Tak Ada yang Abadi, Tapi (Mungkin) Tidak untuk Nadal

Asesor SDM Aparatur Ditjen Pendidikan Islam Kemenag
Tak Ada yang Abadi, Tapi (Mungkin) Tidak untuk Nadal 07/03/2022 155 view Lainnya antaranews.com

Cause in the end, all you really have is memories..

Saya tidak tahu ujaran ini punya siapa atau dikenal dari orang bijak mana. Memori, perkenankan saya terjemahbebaskan dengan kenangan atau capaian, sesuai ujaran tersebut, menjadi semacam ujung dan puncak. Di tangan Rafael Nadal, memori itu bukan hanya sebuah kenikmatan berada di level tertinggi, tapi padanya juga terasa penuh dengan pukau.

Nadal seperti terlahir sebagai pembeda. Dari mula awal karirnya, sejatinya dia bukanlah pemain kidal murni. Atas saran pelatih dan keluarganya, Nadal diminta untuk lebih mengoptimalkan tangan kirinya saja. Kelak, keputusan ini terbukti berhasil mengantarkannya menjadi petenis dengan capaian paling moncer sejagat, setidaknya untuk saat ini dan entah sampai kapan.

Soal prestasi di lapangan tenis, tentu banyak bintang yang bisa disebut, yang masih berkibar atau yang sudah menorehkan sejarah. The immortals merekamnya dengan bagus, dan bisa jadi bukan Nadal yang terbaik dari sudut konsistensi prestasi. Bersama Roger Federer dan Novak Djokovic, Nadal membentuk the Big Three yang kerap membuat para penggemarnya menarik nafas dan deg-degan dengan kejar-kejaran ranking dunia mereka secara bergantian.

Sayang, rentetan cedera yang dialaminya jadi langganan penghambat karier tenisnya. Sepanjang 2021, tercatat banyak momen pertandingan krusial yang terlewatkan karena cedera yang dialaminya. Pertandingan tersebut adalah Wimbledon, US Open, dan Olimpiade Tokyo.

Pada pengujung Januari tahun ini, Nadal mengukir sejarah sebagai pemegang 21 gelar grand slam tenis lapangan. Raja lapangan tenis tanah liat ini mencatatkannya saat Australia Open (AO) 2022. Penikmat olahraga dan tenis lapangan tahu, Lord Laver Arena di Melbourne bukanlah Roland Garros, lapangan tanah liat favoritnya. Artinya, Nadal membuat sejarah justru bukan di zona nyaman dan amannya sebagai atlet tenis lapangan.

Bagi saya, tentang Nadal dan memori yang abadi itu bukan terutama soal sejarah yang diukirnya, namun juga tentang keberanian dan keputusannya untuk bangkit dan terus berprestasi pada umur rata-rata atlet yang terhitung di ujung karier emasnya. Pada momen pidato setelah pertandingan final AO, dengan bergetar Nadal bercerita tentang perjuangaan dan cintanya pada olahraga tenis lapangan.

Intonasi dan pilihan kata-katanya terasa tidak sekuat dan semengalir Daniil Medvedev yang dikalahkannya. Sebelumnya, Medvedev pun didapuk untuk bicara. Penuh haru, Medvedev yang kalah mengucapkan terima kasih dan rasa bangganya telah menjadi partner bermain Nadal sekian waktu, meski lebih sering kalah di momen final saat menghadapinya. Medvedev seperti sadar, ia tengah menghadapi raksasa yang tidak pernah berputus asa dalam mengejar mimpi. Pada akhirnya, waktu dan kesempatan menang adalah soal bagaimana upaya untuk terus mengejarnya sebaik mungkin. Dalam kesadaran seperti itu, Nadal, baginya, adalah teman, guru, sekaligus musuh terbaiknya.

Saat Nadal memberikan pidatonya, cerita sesungguhnya tentang memori itu barulah terjadi. Nadal bilang, menjadi juara Australia Open 2022 terasa sepenuhnya sebagai sebuah mimpi. Jika memang demikian, maka tidur yang dimaksudnya adalah rentetan cedera yang seperti tak berkesudahan, gangguan Covid-19 yang dialaminya, dan beragam tekanan mental lainnya.

Nadal merasa, dengan segala kendala tersebut, ruang diri dan semangat olahraganya menjadi demikian gelap dan putus asa menggodanya untuk mengambil pilihan mengakhiri karier saja. Untuk petenis sekelasnya dan kaliber AO yang adalah tier utama pertandingan tenis lapangan pria dunia, saat-saat menjelang perhelatan acara tersebut adalah sebuah persiapan yang penuh misteri dan spekulasi terkait kondisi kebugaran atlet. Tentu saja, nama besar AO dan bayangan rekor yang akan diraihnya ikut membayangi dan melengkapi derita dan harapannya. Menurutnya, jarak antara godaan mundur dan raihan juara Australia Open 2022 hanya satu setengah bulan saja. Betul, sedekat itu.

Jika hal demikian adalah perkara biasa dalam sebuah perhelatan pertandingan besar, maka pembedanya adalah covid-19 yang dideritanya. Tantangan tersebut, sebagaimana pernyataan dalam pidatonya, adalah yang terberat dalam rentang kariernya. Diakuinya, mengingat usianya yang sudah 35 tahun dan cedera yang tak segera sembuh, bayangan mundur dari turnamen dan mengakhiri karier adalah opsi yang dianggapnya terbaik dan sempat akan diambilnya.

Namun, kecintaannya pada tenis lapangan mengalahkan semua bayangan negatif tersebut. Dia seperti tahu, seorang petarung hanya berhak dihakimi di atas arena pertandingan atas status hidup dan matinya, bukan pada fafifu sebelum pertandingan. Cinta dan tekad tersebut yang mengantarnya pada arena pertandingan hingga akhir dan membuatnya sebagai atlet pertama dengan raihan 21 grand slam.

Atas capaian tersebut, media La Gazetta dello Sport menjulukinya immortal, sementara L’Equipe menyebutnya berasal dari planet lain. Dengan semangat, gairah, dan cintanya pada tenis yang kadang meledak-ledak di lapangan, memori dan capaian sebagai yang tujuan akhir itu rasanya bukan berhenti di Australia Open saja.

Tidak lama lagi, French Open 2022 dengan lapangan tanah liat Roland Garrosnya akan menyapa. Jika tidak ada aral terkait gejolak politik dan perang Rusia-Ukraina yang berpengaruh ke mana-mana, Nadal bisa jadi akan mengukir pretasi baru di rumah keduanya tersebut. 13 dari 21 mahkota grand slam diraihnya di Roland Garros. Gerangan apa yang meragukan kemampuannya merengkuh trofi Prancis Terbuka? Yang abadi itu bisa jadi akan terus bergerak untuk membuat memori lainnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya