Dari Jubileum sampai Benturan Peradaban

Dari Jubileum sampai Benturan Peradaban 31/08/2021 100 view Budaya www.wikiwand.com

Peringatan Hari Kemerdekaan yang baru saja berlalu membuat saya teringat salah satu artikel di kumpulan kisah sejarah tulisan Ong Hok Ham: Dari Priyayi sampai Nyi Blorong. Dalam kisah berjudul Pesta Emas dalam Sejarah: Suatu Renungan, dikisahkan tentang peringatan ulang tahun emas Indonesia tahun 1995. Peringatan istimewa yang sering disebut jubileum sering diperingati terhadap suatu titik penting sejarah seperti kemerdekaan, perang dunia, atau peristiwa bersejarah lain.

Dalam pengamatan Ong Hok Ham, jubileum di Indonesia sering hanya berisi serangkaian seremoni, berbeda dengan di Eropa dan Amerika. Meski tercatat sebagai pemenang Perang Dunia II, dalam jubileum tentang peristiwa kemenangan Sekutu, mereka sering memunculkan tulisan sejarah. Bahkan tak sedikit yang mempertanyakan apakah perlu bom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki. Baik dalam tinjauan moral kemanusiaan, ataupun dalam kajian strategi perang.

Ada penyesalan dan perasaan berdosa di sana. Seperti juga Presiden Prancis Jacques Chirac yang mengakui kolaborasi orang Prancis dengan Jerman dalam usaha pemusnahan kaum Yahudi, atau Belanda yang mengakui ekses-ekses yang dilakukan tentaranya selama Perang Kemerdekaan Indonesia (1945-1950). Sebaliknya, di Jepang, peran Jepang sebagai agresor yang kejam dalam PD II dilunakkan dalam buku-buku sejarahnya.

Jepang selalu memberi tema yang sangat samar tentang peran mereka dalam pecahnya Perang Pasifik. Tindakan ini banyak dikritik Barat dan negara-negara di Asia. Semua mengharapkan keterbukaan Jepang terhadap sejarah agresor tersebut agar para korban memiliki goodwill bahwa Jepang kini negara yang tentram.

Menurut Ong Hok Ham dalam tulisan itu, bila Jepang hanya mau melihat masa lampau sebagai baik-baik saja, maka fokus Indonesia adalah pada masa kini yang selalu dilihat sebagai baik sekali. Sedikit sekali ruang diberikan untuk renungan, perasaan berdosa, atau penyesalan kita atas kejadian-kejadian buruk di masa lampau. Perdebatan intelektual hampir tidak ada dan renungan mengenai eksistensi bangsa sedikit sekali menjadi isu publik.

Tulisan Ong itu ditulis di masa Orde Baru. Tak heran ia mengamati bahwa semua tulisan tentang Indonesia masa itu selalu baik-baik saja. Siapalah yang berani kritis terhadap Orde Baru? Berbeda dengan masa setelah reformasi, masyarakat jauh lebih kritis, dan pemerintahan tak lagi imun dari kritikan. Semakin menguat di era media sosial.

Menarik diulas juga Peringatan 100 Tahun terbebasnya Nederland dari Penjajahan Kaisar Napoleon pada tahun 1913 di Hindia Belanda. Sebagaimana pesta kenegaraan kolonial lainnya, termasuk pesta ulang tahun Sri Ratu, pesta ini hanya diperuntukkan bagi orang Belanda, khususnya pejabat. Kalangan pribumi yang diundang mungkin hanya para bupati dan istri-istri mereka serta pejabat tinggi pangreh praja.

Waktu itu ada tiga orang tokoh pemuda kita yang tersinggung: Tjipto Mangunkusumo, Suwardi Suryaningrat, dan Douwes Dekker. Mereka tersinggung pada pesta tersebut karena menggunakan uang yang dikumpulkan dari rakyat, sementara rakyat hanya diminta menonton orang berpesta.

Jubileum tahun 1913 itu menjadi salah satu titik sejarah yang sangat penting bagi gerakan nasionalis, menjadi titik awal konfrontasi antara penjajah dan yang dijajah: pemerintah Hindia Belanda dan bumiputera. Banyak sejarawan dan akademisi yang mengkaitkan pesta jubileum itu dengan budaya Jawa yang menganggap ‘pesta’ adalah kata yang sensitif.

Pesta sendiri berawal dari bahasa Portugis, tetapi kemudian disematkan untuk kata jumenengan dalam bahasa Jawa. Jumenengan adalah upacara penobatan raja ataupun kegiatan serupa. Sebuah pesta tradisonal yang bersifat lebih massal dari pesta-pesta dalam tradisi barat. Menghadirkan sebanyak mungkin masyarakat, serta mengharapkan partisipasi mereka baik berupa tenaga maupun materi.

Kehadiran dan partisipasi dalam pesta tradisional ini sangat sensitif dalam budaya Jawa. Ketidakhadiran seseorang, terlebih pejabat ataupun pangeran, dapat dianggap langkah pertama dari pembangkangan. Daftar hadir akan diamati dengan teliti. Hal ini berlainan dengan tradisi barat. Barat menganggap kehadiran atau partisipasi adalah suatu kehormatan, bukan kewajiban atau pun loyalitas. Lain padang, lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Inilah perbedaan budaya.
 
Masalah budaya seringkali tanpa kita sadari sering menjadi persoalan besar dalam kehidupan sehari-hari. Tak heran bila Samuel Huntington menuliskan dampak-dampak dari benturan peradaban dalam The Clash of Civilizations and Remaking of World Order. Menurut Huntington, setelah komunisme hancur, boleh dibilang demokrasi dan pasar bebas (dengan aneka kadar kebebasan tergantung masing-masing negara) menjadi satu-satunya konsep ideologi negara yang diterima.

Sejak itu dunia menghadapi persoalan-persoalan baru yang paradoks. Informasi yang makin masif, dunia yang makin mengglobal dan menyerupa di satu sisi, serta pertentangan budaya di pihak lain. Perebutan pengakuan atas identitas kelompok, mempertahankan budaya dan identitasnya dengan memerangi budaya lain. Bersifat tribal, artinya berbasis kelompok. Ini terjadi antara kelompok-kelompok dengan akar tradisi budaya berbeda.

Inilah yang disebut benturan peradaban oleh Huntington. Merujuk pada Wikipedia, benturannya mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan individu. Wilayah budaya.

Menarik juga kita perhatikan perjalanan sejarah peradaban manusia, dunia ternyata penuh benturan-benturan dan pertentangan yang berujung lahirnya pemahaman dan tatanan baru. Sejarah memperlihatkan bahwa moral dan nilai-nilai adalah sesuatu yang dinamis. Ada masa saat perbudakan adalah legal seperti juga kita melihat belum terlalu lama dari saat ini, merokok di gedung pelayanan publik masih diperbolehkan. Kita mungkin kaget melihat artikel pengiriman anak balita melalui jasa ekspediasi di awal abad 20. Pada zamannya hal itu bukan saja legal namun juga tidak terasa ‘kejam’.

Sejarah mencatat sistem monarki absolut banyak yang runtuh seiring dengan pecahnya Perang Dunia I. Kolonialisme kehilangan simpati setelah Perang Dunia II. Kurang lebih 30 tahun lalu, Francis Fukuyama dalam The End of History mengulas kemenangan ‘demokrasi liberal’ melawan komunisme berkonsekuensi hilangnya polar ideologi.

Demokrasi menjadi satu-satunya tata kelola kehidupan sosial politik yang dominan. Setelah masa itu pertentangan akan tetap terjadi hanya dalam koridor penerimaan pada demokrasi dan pasar bebas. Dan Fukuyama benar, pertentangan masa kini bertumpu pada benturan budaya.

Maka sains pun seakan-akan berlomba-lomba memasukkan unsur ‘budaya’ dalam kajian-kajiannya. Ilmu Ekonomi melahirkan kajian cultural political economy. Suatu kajian ekonomi yang tak melulu bertumpu pada rasionalitas seperti dalam ekonomi klasik, atau hanya terbatas kebijakan ekonomi, kebijakan publik, serta pelayanan publik seperti dalam kajian ekonomi kritis.

Kajian ekonomi ini mengamati dua paradoks besar era ini: perkembangan teknologi informasi yang membuat kita semakin terhubung dan makin menyerupa dalam budaya. Namun di sisi lain, menyikapi pergolakan kuat di tengah-tengah masyarakat tentang budaya atau identitas mana yang digunakan.

Masuknya kajian budaya dalam ilmu ekonomi ini membuat banyak indikator-indikator yang selama ini menjadi acuan kemakmuran atau harapan hidup berubah. Harapan hidup dan kebahagiaan tak lagi hanya tercermin dari tingginya pendapatan per kapita.

Kajian-kajian tentang moral pun demikian. Pertanyaan tentang dari manakah asal muasal ‘moral’ kini bertambah dengan satu unsur lagi, budaya. Sebelumnya hanya ada dua arus besar nalar atau intuisi. Ternyata nalar maupun intuisi tidak lahir begitu saja dari ruang hampa, keduanya pun dipengaruhi budaya.

Setelah benturan-benturan ini mereda, faktor ‘budaya’ akan memunculkan bangsa-bangsa yang jaya dan bangsa-bangsa yang lemah bahkan punah. Atau bahkan di masa datang, ketika Artificial Intelligence makin menguasai kehidupan manusia, budaya lah yang akan menjadi penentu apakah homo sapiens tetap dapat berkuasa atas AI.

Seperti juga sains yang kini memasukkan unsur budaya dalam setiap bahasannya, bangsa-bangsa pun mulai harus mereview budayanya. Apa yang harus diperkuat, apa yang harus dipoles, dan apa yang harus ditinggalkan. Bukan semata dalam rangka kompetisi menjadi bangsa yang kompetitif, namun dalam rangka survival.

Bagaimana dengan Indonesia?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya