“Lockdown” Pariuk Nasi Akan Ambruk

Dosen, Penulis, Peneliti FH Universitas Muhammadiyah Riau dan Kandidat Doktor Ilmu Hukum UNAND
22/03/2020 3175 view Opini Mingguan Dreamstime.com

Sejumlah negara telah melakukan langkah me-lockdown negaranya atau daerahnya untuk menekan penyebaran virus corona. Hal ini disebabkan wabah Covid-19 yang semakin mengganas dan menyebabkan banyaknya penduduk dunia terjangkit virus corona secara cepat hingga menyebabkan kematian yang tidak sedikit.

Beberapa negara yang sudah melakukan lockdown adalah Spanyol, Malaysia, Prancis, Italia, Denmark, Irlandia, Belanda, dan Belgia. Sementara di Indonesia langkah melakukan lockdown belum menjadi pilihan bagi pemerintah Indonesia meskipun terdapat desakan kepada pemerintah untuk melakukan lockdown sesegera mungkin, sebelum situasi menjadi bertambah buruk sebagaimana China, Italia, dan Korea Selatan.

Desakan ini diakibatkan angka kematian di Indonesia akibat virus corona cukup tinggi. Berdasarkan data hingga 19 Maret 2020 yang ditayangkan pada video update 18 Maret 2020 oleh Kompas TV (www.kompas.tv), menyebutkan terdapat 309 kasus positif virus corona di Indonesia. Sementara itu, sebanyak 25 orang meninggal dunia dan 15 orang dinyatakan sembuh.

Dari data tersebut ternyata Indonesia menduduki peringkat ketiga resiko kematian akibat virus corona di dunia setelah China, Italia dan Korea Selatan yakni 8,3 persen. Sementara di China dari 81.000 lebih kasus infeksi virus corona tingkat kematian hanya 3,99 persen. Sementara di Italia tingkat kematian karena virus corona adalah 7,9 pesen. Adapun cara menghitung rasio tingkat kematian di sebuah negara adalah dengan menghitung jumlah orang yang meninggal dunia kemudian dibagi dengan jumlah orang positif virus corona lalu dikali 100 persen. Lalu hasil itulah yang disebut rasio tingkat kematian.

Melihat tingginya rasio kematian akibat virus corona di Indonesia, maka langkah antisipatif harus dilakukan sesegera mungkin. Langkah yang bisa diambil misalnya melakukan lockdown atau social distancing. Untuk negara sebesar Indonesia dan ketidaksiapan Indonesia dari berbagai sisi maka lebih tepat yang dilakukan adalah semi lockdown atau social distancing. Hal ini disebabkan karena jika opsi lockdown diterapkan dalam kaitan pencegahan virus corona, maka pemerintah wajib mengunci seluruh akses masuk maupun keluar, dari suatu daerah maupun negara.

Di samping itu jika lockdown diterapkan maka semua fasilitas publik harus ditutup. Seperti sekolah, pabrik, tempat umum, perkantoran, bahkan transportasi umum harus ditutup dan tidak diperkenankan beraktivitas. Dalam hal transportasi umum seperti pesawat jika lockdown dilakukan maka bisa dibayangkan ada begitu banyak penerbangan ditutup atau dibatalkan.

Apabila langkah lockdown dipilih maka aktivitas warga juga akan dibatasi siang dan malam. Hal ini dikarenakan lockdown merupakan kebijakan pemerintah untuk mengkarantina dan menutup suatu negara atau daerah. Sementara itu Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah mengatakan jika terjadi lockdown di Indonesia dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan negara-negara lain. Hal ini mengingat jumlah tenaga kerja Indonesia lebih banyak di sektor informal (https://finance.detik.com, 21 Maret 2020).

Pernyataan ini tentu tidaklah mengada, mengingat banyaknya penduduk di Indonesia yang menggantungkan “pariuk nasi” di luar sektor formal misalnya para pedagang keliling, pemilik warung kelontong, pedagang di pasar tradisional dan lain sebagainya. Apabila lockdown dilakukan maka para pekerja di sektor informal tersebut akan kehilangan pendapatan dan “pariuk nasi” akan ambruk. Namun, apabila langkah lockdown terpaksa harus dilakukan maka pemerintah harus menyiapkan bantuan keuangan kepada masyarakat menengah ke bawah yang bekerja di sektor informal. Pemerintah harus menyiapkan bantuan tersebut agar masyarakat menengah ke bawah tidak mengalami kesulitan dalam hal keuangan.

Sementara itu dalam hal penerapan social distance dilakukan bertujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang lain dalam jarak dekat, sehingga mengurangi penularan virus dari orang ke orang. Adapun hal terpenting untuk dilakukan dalam penerapan social distance adalah menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak dengan manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

Akan tetapi, meskipun Indonesia tidak melakukan langkah lockdown maka pemerintah juga perlu melakukan langkah lain sebagaimana yang dilakukan oleh negara lainnya yang juga tidak melakukan lockdown, misalnya negara Singapura dan Korea Selatan. Meskipun tidak melakukan lockdown pemerintah Singapura melakukan upaya nasional seperti mendeteksi kasus lebih awal sebelum virus corona di Singapura kian merebak dan tidak terkendali.

Di samping itu, dengan alasan masyarakat Korea Selatan tidak siap untuk diisolasi atau dikarantina maka pemerintah Korea Selatan juga tidak melakukan lockdown. Tetapi pemerintah Korea Selatan melakukan tes massal kepada warga negaranya sehingga pemerintah Korea Selatan bisa melihat bagaimana tingkat persebaran virus corona di negaranya dan bisa dengan cepat untuk menanganinya. Dua upaya yang dilakukan oleh dua negara yang juga tidak melakukan lockdown tersebut bisa dicontoh oleh pemerintah Indonesia untuk mencegah rasio tingkat kematian akibat virus corona di Indonesia.

Sehingga, di tengah kepanikan global akibat virus corona yang terjadi hari ini sudah saatnya para pemimpin memilikI pandangan yang sama dalam mengurai masalah ini. Karena masalah virus corona merupakan masalah serius dan tidak bisa disepelekan. Begitupun kita sebagai warga negara sudah saatnya saling bahu membahu mencari jalan keluar dari pendemik corona yang mematikan dan agar tidak pernah berputus pengharapan. Karena mengutip Yudi Latif, selalu ada sisi terang dari gelap. Semoga.

The Columnist memiliki obsesi menghargai artikel para intermediate writer yang belum mendapat tempat di media mainstream. Karena kami punya keyakinan, artikel yang ditolak terbit media mainstream tersebut bukan berarti tidak kritis dan menarik. Silahkan kirim artikel tersebut di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami akan bantu menerbitkan untuk menemui pembacanya.
Artikel Lainnya