Lansia Tangguh dan Bonus Demografi Kedua

PNS BKKBN
Lansia Tangguh dan Bonus Demografi Kedua 31/05/2021 355 view Lainnya Jeda.id

Kita baru saja memperingati Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) yang ke-25 pada tanggal 29 Mei 2021 beberapa hari lalu. Momen Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) ini ada baiknya untuk menengok kembali sejauh mana peran lansia dalam pembangunan dan sejauh mana pula pemerintah menyiapkan para lansia untuk menjadi lansia tangguh dalam menyonsong bonus demografi kedua di negeri ini. Di mana pada saat datangnya bonus demografi kedua ini kiprah lansia tangguh sangat dibutukan. Bonus demografi kedua diperkirakan akan kita tuai pada tahun 2040 hingga beberapa tahun ke depannya.

Pada tahun 2020, usia harapan hidup penduduk Indonesia adalah 73,53 tahun. Angka ini akan meningkat menjadi 74,05 tahun, dan terus meningkat tiap lima tahun berikutnya yaitu berturut-turut manjadi 74,58 tahun, 74,97 tahun, 75,26 tahun dan terakhir pada tahun 2045 menjadi 75,47 tahun (BKKBN, 2020).

Meningkatnya usia harapan hidup yang didorong oleh pola hidup sehat masyarakatnya dan juga pembangunan sektor kesehatan yang makin membaik mengakibatkan jumlah penduduk lansia akan terus bertambah. Jumlah penduduk lansia menurut prediksi dari kementrian sosial pada tahun 2025 akan mencapai 40-jutaan atau hanya dalam waktu empat tahun yang akan datang. Jumlah ini akan meningkat 71,6 juta jiwa pada tahun 2050 dengan perkiraan jumlah penduduk saat itu adalah sekitar 310 juta jiwa.

Ini berarti bahwa mulai saat ini Indonesia sedang menuju pada kondisi populasi menua atau aging population. Di mana populasi penduduk lansia pada tahun 2019 di Indonesia adalah sebesar 9,7 persen dan akan meningkat pada tahun-tahun berikutnya. Sementara, rata-rata di negara maju mencapai atau melebihi 10 persen, bahkan Jepang sudah mencapai angka sekitar 30 persen.

Kita tentu tak menginginkan bahwa meningkatnya jumlah penduduk lansia di Indonesia ini menimbulkan permasalahan. Sebab kita mengetahui bahwa penduduk usia lanjut memiliki berbagai keterbatasan dari sisi fisik, sosial, ekonomi maupun kesehatan akibat dari penurunan fungsi organ tubuh, ingatan dan lain sebagainya. Namun demikian, proses penuaan penduduk ini adalah proses biologis yang pasti dialami setiap manusia sehingga kita tidak bisa mengelakkannya.

Walaupun begitu, kita bisa mempersiapkan diri mulai sekarang agar lonjakan penduduk lansia yang akan diperoleh bangsa Indonesia ke depan tidak menjadi beban. Malah justru bisa menjadi peluang untuk tetap menjaga dan meningkatkan kesejahteraan penduduk terutama penduduk lansia di Indonesia.

Meningkatnya penduduk lansia di Indonesia, sejatinya bisa merupakan peluang bonus demografi kedua jika kita bisa mengelolanya dengan baik. Tentu bonus demografi kedua ini bukan sebuah retorika, namun sesuatu harapan yang masih bisa kita wujudkan. Kunci penting dari terwujudnya bonus demografi kedua ini adalah pada generasi muda yang saat ini masuk ke dunia kerja yang memiliki bekal pendidikan dan ketrampilan yang mumpuni. Sehingga, mereka bisa berkompetisi dan memenangkan persaingan global serta sukses masuk ke pasa kerja yang semakin kompetitif ini.

Dengan penduduk usia porduktif yang saat ini bekerja, memiliki daya saing, keterampilan serta sejumlah keunggulan lainnya, diharapkan ketika ketika kelak mereka masuk kepada usia pra lansia, lalu menjadi lansia ataupun menjadi lansia lanjut, mereka tetap memiliki penghasilan terartur dan masih terus produktif serta kompetitif.

Mempersiapkan itu semua tentu bukanlah pekerjaan yang mudah. Sebab berdasarkan Education Index yang dikeluarkan oleh Human Development Reports, pada tahun 2017, menunjukkan bahwa bahwa penduduk Indonesia memiliki rerata lama sekolah hanya delapan tahun. Hal ini berarti rata-rata penduduk Indonesia menempuh pendidikan hanya sampai lulus kelas dua SLTP.

Kemudian BPS pada bulan Februari tahun 2021 juga merilis bahwa pengangguran terbuka di Indonesa masih berada pada 6,26 persen. Sementara angka putus sekolah pada tahun 2019 adalah sebanyak 4,3 juta siswa atau sekitar enam persen dan diperkirakan naik sebagai dampak dari dua tahun pandemi corona yang belum seutuhnya bisa diatasi ini.

Data-data tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa untuk menciptakan lansia tangguh dan mendorong terciptanya bonus demografi kedua di masa depan memiliki tantangan yang cukup berat. Namun, itu semua dapat kita wujudkan jika mulai saat ini para pemangku kepentingan dan pihak-pihak terkait berupaya keras untuk meningkatkan kualitas generasi yang ada saat ini menuju generasi mendatang yang handal, kompetitif, berkualitas dan berdaya saing. Dengan upaya kita semua bukan tidak mungkin kita bisa menikmati bonus demografi kedua.

Untuk itu upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia ini tidak boleh ditunda-tunda lagi tapi harus dimulai dari sekarang. Dimulai dari genenarasi saat ini, bahkan bisa dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan agar kelak ketika mereka berada di usia angkatan kerja, mereka mampu menjadi penduduk yang produktif dan berkualitas. Juga ketika menjadi lansia, mereka bisa menjadi lansia yang sehat, produktif dan mandiri (Succesfull aging). Bersama kita bisa.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya