Sepak Bola, Cerminan Kodrat Kemanusiaan Kita

Sepak Bola, Cerminan Kodrat Kemanusiaan Kita 16/07/2021 113 view Lainnya sport.detik.com

Bermain merupakan kodrat manusia. Pada hakekatnya manusia adalah makhluk bermain. Permainan merupakan elemen penting dalam lakon hidup manusia. Dari kecil hingga tua manusia selalu terlibat dalam permainan. Kita adalah homo ludens, makhluk bermain.

Dalam setiap permainan, manusia menunjukkan jati dirinya. Dengan dan melalui permainan manusia dapat mengungkapkan identitas diri, mengaktualisasikan potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki. Seseorang yang memilki bakat mengolah kulit bundar, misalnya, baru dapat mengaktualisasikan kemampuan tersebut ketika dia bermain bola kaki.

Tentang permainan, John Huizinga, budayawan Belanda dalam bukunya Homo Ludens, menulis bahwa permainan merupakan sumber peradaban manusia. Karena itu permainan merupakan tindakan bebas manusia untuk memperoleh kegembiraan dan kebahagiaan yang tujuan akhirnya adalah realisasi diri (Bdk. Pandor, 2010:21).

Hakekat sebagai homo ludens inilah yang mendorong manusia menciptakan aneka permainan. Ada banyak permainan yang diciptakan manusia sebagai sarana aktualisasi diri. Dalam bidang olahraga, misalnya, kita kenal permainan bola kaki, bola voli, bulutangkis, bola basket, tenis meja, tenis lantai, dan aneka permainan lainnya.

Dari berbagai jenis permainan tersebut, harus diakui bahwa sepak bola merupakan permainan yang sangat digemari oleh manusia dewasa ini. Permainan sepak bola menghipnotis jutaan penggemar. Sepak bola telah menjadi magnet yang menarik banyak pendukung.

Sepak bola sangat populer di semua kalangan masyarakat. Dari barisan orang tua hingga anak-anak, laki-laki maupun perempuan. Sepak bola selalu menjadi topik perbincangan yang menarik. Permainan ini begitu digandrungi bukan hanya oleh mereka yang mahir mengolah si kulit bundar, tetapi mereka yang hanya bisa menonton pun ikut tersihir magis sepak bola.
Dengan perkembangan teknologi dan kemudahan arus informasi, virus "gila bola" begitu cepat menyebar hingga ke seluruh belahan dunia. Tidak heran bila pertandingan sepak bola yang jauh di Eropa sana dapat disaksikan di kampung Leuwayan, Lembata, NTT.

Yang lebih menggelikan, nama-nama pemain sepak bola dunia kini sudah ditempelkan di nama anak-anak kampung “zaman now” menggantikan nama nenek moyang kita. Nama-nama seperti Kuma, Dolu, Aur, Peu telah diganti dengan Kaka, Rivaldo, Ronaldo, Messi, Pirlo, Xavi, Iniesta, Buffon, dsb. Ini bukan gila bola tetapi benar-benar gila.

Saat ini, dunia sepak bola telah menyelesaikan dua turnamen akbar. Euro 2020 dan Copa America 2021. Euro merupakan turnamen sepak bola untuk negara-negara di benua Eropa. Sedangkan Copa Amerika adalah turnamen sepak bola yang diselenggarakan badan sepakbola Amerika Selatan CONMEBOL.

Dua turnamen ini telah tuntas digelar Senin (12/07/2021) dini hari ketika final Euro 2020 mempertemukan Italia dan Inggris. Sehari sebelumnya, Minggu (11/07/2021) Copa Amerika juga telah melangsungkan partai puncak yang mempertemukan Argentina dengan Brazil. Walau di tengah pandemi Covid-19, dua turnamen yang berlangsung selama kurang lebih sebulan sukses dihelat.

Euro 2020 yang diikuti 24 negara dimulai tanggal 12 Juni – 12 Juli 2021. Sebelas negara menjadi tempat pertandingan 24 negara yang dibagi ke dalam enam grup berisi empat tim tiap group. Setelah bertarung di masing-masing grup, peringkat pertama dan kedua grup ditambah empat tim peringkat ketiga terbaik berhak maju ke babak perdelapan final.

Setelah menyingkirkan lawan-lawannya babak perempat final dan semifinal, Italia dan Inggris akhirnya bertemu di final yang digelar di Wemblei, Senin (12/07/2021). Di laga final Italia berhasil merengkuh mahkota juara lewat kemenangan dalam adu pinalti setelah bermain imbang 1-1 selama waktu normal dan perpanjangan waktu.

Berbeda dengan Euro 2020, turnamen Copa America 2021 digelar di satu tempat yaitu Brazil. Turnamen ini diadakan mulai 14 Juni – 11 Juli 2021 dan diikuti sepuluh negara yang dibagi dalam dua grup yang berisi lima negara setiap grup.

Delapan negara kemudian melaju ke babak perempat final setelah menuntaskan pertandingan di fase grup. Brazil dan Argentina berhasil menyegel tiket final setelah melewati hadangan lawan-lawanya di perempatfinal dan semifinal. Final yang digelar di stadion Maracan, Minggu (11/07/2021) ini dimenangi Argentina lewat gol tunggal Angel Di Maria.

Potret Buram Sepak Bola Indonesia

Keberhasilan pelaksanaan Euro 2020 dan Copa Amerika 2021 dapat kita jadikan refleksi atas situasi sepakbola tanah air kita yang selalu menyodorkan fakta negatif baik yang terjadi di dalam maupun di luar arena pertandingan. Sejauh ini sepak bola tanah air lebih menampilkan wajah yang suram dengan prestasi minim.

Tidak jarang kita menyaksikan pertandingan bola yang berakhir rusuh. Di dalam lapangan bola baku hantam antar pemain, sementara di luar arena bola tawuran antar pendukung pun tidak kalah seru. Mafia sepak bola, pengaturan skor pertandingan, kompetisi bola yang kacau balau adalah potret wajah buram sepak bola Indonesia.

Sepak bola tanah air lebih banyak menampilkan adu otot ketimbang adu skill. Dunia sepak bola tanah air yang sering menimbulkan chaos membuat citra sepak bola sebagai permainan menjadi rusak. Permainan sepak bola tidak lagi menjadi sarana aktualisasi jati diri bangsa tetapi sebaliknya, merendahkan martabat bangsa.

Pada titik ini fitrah manusia sebagai homo ludens terdegradasi ke level hewani. Menurut Doni Kleden (Pos Kupang, 12/08/2015) ada pembeda yang sangat subtantif antara ludens yang terdapat pada manusia dan ludens yang terdapat pada hewan. Letak pembeda itu adalah kesadaran dan integritasnya. Pada hewan, ludens-nya dikendalikan oleh naluri, insting yang bersifat refleks dan bukan refleksi. Pada manusia, ludens-nya dikendalikan oleh akal, otonomi, integritas, dan kesadaran (consciousness).

Konsekuensinya, urai Kleden, manusia tidak akan mudah untuk membiarkan dirinya terperosok ke dalam ludens yang merendahkan integritasnya, otonominya, dan melenyapkan kesadarannya. Karena ludens pada manusia selalu berangkat dari kesadarannya yang rasional sebagai manusia yang selalu memperhitungkan segala konsekuensi logis dari perbuatannya. Artinya segala perilaku hidup selalu berangkat dari refleksi, bukan refleks sebagaimana yang ada pada hewan.

Kericuhan-kericuhan yang sering terjadi di arena sepak bola tanah air harus segera dibenahi agar tidak merusak citra sepakbola bangsa di mata dunia. Sebagai sarana pengungkapan jati diri bangsa, sepak bola harus dijaga agar tidak ternodai aksi-aksi tidak terpuji. Bila kepada dunia kita tidak mampu menunjukkan prestasi timnas sepak bola, cukuplah kita tunjukkan bahwa sepak bola bangsa ini berada pada level ludens sebagai manusia, bukan ludens sebagai hewan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya