Kiat Sukses Beternak Politikus

Mahasiswa Terujung
Kiat Sukses Beternak Politikus 22/11/2020 493 view Politik Petrominer.com

Di zaman yang semua hal dapat dijadikan pemasukkan ekonomi ini; bahkan kebodohan sekalipun. Orang-orang di seluruh dunia mulai berpacu untuk mencari peluang hidup yang lebih menjanjikan lewat wirausaha, mendirikan start up, membangun karir di sosmed dan menjadi buzzer politik. Semua sah-sah saja. Tak ada soal.

Bukankah sejak dahulu kala, kita manusia memang sering mengotak-atik zaman? Dan di setiap perubahan itu kemauan ekonomi kita terus berkembang pula. Dimulai dari berburu makanan, mengumpulkan, beternak hingga memperdagangkannya.

Bagaimanapun juga, itulah yang disebut siklus hidup: zaman beralih, kemauan berpindah.

Di zaman kini, meski terlihat modern, namun peluang dari bisnis kuno yang hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Bisnis yang tak semua orang dapat melakukannya. Bukan karena tahu, hanya saja dibutuhkan kecakapan selain berniaga atau beternak, yaitu kaya raya dan pandai berdiplomasi.

Lagi pula, meskipun ada yang mampu berakrobat dalam kata, sehingga orang yang mendengarnya mampu tersihir dan mengiyakan segala kehendaknya, tapi jika persyaratan lain tak dapat dipenuhi, maka resultantenya tetap nol. Ini adalah bisnis yang setiap bagiannya saling kait-mengait. Tak dapat tidak. Yaitu beternak politikus.

Dengan kerendahan hati, tentu saja saya ingin berbagi kiat-kiat sukses beternak politikus pada saudara sekalian. Meskipun saya bukan peternak, karena ada tiga sampai empat syaratnya yang tak dapat saya penuhi. Tapi saya cukup sering mengamati laku para peternak politisi, baik melalui buku ataupun berita yang keluar di televisi.

Meskipun syaratnya terlihat sederhana, tapi menurut Johan Cryuif, semakin sederhana suatu hal, semakin sulit pula melakukannya. Memang Cryuif adalah penemu teknik tiki-taka dalam sepak bola, tapi pemikirannya yang bagai filsuf itu, dapat kita sambungkan ke dalam pokok cerita panduan menjadi peternak politikus yang sukses.

Syarat pertama yang sederhana, tapi amat sulit dicapai semua orang, yaitu, sebelum memutuskan menjadi peternak yang handal, kita sebaiknya berusaha menjadi pengusaha yang tajir melintir sebab untuk menjadi peternak politikus mesti sanggup menggelontorkan dana pada ternak kita tersebut. Bukan sedikit. Lumayan rasanya untuk membangun puluhan SD di republik terkebelakang ini.

Jika syarat pertama ini sudah dapat dipenuhi, maka syarat-syarat yang lainnya insya Allah akan semakin mudah.

Syarat kedua lebih sederhana tapi dibutuhkan kelihaian dalam berdiplomasi, yaitu sanggup memberi makan dua ternak yang berbeda kandang (partai). Fungsinya untuk jaga-jaga. Apabila ternak kita gagal, maka bantuan dana kita pada ternak tetangga akan cukup membantu uang kita kembali ke saku. Bahkan lebih.

Semakin banyak ternak kita semakin besar keuntungan yang akan kita dapatkan. Bukan hanya balik modal saja, tapi kemudahan demi kemudahan dalam memperluas jaringan ekonomi pun dapat kita temukan. Karena usaha kita didorong oleh ternak-ternak yang pernah kita bantu perkembangannya.

Jika jaringan usaha kita telah meluas. Maka cara paling penting untuk mempertahankan itu adalah dengan cara mendirikan partai, agar semakin banyak ternak-ternak kita.

Sebab jika tidak begitu, maka eksistensi jaringann dagang kita hanya berlaku sampai jabatan ternak yang kita beri makan itu selesai. Maka dari itu, untuk menghemat biaya, sekaligus kaderisasi ternak, mendirikan partai adalah jalan yang paling tepat.

Pendeknya, ada dua tipikal peternak politisi di Indonesia, satu; mereka yang beternak politikus bila dimusimnya saja, dua; mereka yang mendirikan partai dan berpikir agar peternakannya semakin besar sepanjang waktu.

Oleh karena itu, kita rakyat biasa harus berhenti berharap pada ternak orang-orang kaya dan pemilik partai itu, meskipun kita telah turun temurun menetap di Indonesia jauh sebelum negeri ini ada. Karena semua hal yang mereka usahakan di atas sana, harus sesuai dengan kehendak partai dan peternaknya.

Meskipun tak jarang ada ternak yang justru memanfaatkan partai dan tuannya. Tapi mari kita ukir berapa jumlahnya. Setengah? Seperempat? Seperkian lainnya?

Karena negeri ini negeri demokrasi (katanya) maka suara politikus yang terbanyak tetap jadi pemenangnya. Beberapa kasus seperti Omnibuslaw dan sebangsanya memperlihatkan itu pada kita semua dengan terang benderang.

Memang ada yang berusaha melawannya. Tapi jadi apa? Tak lebih dari suara yang dibungkam oleh ternak yang lebih berkuasa tuannya. Namun yang paling pasti, beternak politikus adalah usaha yang paling menjanjikan bagi para pencari harta.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya