Catatan Redaksi: KLB Demokrat dan Senjata Virtual Kubu AHY

Admin The Columnist
Catatan Redaksi: KLB Demokrat dan Senjata Virtual Kubu AHY 14/03/2021 97 view Catatan Redaksi Yuli Isnadi

Setiap pekan The Columnist menyajikan tulisan dari meja redaksi dengan mengangkat isu publik yang tengah berkembang dan patut diperbincangkan.

Kali ini catatan redaksi ditulis oleh Bung Yuli Isnadi membahas mengenai kekuatan sosial media dalam mempengaruhi pertarungan polemik KLB Partai Demokrat. Disampaikan secara ringan, namun membawa pesan penting khususnya bagi para milenial.

Selamat membaca !

Beberapa waktu yang lalu perpolitikan Indonesia dikejutkan oleh Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat. KLB yang diselenggarakan di Deli Serdang itu hanya berlangsung 40 menit. Namun ia berhasil membuat manuver besar. 

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), digantikan oleh Moeldoko, Kepala Kantor Staf Presiden. Sedangkan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), figur sentral partai berlogo mersi itu, digantikan oleh Marzuki Alie, mantan Ketua DPR RI.

Polemik ini terus mengalir dan tentu saja ada banyak hal yang menarik untuk dikomentari. Akan tetapi, yang terpenting bagi saya adalah KLB tersebut tak lebih dari sebuah dagelan politik. Karena kubu oposisi sesungguhnya kalah telak. Pihak AHY telah menggunakan media sosial sebagai senjata virtual secara sempurna untuk membungkam musuh politiknya.

Ada banyak literatur yang bercerita bagaimana media sosial mampu mempengaruhi peta pertempuran politik. Keefektifan penggunaan media sosial menentukan kemenangan sebuah pihak. Semakin efektif sebuah pihak menggunakan twitter dan facebook, sebagai misal, semakin besar peluangnya untuk meraih kekuasaan.

Di sinilah peristiwa KLB Demokrat dapat dilihat. Tingginya efektivitas pihak AHY dibanding pihak KLB dalam menggunakan media sosial membuat mereka lebih berpeluang menang. 

‚ÄčAmbil contoh perbandingan jumlah follower akun media sosial milik tokoh dari kedua belah pihak. Jumlah follower AHY saja mendekati angka setengah juta. Andi Arief hampir mencapai seperempat juta. Demikian pula milik Jansen Sitindaon yang diikuti oleh lebih dari dua ratus ribu follower.

Angka-angka ini amat perkasa dibanding pihak KLB. Moeldoko, Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB hanya punya dua puluh sembilan ribu follower. Follower akun Marzuki Alie memang hampir setara dengan AHY, tapi respon follower miliknya jauh lebih pasif dibanding AHY. Ketika sebagian besar postingan AHY direspon oleh ratusan bahkan ribuan netizen, Marzuki Alie seringkali di bawah angka seratus.

Dengan perbedaan demikian, maka dukungan netizen terhadap perjuangan AHY lebih besar dibanding pihak KLB. Setiap pesan yang diposting oleh akun milik para pendukung AHY akan mendapat respon oleh ratusan bahkan ribuan netizen, dan sebaliknya dengan pihak oposisi. Misalnya, postingan AHY dan Jansen terkait KLB disukai oleh ribuan netizen. Sedangkan postingan Marzuki Alies hanya disukai oleh kurang dari dua ratus akun.

Sehingga tinggal dibayangkan, bagaimana derasnya dukungan publik jika akun milik pihak pendukung AHY memposting perkembangan pengkudetaan sebanyak beberapa kali dalam sehari. Sebuah perbedaan yang amat besar.

Keefektifan pihak AHY dalam memanfaatkan media sosial dalam pertempuran politik tak hanya sampai di situ. Mereka juga terampil dalam mengemas narasi tertentu melalui media sosial.

KLB Partai Demokrat di Deli Serdang telah berhasil dikemas menjadi sebuah peristiwa kudeta, sebuah istilah yang inkonstitusional. Selain itu, aktor yang terlibat dalam gerakan tersebut berhasil dilekatkan mereka dengan persepsi negatif. Terutama Moeldoko dan Marzuki Alie. 

Misalnya sederhana. Narasi bahwa Moeldoko yang semula menampik ikut terlibat pengambilalihan partai namun kini justru menjadi Ketua Umum adalah bukti bahwa ia tidak dapat dipercaya.

Dampak dari keberhasilan mengemas narasi tersebut ada dua. Pertama, sebagian netizen menganggap KLB adalah upaya kudeta. Sebuah peristiwa yang tak pantas di negara demokrasi. Ada banyak netizen yang mengutuk upaya tersebut sambil bersimpati terhadap AHY.

Kedua, banyak media, baik cetak maupun online, memberi judul negatif terhadap aktor-aktor KLB. Salah satu aktor yang mendapat stigma dari media massa adalah Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB, Moeldoko.

Tak dapat ditampik, narasi yang digunakan semua pihak adalah sama dengan yang disodorkan pihak AHY. Bahwa KLB adalah inkonstitusional alias ilegal dan aktor yang terlibat di dalamnya tidak bisa dipercaya. 

Tak berhenti sampai di sana. Keampuhan senjata virtual pihak AHY juga dapat diamati dalam mengelola dukungan tokoh publik. Sebagai misal, cuitan Saiful Munjani, tokoh publik dnegan jumlah follower besar, disambar mesra oleh AHY. Cuitan itu kemudian disukai oleh hampir lima ribu netizen.

Dengan mengamati tiga hal di atas, maka kisah KLB sebetulnya sudah tamat di dunia virtual. Kecerdikan pihak AHY dalam menggunakan media sosial sebagai senjata virtual telah berhasil memobilisasi dukungan. Jumlah netizen yang merespon pihak AHY sangat besar. Narasi publik terhadap peristiwa ini serupa, yaitu ilegal dan tak pantas dilakukan di era demokrasi seperti sekarang ini. Dan bahkan dukungan sejumlah tokoh politik pun bermunculan.

Pertanyaannya kemudian, apakah peristiwa politik di dunia virtual memiliki dampak di dunia nyata? Apakah kemenangan kubu AHY di dunia maya akan berakhir dengan kemenangan pula di dunia nyata?

Peristiwa revolusi di Tunisia, Mesir, dan berbagai belahan negara dunia mengonfirmasi bahwa dunia maya dan dunia nyata memiliki kaitan yang amat erat. Kekecewaaan netizen terhadap situasi politik menyulut amarah rakyat untuk turun ke jalan. Hasilnya, presiden kuat negara-negara tersebut kemudian terjungkal.

Tidak hanya di luar negeri saja. Peristiwa politik virtual yang menentukan situasi politik di dunia nyata juga pernah dialami sendiri oleh Indonesia. Masih segar diingatan bagaimana kekecewaan beragam elemen masyarakat di dunia maya telah melahirkan gerakan #reformasidikorupsi dan tolak omnibus law terlahir. Ribuan demonstran di puluhan tempat serentak turun ke jalan. Pada masa-masa itu pemerintah sedikit oleng.

Artinya, tamatnya gerakan KLB Partai Demokrat di dunia maya akan diikuti oleh hal serupa di dunia nyata. Keperkasaan kubu AHY dalam menggunakan media sosial sebagai senjata virtual sukses besar. Tinggal menunggu waktu, gerakan KLB Partai Demokrat akan segera surut.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya