Senjakala Industri Pertelevisian Indonesia

Pembelajar
Senjakala Industri Pertelevisian Indonesia 27/05/2022 62 view Budaya publicdomainvectors.org

Sudah sejak lama, mungkin sekitar sepuluh tahunan saya sangat jarang menonton TV. Kalau pun menonton, acara yang saya ikuti hanya sebatas acara olah raga, seperti: moto gp, bulu tangkis, dan kadang kala sepak bola. Selain acara tersebut tidak masuk ke dalam list. Anehnya lagi, Itu pun saya tonton lebih sering lewat handphone daripada TV. Terus terang saya memang tidak punya TV.

Saya dan TV memang punya hubungan yang sama sekali tidak harmonis. Dan kelihatannya memang akan seperti itu untuk selamanya. Bukan apa-apa, saya merasa acara-acara di TV sudah sangat kacau. Acara-acara yang terlalu over dalam mengejar rating sehingga menjadi acara yang terlalu didramatisir, alay dan lebay. Yang saya maksud adalah program-program acaranya yang hampir seragam; mayoritas program TV diisi acara komedi dan sinetron. Sebenarnya itu tidak menjadi masalah kalau terjadi variasi program dan pengkayaan jadwal siar. Tapi ini tidak, seharian penuh kita digempur acara-acara seperti itu. Parahnya lagi yang disiarkan adalah jenis hiburan yang artifisial. Itu sama saja obrolan di warung kopi yang disiarkan di TV yang berisikan obrolan remeh-temeh. Apalagi sinetron-sinetronnya yang terlalu mengekspos gaya hidup mewah dan budaya konsumtif.

Jangan tanya lagi untuk acara infotainment-nya yang pandai dalam menggoreng isu. Saya tidak mempermasalahkan konten beritanya, karena media hidup dari sensasi yang dibuat oleh para artis. Tapi mbok ya jangan terlalu kebangetan juga menggoreng isunya. Seberapa berhak media meliput dan memata-matai kehidupan para artis? Atau apakah memang artis senang jika kehidupan pribadinya menjadi tontonan publik?

Sebenarnya sebutan artis menurutku tidak cocok, sebutan yang tepat adalah selebritis. Artinya orang yang suka merayakan kehidupan pribadinya daripada karya artistiknya. Tapi memang itulah hukum media. Man make news. Publik figur hanya dengan melakukan hal yang sepele pun bisa menjadi berita. Apalagi sensasi-sensasi yang dibuatnya—akan menjadi bahan berita yang marketable. Hal itu makin subur dengan kecenderungan kejiwaan manusia yang suka dengan hal yang kontroversial. Dari sana pulalah lahir jargon “bad news is good news”. Berita-berita yang buruk lebih disukai daripada berita yang menggembirakan.

Ada dua faktor penyebab hal tersebut. Pertama, dari pihak stasiun TV-nya yang sedari awal membuat acara-acara yang seperti itu sebagai ideologi penyiarannya, atau yang kedua, itu sebagai respon dari selera masyarakat kita yang suka acara-acara tidak jelas, hiburan artifisial.

Tapi memang benar kedua faktor itu saling berkaitan. Seumpama pihak stasiun TV membuat program yang bagus mau tidak mau masyarakat kita juga akan mengikutinya. Jadi faktor terbesar ada di pihak stasiun TV yang harus berusaha untuk membuat program acara yang berkualitas.
Yang berkualitas itu yang bagaimana? Saya sebagai orang awam memahaminya sebagai acara yang informatif, seru, unik, menghibur dan juga yang terpenting tidak alay dan lebay. Sebagai contoh: jenis acara-acara yang mengeksplor kekayaan tradisi dan kearifan lokal budaya Indonesia.

Saya menyadari dalam menjalani kehidupan ini kita tidak bisa terus-menerus serius. Dan kalau pun bisa hidup akan menjadi kering. Kita juga butuh hal-hal lucu bahkan konyol untuk bisa menyegarkan pikiran. Sudah merupakan nature manusia untuk mengalami proses kreasi-rekreasi. Bekerja-istirahat-bekerja-istirahat dan seterusnya.

Saya juga memahami bagaimana masyarakat kita butuh konten-konten yang lucu untuk merelease stress. Sebab mereka juga sudah sangat tertekan oleh beragam permasalahan. Yang utama jelas masalah ekonomi.

Kebanyakan masyarakat menengah ke bawah menghibur diri lewat tayangan-tayangan di TV. Tapi yang perlu dicermati ternyata hiburan masyarakat kita adalah jenis hiburan yang artifisial. Ini mengindikasikan masalah yang lebih serius. Ternyata untuk mendapatkan kebahagiaan mereka harus mencari keluar diri tidak bisa mereka menemukan dalam diri mereka sendiri. Dalam agama sudah diperintahkan untuk sembahyang sebagai jalan untuk bisa berkomunikasi dengan Tuhan, minta untuk digembirakan, diberikan ketegaran dan ketabahan dalam menjalani kehidupan. Atau bisa juga dengan mendayagunakan akal dan rasa dalam diri kita. Sebenarnya yang dinamakan kebahagiaan itu adalah peristiwa bergetarnya (seperti resonansi) gelombang keindahan di dalam diri dengan sesuatu yang ada di luar. Kita berwisata ke pegunungan atau ke pantai, hati kita menjadi bungah sebab melihat keindahan alam yang begitu indahnya. Aslinya hal yang di di luar itu mentrigger rasa keindahan (estetika) yang sudah ada di dalam diri manusia. Kalau tidak percaya saya kasih contoh. Anda ditraktir makan oleh sahabat Anda sate kambing dan gulai. Tapi karena anda sedang sakit maka rasa masakannya menjadi tidak enak. Anda jadi tidak berselera makan. Begitu pula rasa keindahan itu, seindah-indahnya alam, seartistik-artistiknya pertunjukan kalau sense estetika kita tidak aktif kita tidak akan bisa merasakan yang namanya keindahan. Dan ujungnya nanti kebahagiaan.

Maka kita perlu mengaktifkan akal budi dan sense keindahan dalam diri kita sehingga tidak terlalu tergantung pada “hiburan-hiburan elektronik”. Sebab bagaimanapun juga acara-acara tersebut akan mempengaruhi alam kejiwaan kita. Ibarat sebuah minuman, acara-acara tersebut sama sekali tidak menyehatkan. terlalu manis sehingga menimbulkan rasa eneg. Apalagi kalau sering diminum nanti akan menyebabkan diabetes. Bukankah pers: media elektronik adalah pilar demokrasi yang keempat. Sehingga seharusnya dapat menyajikan tayangan-tayangan yang bermutu. Tampaknya hal itu sudah sangat melenceng dari ideologi awal.

Orang-orang yang bergelut di dunia pertelevisian sebaiknya berbenah diri untuk bisa kembali membuat acara-acara yang selain menghibur (entertaintment) juga kalau bisa, meminjam istilah sosial-politik Orde Baru “kultural edukatif. Hukum supply and demand pasti tetap berlaku. Dengan menawarkan acara yang bermutu kepada para pemirsa yang mungkin pada awalnya kurang suka, setelah berjalannya waktu mereka akan menyadari urgensi tayangan yang bagus. Saya menyadari pelaku industri kreatif harus berpikir ekstra keras untuk dapat menyajikan tayangan yang berkualitas. Tapi karena sebanding dengan income yang didapat seharusnya memacu para pekerjanya untuk bisa merealisasikan hal tersebut.

Selain dengan membuat program-program baru yang lebih berkualitas. Perlu kiranya juga dilakukan langkah-langkah untuk bisa mengurangi acara-acara remeh-temeh yang tidak jelas gunanya. Acara gossip dan talkshow lebay sebaiknya banyak-banyak dikurangi.

Sekarang ini sudah mulai terlihat juga pergeseran penonton TV ke media lain seperti youtube. Maka pasti lama-kelamaan industri pertelevisian akan gulung tikar digempur dengan tayangan-tayangan youtube jika tidak bisa melakukan inovasi. Oleh sebab itu banyak acara di TV yang dialihmediakan ke youtube. Hal ini bertujuan untuk tetap menjaga segmen penonton acara-acaranya. Itu pula yang menyebabkan mereka agak setengah hati membuat program-programnya. Jadi program-programnya asal saja, pokoknya kalau ada bumbu-bumbu seks-nya pasti banyak yang suka. Bahkan untuk berita-berita yang tidak penting dan tidak ada urgensinya kepada hidup kita pun bisa digoreng dan disajikan kepada pemirsa.

Apakah mereka akan menyuguhkan tayangan yang disukai meskipun tidak bermutu? Tidak adakah tayangan alternatif yang bisa mengakomodasi kebutuhan masyarakat kita? Menghibur, informatif, tapi tidak latah dan lebay?

Semua saran-saran di atas tidak akan berguna jika memang ideologi pertelevisian murni hanya untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya tanpa ikut serta menjadi bagian yang penting dari proses pembangunan dalam kehidupan bangsa. Tentu kita sadari industri pertelevisian memang didominasi TV swasta. Menjadi tantangan tersendiri bagi mereka untuk tidak membabi buta dalam mengejar keuntungan sebesar-besarnya.

Mungkin ada yang rindu era-era 90-an di mana jumlah stasiun TV tidak sebanyak sekarang. Juga lebih banyak variasi program dan penyusunan run time yang pas. Jam pagi cocoknya diisi acara berita, nanti menjelang siang sinetron, sore diisi dengan dialog kebudayaan, maghrib berita lagi, dilanjut sinetron kemudian agak tengah malam mungkin acara komedi. Akankah run time acaranya bisa seperti pada era 90-an? Atau apakah memang industri pertelevisian sudah berada di senjakala kehadirannya, dan akan mati ditelan zaman? Atau ini adalah masa pembusukan bagi munculnya tunas baru industri pertelevisian? Biar waktu yang menjawabnya.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya