Virus Corona dan Wajah Kritis Indonesia Kita

Mahasiswa
Virus Corona dan Wajah Kritis Indonesia Kita 09/03/2020 1411 view Opini Mingguan pixabay.com

Kemunculan covid 19 atau yang lazim dikenal oleh berbagai kalangan dengan sebutan ‘virus korona’ kini sudah menuai aneka kontroversi.

Kontroversi ini bermula dari meregangnya ribuan nyawa di Wuhan Cina dan berlanjut meluas ke 91 negara lainnya di dunia termasuk juga Indonesia.

Berdasarkan data, dalam dua bulan wabah Covid 19 telah menjangkiti sedikitnya 95.000 jiwa penduduk di sekitar 80 negara. Sekitar 56 persen dari kasus positif itu atau sekitar 53.000 kasus telah sembuh (Bdk. Kompas, Jumat 6 Maret 2020 hlm. 5).

Di Indonesia kontroversi seputar kemunculan covid 19 ini kurang lebih mengurai dua oposisi biner yang saling silang sengkarut. Pertama, disposisi pemerintah yang mengalami keterancaman dari publik lantaran membiak dan menguaknya Covid 19. Semenjak Jokowi menyampaikan secara resmi informasi seputar terjangkitnya 2 Warga Negara Indonesia (WNI) pada 2 Februari silam, publik merasa terancam serentak juga menaruh antipati terhadap proteksi pemerintah atas kenyamanan warga masyarakat.

Namun, pada aspek lain justru terdapat sebuah aksentuasi nilai yang urgen bahwa terdeteksinya Covid 19 ini sebenarnya menjadi sebuah era baru bagi progresivitas teknologi negara kita.

Memang patut diakui bahwa duduk perkara (state of affairs) yang menjadi fakta aktual terberi beberapa hari terakhir ini turut serta mengalihkan perhatian publik dari persoalan-persoalan sosial lainnya dan membuncah pada keterikatan akan ketakutan dari kehadiran virus Corona. Sampai pada kondisi sekarang, nampaknya wabah Corona membawa sejumlah ekses destruktif membandel terhadap negara kita.

Ekses destruktif tersebut bisa saja terjadi dalam rupa ciptaan narasi ketakutan, merasa dikejar-kejar dan dihantui, hingga bertitik puncak pada kelesuhan dan ketidakstabilan ekonomi negara kita. Sebagai contoh, warisan fakta yang mengindikasikan kelesuhan ekonomi kita termanifestasi dalam tertutupnya sejumlah akses untuk bepergian ke berbagai negara atau pun menerima wisatawan dari negara lain, menurunya para pengunjung di beberapa kawasan wisata tertentu dan sepinya tempat-tempat umum.

Kedua, Corona in sech menggagaskan sebuah ancaman terhadap peretakan nilai solidaritas. Tak dapat dinafikan bahwa wabah Corona menyumbangkan kelumpuhan simpati publik satu terhadap yang lainnya. Misalnya saja untuk konteks Indonesia pemberitaan seputar kapitalisme masker mulai dari persembunyian dan penumpukan masker hingga melonjakknya harga masker menjadi bukti kuat akan keterancaman melumpuhnya nilai solidaritas publik.

Tontonan persoalan yang meramaikan jagad maya kita secara transparan mendidik ego masyarakat untuk menempatkan keselamatan pribadi sebagai keutamaan dan serta merta mengabaikan publik secara luas.

Sisi destruktif dari kapitalisme masker yang luput dari perhatian publik adalah pengebirian solidaritas publik akan keberlainan (liyan). Itu berarti, persoalan seputar menjaga keselamatan pribadi atau golongan dan orientasi ekonomis adalah bias sampingan dari penyebaran Virus Corona.

Tematisasi virus Corona sebagaimana yang terlampir dalam dua desakan dan oposisi biner di atas tampaknya menjadi isu yang sangat serius dan sensitif.

Saat ini, Covid 19 sudah menggeliat dan mengobarkan api ganasnya ke beberapa negara bagian di dunia ini. Penyebaran virus yang sangat cepat ini memantik animo publik untuk menstigmatisasi virus ini sebagai virus dengan kadar ancaman paling serius di muka bumi.

Persepsi produktif publik tentang keterancaman Virus Corona ini kiranya menyodorkan juga dorongan preventif dari dalam diri untuk memikirkan secara bersama solusi yang dihadapi negara kita berhadapan dengan Covid 19 ini. Berhadapan dengan kondisi demikian, hemat saya terdapat satu ancaman paling serius dibalik membuncahnya Covid 19 ke tengah-tengah kita yaitu terancam kendornya nilai solidaritas publik satu terhadap yang lainnya.

Dari sekian banyak deretan persoalan yang mendera publik, baru kali ini kita berhadapan dengan problem dilematis seputar kapitalisme masker.

Dalam prinsip kapitalisme masker, Covid 19 adalah penangkal jitu. Artinya, para penimbun masker berhasil membaca kesempatan dibalik menyeruaknya fenomena keterancaman virus Corona dengan alih-alih untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Secara etis dan yuridis kapitalisme masker ini tentu tidak dapat dibenarkan.

Dari sudut etika, penimbunan masker berimplikasi pada penyempitan sisi kemanusiaan dan lemahnya solidaritas publik. Penyempitan sisi kemanusiaan yang dimaksud merujuk pada kondisi keterancaman publik akibat ketiadaan akses untuk memperoleh masker.

Sementara dari sisi yuridis penimbunan masker berakibat pada tendensi kecurangan dalam dunia bisnis. Kecurangan ini akan semakin melanggengkan kecenderungan untuk melampaui kewenangan dari pihak atau otoritas yang sebenarnya berhak untuk memproduksi dan menjual masker. Misalnya, terabaikannya peran dari apotek atau Rumah Sakit selaku penyedia masker ini.

Tanpa berusaha untuk meninggalkan sisi buruk dari perkembangan persoalan Covid 19 di atas, semestinya publik sadar bahwa andil dari kemunculan Covid 19 di satu aspek juga turut berhasil membongkar tatanan dan watak asli kita selaku bangsa yang menjunjung tinggi nilai solidaritas, toleransi dan pluralisme.

Hal yang perlu dipersoalkan di sini yaitu bahwa Covid 19 atau virus Corona tidak hanya dibaca sebagai sebuah ancaman mematikan yang mampu meregangkan ribuan nyawa saja tetapi juga dibaca sebagai pelecut untuk mengukur kira-kira sejauh mana aspek penghayatan dan kepedulian kita terhadap kondisi dan nilai solidaritas itu sendiri. Dalam konteks ini, kapitalisme masker adalah salah satu ukuran yang bisa menentukan gambaran nilai solidartias publik kita.

Aneka persoalan sebagaimana yang sudah disebutkan pada bagian sebelumnya tentu menjadi sejumlah persoalan publik yang patut diterima sebagai sebuah bahan pembelajaran.

Berhadapan dengan kondisi seperti ini kita semua turut menyadari bahwa saat ini kita sedang tidak hanya berada dalam fase atau proses untuk menuntaskan persoalan seputar Corona dan aneka persoalan publik lainnya tetapi kita juga sedang berada dalam fase menyadari peran kita selaku manusia yang hidup dalam nafas solidaritas seturut gagasan kedua sila Pancasila yakni kemanusiaan yang adil dan beradab.

Hembusan api Pancasila kiranya menjadi sebuah semangat baru bagi kita agar sanggup menjadi manusia pancasilais. Dengan semangat pancasilais setiap subjek menyadari perannya selaku manusia yang menjunjung tinggi solidaritas dan kepentingan bersama (bonum communae). Semangat yang dimaksud adalah incaran dan orientasi bersama kita.

Akhirnya menyadur Peter L. Berger (1990: 200), fokus kita di sini adalah kepada soal memelihara kenyataan subjektif dan bukan yang objektif; kenyataan sebagaimana yang dipahami dalam kesadaran individu dan bukan kenyataan sebagaimana yang ditentukan secara kelembagaan. Mari berjuang.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya