Catatan Redaksi: Menaikkan Kualitas Janda di Indonesia

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Menaikkan Kualitas Janda di Indonesia 07/02/2021 164 view Catatan Redaksi Supriyadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Supriyadi membahas mengenai perbaikan nasib para janda di Indonesia. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Membaca tulisan Meidiana Pairuz di media ini beberapa waktu lalu, dengan judul “Fenomena Melimpahnya Janda di Masa Pandemi” membuat saya tergelitik untuk membahas lebih jauh mengenai persoalan janda di tanah air.

Membaca tulisan tersebut saya memberikan apresiasi bahwa data yang disajikan mengenai perbandingan jumlah duda dan janda di tanah air, penyebab menjadi janda atau duda karena tinggal mati atau bercerai, jumlah antara kepala rumah tangga laki-laki dan perempuan hingga jumlah perempuan atau laki-laki yang masih lajang ditampilkan secara gamblang melalui angka-angka statisik. Dari angka-angka statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa secara presentase jumlah janda jauh lebih banyak daripada laki-laki. 

Namun, ada satu hal yang menurut saya belum disajikan dalam tulisan Meidiana Pairuz mengenai Fenomena Melimpahnya Janda di Masa Pandemi, yaitu perihal status duda dan janda menurut kelompok umur. Ini penting menjadi perhatian karena mengetahui status perkawinan menurut kelompok umur akan membantu para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan untuk menentukan arah pembangunan khususnya untuk pemberdayaan perempuan dan pengarusutamaan pembangunan berbasis gender.

Sebagai contoh pada kelompok umur lansia, diketahui bahwa pada usia 60-69 tahun yang berstatus menjadi duda hanya 8,5 persen sementara yang menjadi janda sebesar 44,6 persen, kemudian pada kelompok umur 70-79 tahun yang berstatus duda ada sebanyak 18,7 persen sementara yang berstatus janda sebanyak 68,7 persen. Pun demikian pada kelompok umur 80 tahun ke atas yang berstatus duda sebanyak 31,8 persen sementara yang berstatus janda ada sebanyak 83,0 persen (Adioetomo et.al, 2017).

Artinya bahwa dari data tersebut bisa jadi presentase jumlah janda yang lebih banyak dibandingkan jumlah duda menumpuk di usia-usia yang bisa dikatakan tidak muda lagi, atau tidak produktif lagi. Hal ini bisa disebabkan karena angka harapan hidup perempuan lebih tinggi dibandingkan angka harapan hidup laki-laki. Berdasarkan angka proyeksi dari Bappenas menyebutkan bahwa pada tahun 2020 angka harapan hidup laki-laki akan mencapai 71,49 tahun sementara angka harapan hidup perempuan akan mencapai 75,27 tahun. Jadi sangat menjadi masuk akal jumlah janda lebih banyak dari pada jumlah duda karena laki-laki atau para suami meninggal dunia lebih dulu dari pada perempuan atau isteri. 

Hal lain yang juga bisa meningkatkan jumlah janda adalah bahwa kebanyakan perempuan di Indonesia menikah dengan laki-laki yang usianya terpaut beberapa tahun di atasnya, sehingga hal ini berpeluang bagi si isteri untuk ditinggal mati suaminya lebih dulu dan akhirnya menjadi janda. 

Di sinilah yang menurut penulis menjadi titik kritis ataupun kerawan bagi seorang perempuan. Sudah menjadi janda, usia juga sudah tidak muda lagi (lansia) sehingga kecil kemungkinan untuk menikah lagi. Hal ini tentunya memiliki kerentanan terhadap resiko di semua aspek kehidupan. 

Bagi kebanyakan perempuan yang memiliki pasangan atau menikah dengan laki-laki yang lebih tua dengan jarak usia yang cukup lebar, hal ini menurut penulis lebih menguntungkan secara sosial dan demografi bagi laki-laki atau suami. Ini bisa dijelaskan bahwa pasangan suami-isteri tersebut tidak akan mengalami proses penuaan bersama, namun suami akan mengalami proses penuaan lebih dahulu, sehingga ketika suami mengalami penuaan, seorang isteri masih bisa memberikan pendampingan dengan melakukan perawatan. Namun ketika sang isteri mengalami proses penuaan bisa jadi mereka sudah tidak punya lagi pendamping hidup karena telah ditinggal mati suami sehingga si isteri harus melakukan perawatan terhadap dirinya sendiri.

Beruntung bagi isteri yang sudah ditinggal suami tersebut,  jika hidup bersama anak-anak atau mereka memiliki tabungan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehingga para lansia yang menjadi janda tersebut kehidupannya bisa terjamin namun bagi mereka yang terpaksa tinggal sendiri dan tidak memiliki tabungan ataupun asuransi nasibnya bisa menjadi sebatang kara. Tentu hal ini sangat tidak kita harapkan. 

Sejatinya tragedi janda terutama untuk lansia sudah diawali sejak kecil, sejak masa kanak-kanak, remaja, berumah tangga hingga kemudian menjadi janda di usia lansia karena di tinggal lebih dulu oleh suami. Preferensi terhadap anak laki-laki yang lebih tinggi dari pada anak perempuan dalam masyarakat kita menjadikan pola asuh, pemberian makan, akses kesehatan dan juga akses pendidikan diutamakan kepada anak laki-laki. Alhasil ketika dewasa anak-laki-laki memiliki sumber daya manusia yang lebih unggul dibandingkan anak perempuan. 

Pun demikian ketika mereka berumah tangga, tak jarang perempuan hanya memiiki pekerjaan yang berkutat pada urusan dapur, kasur dan sumur. Tentu ini sangat merugikan karena ketika kelak mereka ditinggal suami dan menjadi janda pada usia yang sudah tak muda lagi kebanyakan dari mereka tak punya tabungan, kehilangan penghasilan dan jika pun kemudian ingin mencari pekerjaan dengan kualifikasi pendidikan yang rendah dan skill yang pas-pasan serta usia tidak muda lagi, maka sulit bagi mereka mendapatkan akses pekerjaan dan penghidupan yang layak. 

Maka, solusi yang penulis tawarkan agar para janda dan juga duda bisa memiliki akses hidup layak dalam jangka panjang, maka sebaiknya pembangunan berspektif gender dimulai sejak dini dengan cara penyetaraan akses ke pendidikan, pelayanan akses kesehatan, serta pemenuhan gizi yang setara dan seimbang antara anak laki-laki dan perempuan sehingga kelak ketika nasib harus terjebur menjadi janda atau duda terutama di usia lansia kualitas sumber dayanya sudah semakin handal. Bukankah juga tak sedikit yang menjadi janda dan duda namun mereka memiliki pekerjaan dan penghasilan yang layak? Tentu semua itu bisa terwujud jika laki-laki dan perempuan memiliki akses yang sama sejak kecil terhadap pendidikan, kesehatan dan juga pekerjaan. 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya