Al-Falsafah Al-Ula sebagai Pembuktian Keesaan Tuhan
Mengutip pendapat Prof. Ahmad Tafsir dalam buku Filsafat Umum, bahwasannya agama dan filsafat merupakan dua kekuatan yang mewarnai dunia. Agama memiliki otoritas yang bersifat dogmatis yang mana menjadi pedoman bagi para pemeluknya. Sementara filsafat memiliki prinsip-prinsip yang utuh dalam menganalisa maupun mengkaji sesuatu. Sehingga, keduanya berpotensi menjadi dasar atas suatu tindakan manusia.
Filsafat dan agama secara sekilas terkesan bertentangan dan tidak dapat dikompromikan. Filsafat didasarkan pada ketajaman rasio. Sementara agama dilandasi keteguhan iman terhadap suatu dogma. Namun, pada kenyataannya, dalam sejarah ditemukan di mana kedua kekuatan tersebut saling mendukung satu sama lain. Agama berusaha dirasionalkan dan Filsafat digunakan sebagai pembenaran agama. Fase teosentris tersebut nantinya akan dikenal dengan era filsafat agama, baik dalam Filsafat Islam Klasik maupun Filsafat Kristen Klasik.
Pelopor Filsafat Islam: Al-Kindi
Dalam Agama Islam, filsafat berdialog dengan agama pasca penerjemahan besar-besaran yang dilakukan cendikiawan muslim terhadap karya-karya milik para Filsuf Yunani. Al-Kindi merupakan salah satu tokoh yang berperan penting dalam penerjemahan tersebut, di samping Al-Kindi merupakan filsuf muslim pertama. Dalam konteks Al-Kindi, beliau berusaha memfilsafatkan agama. Hal ini tentu tidak lepas dari latar belakang kehidupannya.
Al-Kindi yang dijuluki sebagai The Great Arab Philosopher atau The Father of Arab Philosophy lahir di Kufah sekitar tahun 185 H/801 M dan meninggal 260 H/873 M. Ayahanda Al-Kindi merupakan seorang gubernur/Emir. Al-Kindi hidup dan berinteraksi dengan pemerintahan Al- Ma‘mun, Al-Mu‘tasim dan Al-Wafiq. Bahkan, Al-Kindi sendiri merupakan guru dari putra Khalifah Al-Mu’tashim. Al-Kindi merupakan pelopor gerakan penerjemahan buku-buku asing ke Bahasa Arab. Untuk menterjemahkan buku-buku asing tersebut Al-Kindi kemudian belajar bahasa Syiria dan Yunani.
Al-Kindi gemar menulis hasil pemikirannya. Hasil karya Al-Kindi sangatlah banyak. Sebagian mencatat sekitar 238 risalah (karya pendek). Ibnu An-Nadim berpedapat bahwasannya terdapat 260 judul karya Al-Kindi. Adapun Sha‘id Al- Andalusi berpendapat 50 buah. Karya-karya Al-Kindi tersebut di kemudian hari dikenal dengan istilah Rasail Al-Kindi yang memuat berbagai karya-karyanya.
Al-Falsafah Al-Ula
Salah satu komponen risalah yang penting dalam Rasail Al-Kindi adalah Kitab Al-Falsafah Al-Ula, yang merupakan tulisan korespondensi antara Al-Kindi dengan Khalifah Al-Mu’tashim. Teks yang tersaji pada era sekarang pun tidak utuh sepenuhnya, melainkan 4 bab awal saja yang dapat ditemukan. Diduga kuat bagian lainnya dari Kitab Al-Falsafah Al-Ula telah diluluhlantakkan oleh Pasukan Mongolia ketika menginvasi Baghdad.
Secara garis besar kitab tersebut membahas tentang pengertian filsafat, serba-serbi ringkasnya serta pemanfaatan logika yunani sebagai pendekatan terhadap kebenaran adanya Sang Khaliq. Pengertian filsafat, penjelasan singkat, dan penghormatan terhadap filsafat sebagai warisan peradaban Yunani dibahas di bab satu. Penjabaran logika dan klasifikasi Aristoteles terdapat dalam bab dua dan tiga. Adapun penjelasan mengenai keesaan tuhan (bukan satu) dapat ditemukan terutama dalam bab empat.
Dalam bab empat, Al-Kindi menyatakan bahwa sesuatu yang besar dan kecil, panjang dan pendek, banyak dan sedikit, tidak dapat dikatakan secara umum, melainkan dalam konteks perbandingan. Sehingga, satu tidak bisa dianggap sebagai angka yang mewakili Tuhan. Sebab, dengan menyebut angka satu, maka terdapat kelanjutannya yakni dua, tiga, empat dan seterusnya. Di samping itu, tidak ada sesuatu yang benar-benar dapat disebut satu.
Mari kita umpamakan suatu bangunan yang terdapat di tengah lahan kosong yang luas. Bangunan tersebut sekilas berjumlah satu gedung saja. Namun ‘satu’ tersebut tidaklah mutlak. Sebab, di dalam gedung terdapat kursi, meja, lampu dan lain sebagainya yang banyak jumlahnya. Bahkan, gedung tersebut tersusun dari banyak sekali butiran pasir ataupun semen. Walaupun pada akhirnya semuanya bersatu, asal muasal ‘satu’ tersebut tidak benar-benar ‘satu’. Kesimpulannya, gedung tersebut dapat dikatakan satu secara kiasan bukan hakiki.
Lantas siapa ataupun apa yang pantas menyandang satu secara hakiki? Tidak lain dan tidak bukan, Yang Satu tersebut merupakan Tuhan yang tidak terdiri dari berbagai susunan serta abadi. Tuhan tidak tersusun seperti gedung, melainkan ‘satu’ yang berdiri sendiri. Dalam Bahasa Indonesia, Tuhan yang Maha ‘Satu’ tersebut diistilahkan dengan Yang Maha Esa.
Tuhan yang Maha Esa memiliki arti Tuhan yang satu dan tidak ada duanya. Dengan penetapan keesaan Tuhan, Tuhan tentu terbebas dari adanya sesuatu yang sepadan dengan diri-Nya. Tuhan berdikari secara mutlak dan tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Sebab kemutlakan kuasanya merupakan pertanda keesaan dirinya yang tidak terbentuk dari unsur-unsur lain yang bergabung. Tuhan Sang Pengatur langit dan bumi mustahil terikat dalam ruang dan waktu yang mana keduanya merupakan ciptaan-Nya. Dalam pembuktian Al-Kindi, Allah merupakan keesaan yang sejati.
Dengan pembuktian Al-Kindi akan Keesaan Tuhan, dapat disimpulkan bahwa Tuhan bersifat transendental atau tidak tersentuh oleh manusia. Hal tersebut merupakan wujud keagungannya yang tidak dapat serta merta ditarik kesimpulan mengenai ketiadaan Tuhan. Di sisi yang lain, Immanensi Tuhan juga hadir dalam setiap relung kehidupan manusia. Tuhan merupakan faktor sebab pertama yang tidak memiliki sebab sebelumnya (Prima Causa) dan senantiasa ‘meliputi segala tindak tanduk ciptaannya. Betapa sempurnanya Tuhan Yang Maha Esa lagi Suci atas segala penyerupaannya terhadap makhluk fana.
Artikel Lainnya
-
108502/12/2022
-
135608/07/2020
-
159528/04/2020
-
Terbunuhnya KAMI di Dunia Maya
95921/08/2020 -
Filsafat Kesendirian Ibn Bajjah: Konsep 'Manusia Terasing' dalam Islam
18707/12/2024 -
37606/12/2025
