Catatan Redaksi: Lagi-lagi Banjir Jakarta

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: Lagi-lagi Banjir Jakarta 21/02/2021 117 view Catatan Redaksi Supriyadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Supriyadi membahas mengenai banjir di ibu kota yang lagi-lagi terjadi saat ini. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Hari-hari ini media nasional memberitakan tentang banjir di Jakarta. Sesungguhnya kejadian banjir di Ibu Kota Jakarta, bukan terjadi hanya pada tahun ini saja, namun bisa jadi setiap tahun Jakarta menghadapi banjir. Tiap kali musim penghujan datang dengan intensitas hujan sedang atau tinggi maka di beberapa ruas Jakarta sudah pasti terjadi banjir.

Kejadian banjir di Kota Jakarta juga bisa diakibatkan oleh air kiriman daerah hulu seperti berasal dari daerah Bogor dan sekitarnya. Kejadian banjir di Jakarta yang datang hampir tiap tahun, hingga hari ini belum mampu diatasi secara permanen untuk tidak terjadi banjir lagi siapapun Presidennya, siapapun Gubernurnya.

Kita sepakat bahwa banjir terjadi karena melimpahnya air hujan yang tidak bisa terserap dengan cepat ke bumi atau mengalir lancar ke samudra namun tertahan di daratan dan menggenang sehingga banjir tersebut terjadi.

Sebagaimana ilmu pengetahuan alam yang mengajarkan kepada kita bahwa hujan terjadi karena proses abadi semesta yang berasal dari awan yang dibentuk oleh uap hasil pemanasan laut oleh sinar matahari. Awan tersebut kemudian meneteskan butir-butir air yang disebut hujan. Hujan ini lebih sering terjadi pada musim penghujan tiba. Kejadian siklus ini terjadi secara alami dan berulang tiap tahun. Artinya, sesungguhnya manusia harusnya bisa mengantisipasi banjir Jakarta ini agar tidak terjadi lagi di tahun-tahun mendatang.

Persoalan muncul ketika air hujan yang turun lebat di Jakarta tersebut tidak bisa segera terserap ke dalam perut bumi ataupun mengalir lancar ke samudra, maka kalau ini terjadi dipastikan banjir akan menggenangi Jakarta. Air yang tidak bisa terserap cepat ke dalam perut bumi di Jakarta dikarenakan makin kecilnya luas bagian tanah di Jakarta untuk menyerap air hujan tersebut. Tanah-tanah di Jakarta sudah hampir tak ada yang kosong lagi. Banyak tanah yang ditanami beton bahkan bermeter-meter ke dalam perut bumi terutama untuk bangunan-bangunan bertingkat. Pun demikian semen dan aspal hampir menutupi permukaan tanah di Jakarta. Hal inilah yang menyebabkan air tidak segera terserap ke perut bumi sehingga terjadilah banjir. Jikapun masih ada hutan taman kota, pastinya luasnya sangat terbatas.

Persoalan selanjutnya adalah air yang kemudian tidak terserap ke perut bumi secara cepat tersebut, juga tidak segera masuk ke sungai lalu mengalir ke samudra. Hal ini terjadi karena pendangkalan sungai, ukuran sungai yang semakin menyempit, sungai banyak lumpur dan juga dipenuhi sampah. Bangunan-babangunan di bantaran-bantaran sungai yang tidak segera ditertibkan, kesadaran masyarakat yang masih rendah dengan membuang sampah ke sungai secara tidak langsung mengakibatkan petaka banjir di Ibu Kota Jakarta senantiasa berulang setiap tahunnya.

Banjir di Jakarta juga sering kali merupakan banjir kiriman dari daerah hulu. Ini sangat wajar sebab sesuai dengan hukum alam bahwa air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Sangat masuk akal jika kemudian Jakarta sebagai daerah yang lebih rendah mendapat kiriman air yang berlimpah dari daerah hulu yang lebih tinggi dan kemudian mengakibatkan banjir. Namun kejadian ini bisa diminimalisir jika daya serap air di jakarta akibat pesatnya pembangunan tidak mengalami kemrosotan dan juga air yang mengalir ke sungai tidak terhambat oleh sampah, lumpur ataupun pendangkalan dan penyimpitan sungai.

Banyaknya air kiriman dari daerah hulu seperti dari daerah Bogor dan sekitarnya menuju Jakarta mengindikasikan bahwa sesungguhnya di daerah hulu kemungkinan besar juga sudah terjadi kemerosotan atau kerusakan lingkungan. Bisa jadi di daerah Bogor dan sekitarnya daya serap tanah terhadap air juga mengalami penurunan sehingga air tidak segera terserap ke bumi namun mengalir jauh sampai Jakarta dan terjadilah banjir yang mengakibat penderitaan masyarakat.

Kemerosotan daya serap tanah terhadap air di daerah hulu seperti daerah Bogor dan sekitarnya dapat kita lihat dari meningkatnya  kerusakan hutan di daerah hulu, banyaknya daerah kawasan yang menjadi penyerapan air kemudian berubah menjadi villa, pembangunan-pembangunan perumahan tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan dan sebagainya. Penurunan daya serap tanah terhadap air hujan di daerah hulu inilah yang kemudian mengakibatkan terjadinya banjir kiriman di Jakarta.

Lalu bagaimana meminimaliasir kejadian banjir di Jakarta pada tahun-tahun mendatang? jawabnya adalah hentikan pembangunan yang tanpa memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan di daerah hulu ataupun di Jakarta sendiri,  perbanyak dan perluas daerah-daerah penyerapan air, perbaiki drainase-drainase dan juga pengerukan sungai agar menjadi dalam dan luas sehingga air bisa mengalir lancar, serta tingkatkan kesadaran masyarakat jangan sampai membuang sampah sembarangan. Meski langkah-langkah ini bukan jaminan namun setidaknya hal-hal tersebut bisa meminimalisir kejadian banjir di Jakarta. Semoga.

 
Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya