Emansipasi Butuh Solusi

Statistisi Ahli Pertama di Badan Pusat Statistik
Emansipasi Butuh Solusi 17/03/2021 76 view Budaya transperfect.com

Dahulu kala, ada seorang wanita yang dengan suratnya mampu mencatatkan namanya dalam sejarah sebagai tokoh emansipasi wanita. Dialah RA Kartini.

Kartini dikenang bukan tanpa alasan. Menyandang status sebagai bangsawan, kartini dapat mengenyam pendidikan yang dahulu hanya dapat diperoleh oleh anak bangsawan. Pendidikan membuat Kartini muda cemerlang, tidak hanya mahir berbahasa Belanda, ia pun memiliki pemikiran yang kritis. Kombinasi yang jarang ditemukan dalam diri wanita pada zamannya.

Kartini muda menyampaikan pikiran kritisnya dalam surat berbahasa Belanda kepada teman-temannya. Di antara hal yang ia resahkan adalah tradisi feodal yang menindas, praktek perkawinan paksa, dan pentingnya pendidikan bagi para wanita. Karena surat itulah ia dikenal sebagai tokoh emansipasi wanita

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, emansipasi adalah pembebasan dari perbudakan atau persamaan hak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti persamaan hak kaum wanita dengan kaum pria.

Jika pada zaman dahulu emansipasi wanita erat dengan pemikiran Kartini untuk memperjuangkan hak bagi para wanita, utamanya dalam hal pendidikan, pada zaman sekarang emansipasi wanita berkembang dalam berbagai bidang, seperti kesetaraan dalam dunia politik, pekerjaan, dan lain sebagainya.

Perkembangan itu tampaknya tak mengherankan, karena dalam hal pendidikan, perempuan dan laki-laki tak lagi dibedakan. Angka Partisipasi Sekolah perempuan pada tahun 2019 bahkan lebih tinggi daripada laki-laki (BPS). Hal ini menunjukkan bahwa para orang tua tidak lagi membeda-bedakan pendidikan anak laki-laki dan perempuan. Sehingga salah satu yang menjadi pembeda dan sering diperjuangkan adalah peran serta perempuan dalam dunia kerja. Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) bahkan mengeluarkan program 3 Ends yang salah satunya bertujuan mengakhiri kesenjangan ekonomi bagi wanita.

Dari sisi orang tua pun tampak selaras, keinginan agar anak perempuannya memperoleh kemandirian finansial, mengangkat harkat dan martabat orang tua, ditambah keberadaan tokoh wanita cerdas yang sukses seperti Sri Mulyani membuat para orang tua menggebu-gebu untuk menyekolahkan anak perempuannya hingga setinggi-tingginya, yang muaranya tentu saja berkerja. Bahkan populer ucapan di masyarakat "Untuk apa wanita sekolah tinggi-tinggi jika tidak berkerja".

Ya, masyarakat, utamanya para orang tua, tampaknya sudah sangat siap menggeser budaya seorang wanita yang pada zaman dahulu identik dengan urusan rumah tangga menjadi wanita karir. Namun masyarakat lupa bahwa wanita setinggi apapun karirnya tentu akan menikah dan menjadi ibu rumah tangga. Dengan posisinya sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja, tentu akan memberikan beban ganda kepadanya. Karena ia harus memikul tanggung jawab dua orang sekaligus, tanggung jawab seorang istri untuk mengurus rumah sekaligus tanggung jawab untuk mencari nafkah.

Di sisi lain, masyarakat lupa untuk menyiapkan anak laki-lakinya untuk menjadi seorang yang bisa membantu istri dalam urusan rumah tangga. Budaya yang masih berkembang hingga saat ini adalah para wanita harus bisa melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak dan suami, tanpa ada syarat dan ketentuan berlaku. Sementara para laki-laki tidak dituntut demikian. Sehingga banyak kita temui wanita karir yang harus keteteran mengurus rumah tangganya.

Beruntung jika wanita ini hidup di keluarga dengan penghasilan berlebih sehingga bisa menyewa bala bantuan dari asisten rumah tangga atau pengasuh. Atau jika ia mempunyai orang tua dan mertua yang bersedia membantunya mengurus anak dan rumahnya di tengah kondisi yang sudah renta dan sepuh.

Namun bagaimana jika wanita-wanita ini hidup di rumah tangga dengan penghasilan pas-pasan? Sebagaimana kondisi sebagian besar wanita karir saat ini. Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja BPS, pada 2020 rata-rata pendapatan wanita karir hanya Rp 2.111.992. Dengan upah yang terbatas seperti ini, menyewa pembantu tentu tidak memungkinkan. Ditambah jika ia tidak memiliki bantuan orang tua untuk mengurus anak dan rumahnya. Mau tidak mau dia dan suaminya harus bekerja sama untuk mengurus rumah tangga. Jika tidak, maka habislah terkuras tenaga dan pikirannya untuk bekerja dan mengurus rumah seorang diri.

Namun sayangnya sangat sedikit suami yang mau membantu mengurus rumah tangga. Masyarakat dan para laki-laki masih berpedoman pada budaya patriarki bahwa suami harus dilayani di rumah. Padahal mereka lupa bahwa budaya itu ada karena pada zaman dulu laki-laki bertugas mencari nafkah dan istri mengurus rumah tangga (saja).

Jika budaya itu dibawa kepada para wanita karir yang hidupnya serba pas-pasan, tentu akan sangat memberatkan si wanita. Padahal wanita kodratnya adalah seorang yang lemah fisiknya. Namun wanita karir yang terjepit ini dijadikan seperti seorang superwoman, harus mencuci, memasak, menyetrika, mengurus suami dan anak-anak, lalu ditambah mencari nafkah berjam-jam. Sementara para laki-laki hanya dituntut bekerja dan membantu sekedarnya, jika ia menginginkan. Tidak ada tuntutan bahwa jika keduanya bekerja maka pekerjaan mengurus rumah tangga dibagi proporsional sesuai sisa waktu setelah bekerja.

Lebih menyebalkan lagi jika laki-laki ini pengangguran, merekapun tetap tidak mengambil alih urusan rumah tangga yang ditinggalkan istrinya karena harus banting tulang bekerja di luar. Banyak penulis temui wanita yang bekerja mulai dari pekerjaan rendah seperti buruh cuci harian hingga pekerjaan elit seperti PNS, sementara suaminya tidak bekerja atau bekerja serabutan. Herannya para suami ini tidak mau berinisiatif membantu sebagian besar urusan rumah tangga. Alasannya tentu saja karena kodrat dan budaya di masyarakat. Ada juga yang beralasan karena agama.

Padahal jika dilihat dari sisi agama mengenai kewajiban mengurus rumah tangga, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili berkata dalam fatwanya, dengan dalil QS An Nisaa’:19 “Dan pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang ma’ruf”. Dan dalam QS Al Baqoroh: 228 “Dan hak mereka semisal kewajiban mereka dengan cara yang ma’ruf”.

Menurut beliau yang dimaksud dengan ‘urf dalam ayat-ayat ini, adalah sesuatu yang dikenal dan berlaku di kebiasaan masyarakat muslimin dan tidak bertentangan dengan syariat Allah subhanahu wa ta’ala.

Maka jika seorang wanita berasal dari suatu golongan yang dikenal dalam sebuah masyarakat bahwasanya wanita dari golongan ini disebabkan kedudukan dan kemuliaannya tidak perlu melayani suaminya, maka kasus ini keluar dari perkataan mayoritas ulama (red: bahwa istri harus melayani suami).

Nah, jika menilik fatwa di atas, bahwa yang menjadi patokan dalam hal mengurus rumah tangga adalah 'urf/kebiasaan/budaya yang berlaku di masyarakat. Jika di masyarakat tersebut budayanya istri harus diberikan pembantu, maka suami harus menyediakan pembantu. Jika budayanya istri mengerjakan semua urusan rumah tangga tanpa bekerja di luar, maka istri harus di rumah saja dan mengerjakan semua urusan rumah tangga.

Ternyata urusan pekerjaan rumah tangga dalam agama pun dikembalikan kepada 'urf/budaya. Sayangnya budaya telah bergeser mendorong wanita untuk bekerja namun tidak mendorong laki-laki untuk membantu urusan rumah tangga. Tentu saja hal ini membuat para wanita menjadi kelelahan dan kewalahan. Pendapat dari masyarakat, ejekan dari para laki-laki lainnya jika suami membantu istri, tanggapan negatif dari mertua, membuat wanita mau tidak mau harus menanggung letih di tempat kerja dan letih mengurus rumah. Padahal jika saja para laki-laki atau orang yang berkomentar itu ada di posisi wanita karir yang terjepit ini, tentu mereka merasa lelah dan tidak adil.

Wanita-wanita ini adalah korban dari budaya. Jika kita tidak bisa serta merta mengubah stereotype di masyarakat, setidaknya kita dapat memulainya dari keluarga kita, seperti mengajarkan anak kita dari kecil baik perempuan maupun laki-laki kemampuan-kemampuan dasar rumah tangga seperti menyapu, memotong-motong sayur, mencuci, memasak sederhana. Hal ini untuk menumbuhkan empati dan kesetaraan dalam menolong dan bekerja sama.

Setelah dewasa tekankan kepada para anak laki-laki bahwa jika ia tidak bisa menafkahi istrinya sepenuhnya dan membuat istrinya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, maka ia harus membantu istrinya sang wanita karir ini untuk mengurus rumah tangga secara proporsional, jika tidak mampu maka sediakan pembantu rumah tangga.

Demikianlah, semoga masyarakat sebagai penggerak emansipasi wanita dapat lebih bertanggung jawab terhadap keinginannya. Sehingga terwujud emansipasi wanita yang bersolusi, memberikan kebahagiaan dan kebanggaan kepada semua, baik orang tua, suami, terutama wanita sebagai pelaksananya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya