Birokrat Yang Dibenci dan Dirindui

PNS BKKBN
Birokrat Yang Dibenci dan Dirindui 10/11/2020 1227 view Lainnya sera.perantiguru.com

Apa yang terbayangkan ketika anda mendengar kata birokrat? Barangkali bayangan anda akan tertuju kepada sosok Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN) pada sebuah kantor institusi pemerintah beserta dengan seragam identitasnya masing-masing.

Melengkapi gambaran tersebut, barangkali juga ada terlintas dibenak Saudara pada sebuah kursi, pena dan meja dengan tumpukan kertas di atasnya. Atau juga seragam Korpri yang dipakai pada tanggal 17 tiap bulannya.

Tak cukup sampai disitu, dipastikan ada yang menjawab bahwa birokrat adalah seseorang yang hidupnya mapan, gajian tiap bulan dan dapat tunjangan sana-sini yang diperuntukkan atas pengabdiannya pada negara atau kinerja yang ditunjukkannya dalam melaksanakan tugas sebagai abdi negara atas jasanya memberikan pelayanan publik. Gaji dan tunjangan yang mereka dapatkan bersumber dari anggaran APBN ataupun APBD. Pokoknya sesuatu yang nyaman dan aman dalam gambaran benak sebagian warga negara.

Persepsi-persepsi tersebut tak semua salah. Sebab memang seperti itu adanya. Namun selain hal tersebut ada juga yang beranggapan bahwa birokrat itu adalah orang-orang yang terjebak pada rutinitas, artinya mereka bekerja seperti robot. Kerjanya itu-itu saja. Misalnya, masuk jam 8 pagi pulang jam 4 sore, lalu yang dikerjakan selama bertahun-tahun adalah hal yang sama yang kebanyakan berkaitan dengan administrasi. Tentu anggapan itu sah-sah saja, sebab memang ada birokrat yang memiliki tupoksi dari awal berkarir hingga purna tugas (pensiun) tak pernah berubah. Itu-itu saja.

Tapi meskipun banyak kritik menjadi seorang birokrat, menjadi orang gajian per bulannya dan terjebak pada rutinitas, ternyata menjadi seorang birokrat masih dirindukan bahkan digandrungi banyak orang di Indonesia. Ini setidaknya terbukti bahwa setiap ada pembukaan penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pesertanya pasti selalu membludak. Jarang yang kemudian kekurangan peserta kecuali untuk jurusan-jurusan tertentu yang memang tergolong jurusan langka atau keperluan untuk mengisi formasi tertentu yang membutuhkan keahlian khusus. Selain hal tersebut, dipastikan pesertanya melebihi kapasitas lowongan yang ditawarkan.

Bahkan jikapun kemudian pelamar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tersebut diterima dan kemudian ditempatkan di lokasi yang baru dan jauh serta harus terpisah dari keluarga dengan waktu tertentu, banyak juga yang mau menerimanya.

Intinya menjadi seorang birokrat itu walau dibenci kadang penuh kritik namun juga dirindukan. Ada pengalaman seorang kawan yang menjadi birokrat. Ketika saya tanya kenapa memilih menjadi seorang birokrat atau PNS, beliau menjawab bahwa orang tuanya adalah PNS, pamannya PNS dan juga abangnya juga PNS. Jadi kata beliau menjadi PNS itu memiliki arti yang prestisius di dalam keluarga dan masyarakat di lingkungannya. Menjadi birokrat atau seorang PNS di lingkungan masyarakat tempat beliau tinggal memiliki nilai sosial yang lebih tinggi dibandingkan rakyat biasa. Menjadi birokrat atau PNS bisa disebut menjadi seorang priyayi. Sesuatu yang membanggakan buat diri dan keluarga. Begitu kira-kira jawaban beliau.

Tapi kata beliau melanjutkan bahwa menjadi seorang birokrat atau PNS itu, ada kalanya senang dan juga ada kalanya susah. Merasa senang ketika di awal-awal tahun belum banyak pekerjaan sebab anggaran sering kali belum bisa digunakan, apa lagi birokrat yang anggaran kegiatannya berasal dari APBD. Katanya belum ketuk palu, belum disetujui dan bahasa-bahasa diplomatis lainnya.

Namun susahnya ketika menjelang akhir tahun, terutama tiga bulan terakhir mulai tiba, kesibukan mulai berdatangan. Pekerjaan silih berganti dan menumpuk. Seorang birokrat kadang-kadang merasa dikejar-kejar oleh realisasi, penyerapan aggaran, capaian output dan outcome serta laporan sana dan laporan sini. Jadilah birokrat menjadi seorang yang super sibuk.

Jadi jika ada anggapan bahwa birokrat itu pemalas, duduk-duduk dapat gaji, sering nongkrong di warung kopi tak selamanya benar. Barang kali birokrat yang duduk-duduk, birokrat yang suka ngopi di warung kopi tersebut adalah seorang birokrat yang sedang beristirahat sehabis dikejar-kejar berbagai macam realisasi baik anggaran, output maupun outcome.

Atau mungkin juga birokrat tersebut adalah birokrat yang sedang menunggu anggaran yang belum bisa digunakan karena berbagai hal. Lalu pertanyaannya adalah siapa lagi yang akan meyusul menjadi seorang birokrat? Anda bersedia?

Tentu saja cerita mengenai birokrat tersebut di atas tak mewakili semua birokrat di negeri ini, sebab saya yakin sebagian besar birokrat di negeri ini adalah birokrat-birokrat yang bisa diteladani dalam bekerja. Ada anggaran tak ada anggaran tetap bekerja untuk melayani masyarakat. Birokrat yang bekerja tanpa pamrih. Itulah birokrat sejati. Dan saya yakin birokrat sejati itu salah satunya adalah Anda.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya