Childfree: Sebuah Pilihan yang Menuai Kontroversi

Anak Rumahan
Childfree: Sebuah Pilihan yang Menuai Kontroversi 30/08/2021 86 view Opini Mingguan kumparan.com

Beberapa waktu lalu isu childfree kembali ramai diperbincangkan di dunia maya. Hal ini berawal dari postingan seorang influencer yang menyatakan jika dirinya memutuskan untuk childfree. Setahu saya, dia memang sudah lama mengatakan jika dia dan suaminya tidak ingin punya anak atau yang saat ini dikenal dengan istilah childfree.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah mengapa cerita ini kembai ramai diperbincangkan. Ternyata, ini berawal dari sesi tanya jawab di Instagram influencer tersebut. Dalam Instastorynya, dia ditanya jika tiba-tiba dikaruniai anak bagaimana perasaannya, lalu dia menjawab jika hal ini sangat tidak mungkin tejadi. Dia merasa dia sudah melakukan upaya pencegahan agar tidak punya anak.

Selain itu, sang influencer juga menganggap jika banyak ibu-ibu yang merasa dengki dengan keputusannya tersebut lalu menghujat pilihannya itu. Menurutnya ibu-ibu tersebut tidak bahagia dalam mengurus anak tapi tidak ingin mengakuinya. Sebagai efek, pilihan hidupnya sebagai seorang childfree yang disalahkan dengan dalil agama, budaya, adat, atau kebiasaan.

Sesunggungnya sudah banyak diskusi tentang masalah ini termasuk dari sisi agama Islam itu sendiri. Dari banyak referensi yang saya kumpulkan, ada dua pendapat utama yang bisa saya rangkum.

Pertama, banyak ulama yang membolehkan. Hukum menikah itu pada dasarnya adalah sunah. Karena menikah itu sunah, maka memiliki anak juga sunah. Namun, beberapa ulama menegaskan jika hal ini haruslah berdasarkan kesepakatan suami dan istri karena memiliki anak adalah hak dari keduanya.

Kedua, beberapa ulama melarang pilihan untuk childfree. Hal ini didasarkan pada ayat al-Quran yang berbunyi, “… Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki….” (QS. Asy Syura: 49-50).

Dari ayat tersebut Allah menyampaikan jika urusan anak merupakan urusan Allah. Anak adalah rezeki pemberian Allah. Jadi Allah punya kuasa penuh atas hal itu. Ini bukanlah sesuatu yang bisa diintervensi oleh manusia. Manusia hanya bisa berencana, namun Allah yang punya kuasa untuk menentukan takdir-Nya.

Menurut beberapa ulama, childfree merupakan bentuk keputusasaan terhadap rahmat Allah. Jangankan childfree, membatasi anak pun bukanlah sesuatu yang boleh dilakukan karena itu merupakan tindakan mendahului takdir Allah.

Terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang hal ini, menurut saya persoalan ini adalah pilihan hidup yang sangat personal. Setiap orang punya kebebasan untuk menentukan pilihan hidup yang mereka anggap terbaik baik diri mereka. Namun, pada kasus ini ada beberapa hal yang menjadi perhatian saya untuk diambil hikmahnya.

Mencintai Sunah Rasulullah Saw.

Di dalam agama Islam, menikah dan mempunyai anak adalah sunah atau tuntunan dari Rasulullah saw. Sebagai umat yang kelak mengharapkan syafaat dari beliau, maka sudah sepantasnya jika kita mencintai ajaran yang beliau ajarkan dan mengupayakan yang terbaik untuk dapat melaksanakannya.

Walaupun begitu, sebagai manusia, kita pasti memiliki banyak kekurangan dan keterbatasan dalam mengamalkan sunah tersebut. Tidak semua orang diberi kekuatan untuk memiliki anak. Ada yang memiliki keterbatasan secara fisik, ada yang terbatas secara mental, atau terbatas secara finansial. Ini adalah alasan-alasan yang mungkin menjadi penyebab seseorang memilih untuk childfree.

Namun, sebagai seorang muslim, ada adab yang harus kita jaga terhadap sunah Rasulullah. Wajar saja bila kita merasa belum mampu dalam melakukan suatu amalan atau ibadah, kemudian kita tidak melaksanakannya. Tetapi, mencela orang lain yang melakukannya atau mencela sunah itu sendiri bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan.

Menganggap diri sendiri lebih baik karena childfree lantas menghakimi ibu-ibu yang memiliki anak sebagai ibu yang tidak bahagia, menurut saya bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan. Terlebih lagi jika hal ini dilakukan di tengah masyarakat Indonesia yang masih menganggap jika anak adalah sumber rezeki, kebahagiaan, dan kehormatan sebuah keluarga.

Silakan saja memilih untuk tidak memiliki anak namun hormati juga keputusan orang lain yang memiliki anak atau bahkan yang punya banyak anak. Akan jauh berbeda masalah yang dimiliki orang yang memiliki anak dan yang tidak. Karena seseorang yang memilih childfree tentu tidak merasakan apa yang dirasakan ibu yang memiliki anak, maka sebaiknya tidak menghakimi atau merendahkan mereka.

Allah saja memuliakan wanita yang hamil, melahirkan, dan menyusui. Siapalah kita, manusia hina ini, yang kemudian merendahkan mereka hanya karena pilihan hidup yang berbeda.

Sebagai seorang muslim, bila belum bisa melakukan sebuah kebaikan yang diajarkan Rasulullah saw., maka meminta ampun kepada Allah adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Bukan malah menolak apalagi merendahkan sunah tersebut. Ini adalah bentuk penghambaan kita terhadap Allah dan juga bentuk cinta terhadap sunah Rasulullah saw.

Tawakal Kepada Allah

Allah memerintahkan kita untuk tawakal kepadanya dalam segala urusan. Sebagai hamba, tentu kapasitas logika kita sebagai manusia sangatlah terbatas. Untuk itu Allah menurunkan syariat yang harus kita ikuti sebagai pedoman hidup di dunia ini. Tugas kita sebagai seorang muslim adalah untuk mengikutinya. Kita tidak mengetahui apa yang terbaik untuk diri kita tetapi Allah mengetahui segalanya.

Namun, jika kita terlalu menuhankan akal sehat, lalu berputus asa dari rahmat Allah, ini bukanlah akhlak yang seharusnya dimiliki seorang muslim. Ada ulama yang memilih tidak punya anak, bahkan mereka tidak menikah. Namun, alasan mereka tidak menikah bukan karena mereka menganggap menikah itu buruk. Mereka terlalu sibuk dengan ilmu sehingga menikah bukanlah prioritas bagi mereka. Pilihan ini adalah pilihan yang diputuskan karena Allah, bukan berdasarkan asumsi, prasangka, atau hawa nafsu mereka sendiri.

Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ketika seseorang memilih untuk childfree, Allah adalah alasannya. Bila childfree disebabkan ketakutan akan masa depan? Bukankah Allah sudah menjamin semua rezeki. Allah juga yang memberi kekuatan dan kecukupan. Atau karena takut tidak bahagia? Bukankah Allah yang menurunkan kebahagiaan. Tugas kita hanyalah bertawakal kepada Allah lalu berusaha semaksimal mungkin.

Sebagai manusia, rasa khawatir itu wajar, rasa takut itu juga wajar. Namun, Allah mengajarkan kita untuk melibatkan-Nya dalam setiap keputusan. Bukan berdasarkan kemauan dan pendapat kita sendiri, tapi berdasarkan apa yang terbaik menurut Allah.

Inilah adab seorang hamba kepada Tuhannya. Bukankah Rasulullah saw. sudah mengajarkan kita untuk salat Istikharah? Untuk meminta petunjuk dan menyerahkan segala urusan kita kepada-Nya.

Menasihati tetapi Tidak Menghakimi

Menasihati dalam kebaikan adalah tugas sesama muslim. Menyampaikan ilmu sesuai dengan apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya merupakan kewajiban sebagai seorang muslim. Namun, kadang semangat untuk menyampaikan kebaikan ini terlalu berlebihan sehingga menimbulkan penghakiman dan hujatan kepada orang lain.

Sebagai manusia, Allah tidak pernah memerintahkan kita untuk menghakimi apalagi menghujat. Tugas kita hanya menyampaikan apa yang kita pahami dari syariat Allah dan Rasul-Nya dengan cara yang baik. Sebatas itu.

Bila terjadi penolakan, maka itu di luar tanggung jawab kita. Kita tidak punya kapasitas untuk menghakimi apalagi memvonis bersalah seseorang. Terlebih lagi jika hal ini merupakan hal yang masih diperdebatkan oleh para ulama.

Sebagai sesama muslim, kita dituntut untuk bisa lebih maklum. Kita diharuskan untuk memberikan uzur kepada saudara kita sesama muslim. Bila kepada orang yang tidak beriman kepada Allah saja, kita diperintahkan untuk berbuat baik, maka saudara kita sesama muslim lebih berhak atas akhlak baik tersebut.

Setiap manusia diberi akal untuk menimbang baik dan buruk. Namun standard baik dan buruk ini haruslah dikembalikan lagi pada apa yang sudah ditentukan Allah. Bila seseorang merasa memiliki anak menimbulkan lebih banyak mudarat dibandingkan manfaatnya, maka dalam Islam, mencegah kemudaratan itu lebih utama daripada mendatangkan manfaat.

Berbeda pilihan hidup itu wajar. Tidak perlu menghujat berlebihan kepada orang lain yang memiliki pendapat berbeda. Tugas kita adalah menjadi hakim untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Dengan begitu kita bisa menjadi seseorang yang lebih baik, baik di mata Allah dan juga baik di mata manusia. Tentu saja, hal ini tidak lepas dari pertolongan Allah. Wallahu’alam.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya