam tidak dapat mengandalkan sandaran terhadap teks saja, melainkan juga harus mempertimbangkan nilai terbaik untuk menyesuaikan pemahaman terhadap teks tersebut.

Dengan demikian metode yang diberikan oleh Fazlur Rahman ini meniscayakan bahwa penafsiran terhadap teks keagamaan, baik dari Al-Qur'an atau hadits merupakan sumber utama untuk menjawab permasalahan sosial, politik, hukum, dan ekonomi tertentu. Baginya penafsiran dengan langkah ganda pada ayat-ayat Al-Qur'an akan selalu relevan dan dapat diaktualisasikan sesuai perkembangan zamannya, bahkan sepanjang zaman.

Fazlur Rahman merupakan salah satu tokoh besar yang sering kali dianggap sebagai tokoh neomodernisme dalam Islam. Beberapa tokoh Islam juga menganggapnya sebagai tokoh liberal dalam Islam. Meskipun terkesan sangat liberal, metode penafsiran dari Fazlur Rahman telah menjadi kontribusi besarnya bagi kajian keislaman dan sangat perlu untuk dilakukan pengkajian lanjutan terkait dengan hal tersebut.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya