Sinetron Amanah Wali 4 dan Dakwah Memaksa di Televisi

Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam.
Sinetron Amanah Wali 4 dan Dakwah Memaksa di Televisi 14/06/2020 5596 view Agama unsplash.com

Saat sinetron-sinetron bernuansa Ramadan sudah tidak lagi tayang di televisi, beberapa di antaranya nyatanya masih ada yang tetap tayang. Salah satu stasiun televisi yang selalu menghadirkan sinetron Ramadan, RCTI menyisakan dua sinetron selepas lebaran untuk tetap tayang di layar kaca.

Dua sinetron tersebut adalah "Preman Pensiun" dan sinetron "Amanah Wali 4". Keduanya tetap ditayangkan kendati bulan sudah berganti ke Bulan Syawal. Keduanya pun sanggup meraih atensi penikmat sinetron Indonesia.

Khusus tulisan ini, saya akan lebih menyoroti pada sinetron "Amanah Wali 4" yang mengusung tema dakwah. Sinetron ini tayang di jam utama atau prime time. Implikasinya "Amanah Wali 4" bisa meraih persentase penonton yang banyak.

Sinetron ini merupakan sekuel dari sinetron "Amanah Wali" yang mulai menghiasi layar kaca sejak Ramadan tahun 2017 silam. Pihak RCTI sepertinya tak mau mengganti nomenklatur sinetron tersebut. Barangkali supaya mudah diingat oleh para penggemarnya. Sinetron ini pun akhirnya menjadi sinetron Ramadan andalan RCTI, yang setia tayang saban tahunnya.

Meskipun ada embel-embel "wali" dalam judulnya, sinetron ini sama sekali tak membahas konsep kewalian, atau menampilkan sosok wali pada kisah-kisah sejarah pada umumnya. Kata "wali" merujuk pada grup band Wali yang personilnya memang diberi mandat untuk menjadi pemeran utamanya.

"Amanah Wali 4" menceritakan perjalanan empat orang anak muda (baca: personil Wali Band) dengan latar yang berbeda-beda. Faank dengan latar belakang sebagai anak punk; seorang preman bernama Apoy; pencopet ulung yang terkenal dengan nama Ovie; serta anak orang kaya manja, Tomi.

Di seri sinetronnya yang pertama, keempat-empatnya masuk ke Pondok Pesantren "An-Nur" asuhan Ustaz Sepuh. Dengan latar belakang heterogen itulah, mereka punya tabiat yang juga variatif. Keempatnya terbilang santri yang bandel selama mondok.

Singkat cerita, di "Amanah Wali 4" mereka berempat sudah lulus dari pondok, kendati sebenarnya nggak dijelaskan mereka ini lulus atau bagaimana. Sewajarnya sinetron Indonesia, "Amanah Wali 4" ini pun berubah alur ceritanya di tengah jalan.

Kendati tetap mengusung tema dakwah yang nyaris mirip. Setelah beralih dari cerita yang fokus ke praktik ijon, episode-episode "Amanah Wali 4" fokus ke cerita dakwah di Pasar Genjing.

Usai melihat cara dagang Pak Yusuf, Apoy yang ditunjuk sebagai kepala pasar menginginkan Pasar Genjing menjadi pasar syariah. Jelas hal itu ditolak oleh para pedagang. Apa yang jadi hasrat Apoy ini mirip sekali dengan orang-orang yang selalu meneriakkan “khilafah” kala masyarakat tenteram dengan Pancasila. Pedagang pun menolak rencana itu, terutama Bu Ani, pedagang depan kios Pak Yusuf.

Metode dagang Pak Yusuf dengan cuma menyebutkan modalnya dan menyerahkan sepenuhnya harga final ke pembeli dianggap pedagang lain merugikan. Ini wajar, sebab pembeli bisa seenaknya menentukan harga. Misalnya hanya dengan memberikan kelebihan Rp 1.000 dari harga modalnya.

Pak Yusuf yang terbiasa dengan metode dagang macam begitu cenderung lapang dada saja. Sementara pedagang lain menilai keuntungan sedikit tak bisa menutup biaya hidupnya sekeluarga. Jangankan itu, buat makan sehari mungkin tidak cukup kalau keuntungannya sedikit.

Namun, Apoy tetap memaksa pedagang lain mengikuti caranya Pak Yusuf. Menurutnya, cara Pak Yusuf ini adalah yang paling adil dalam berdagang. Karena visinya jadi pasar syariah, pedagang lain dipaksa menurut.

Sekilas konsep dagang Pak Yusuf ini adil, dan kemungkinan tidak berpotensi saling menjatuhkan antar pedagang. Hal ini sesuai apa yang dicontohkan Rasulullah SAW. dan panduan Fiqh Muamalah dalam QS. An-Nur ayat 37.

Sayangnya, disampaikan dengan paksaan. Masyarakat yang menonton televisi tentu bakal menilai tindakan Apoy dalam berdakwah ini benar. Padahal sesungguhnya dalam berdakwah tidak boleh memaksa.

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)," begitulah penggalan QS. Al-Baqarah ayat 256. Selain itu, banyak sekali di Al-Qur'an perintah agar berdakwah dengan kelembutan. QS. An-Nahl ayat 125 juga tak lepas mencahayai kita dengan metode-metode dakwah tanpa kekerasan.

Namun demikian, televisi tetap menayangkan sebuah sinetron yang menunjukkan dakwah memaksa. Alih-alih mengedepankan Islam ramah seperti yang digaungkan ulama-ulama di Indonesia.

Tidak masalah jika tayang saat sahur. Karena kemungkinan yang menonton kebanyakan orang Muslim semua. Lah ini tayang di jam prime time di mana berpeluang besar masyarakat dari berbagai agama menontonnya. Bayangkan, andaikan saudara kita yang bukan beragama Islam menontonnya bagaimana?

Hypodermic Needle Theory dalam kajian komunikasi massa, media massa seperti televisi ini dapat memberi rangsangan kepada pemirsa secara langsung. Pemirsa diasumsikan sebagai objek pasif yang hanya sanggup memperoleh informasi tanpa memberikan feedback (Nurudin, 2011).

Artinya, "Amanah Wali 4" dengan konten dakwah memaksa ini jika disaksikan masyarakat Muslim, mereka akan terangsang. Penonton (baca: Umat Muslim) akan menyimpan di memori otaknya bahwa berdakwah itu harus seperti apa yang ditampilkan "Amanah Wali 4".

Ini berbahaya. Bisa-bisa nanti, pendakwah dadakan yang berwatak Abu Jahal semakin bertebaran. Apalagi televisi masih diminati kaum milenial. Survei IDN Research Institute tahun 2019, mengutip katadata.co.id, televisi menjadi media paling banyak dikonsumsi milenial, yaitu 89 persen.

"Amanah Wali 4" selain meracuni Umat Muslim dengan dakwah yang sifatnya memaksa, juga membentuk wajah Islam keras, ribet, dan menyusahkan. Jika yang non-muslim menonton, mereka akan semakin menjauh dengan Islam.

Di media sosial, dakwah keras ini mulai diminimalisir oleh ulama yang aktif medsos. Tetapi, bagaimana dengan yang di televisi? Hanya kita sebagai penonton yang bisa mengatasinya. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sering kali tak sanggup menjangkau aspek-aspek konten televisi semacam ini. Mereka cuma sibuk di luarnya. Apa yang ditonton sudah dianggap baik, maka tak ada teguran.

Kita mesti meninggalkan sinetron-sinetron semacam "Amanah Wali 4" dengan berharap akan ada tindakan khusus dari pihak yang berwenang. Meski akhirnya kita mafhum, bahwa hal itu berarti berharap selamanya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya