Screen Time Pada Anak, Siapa Bertanggung Jawab?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPNVY Konsentrasi Media dan Jurnalisme
Screen Time Pada Anak, Siapa Bertanggung Jawab? 14/03/2022 152 view Lainnya freepik.com

Seiring perkembangan zaman, anak-anak sekarang sudah sejak dini pandai mengoperasikan gadget atau gawai. Peran orang tua yang terkesan membebaskan sang anak dengan berbagai alasan tak jarang menjadi berlebihan. Tuntutan kondisi juga memaksa sang anak untuk berlama-lama menatap layar gawai tanpa pengawasan khusus dan mempertimbangkan dampak buruk yang di timbulkan pada screen time yang berlebih pada anak.

Orang tua adalah figur pertama dan paling mempunyai akses terhadap apa yang terjadi pada anak. Sudah seharusnya orang tua tidak terlalu membebaskan anak terlalu sering screen time dalam jangka waktu berlebih. Ada banyak dampak negatif yang di timbulkan jika anak-anak sudah sejak dini tidak diperhatikan intensitas screen timenya. Dengan kata lain bila hal ini tidak diperhatikan maka orang tua adalah orang pertama yang merusak anak.

Arti screen time ialah waktu yang dihabiskan di depan layar elektronik, seperti televisi, tablet, atau smartphone. Hal ini penting untuk diperhatikan, terutama di awal-awal usia si kecil. Dalam sebuah studi yang dilakukan Uswitch secara spesifik menyebutkan, bahwa anak-anak antara usia lima sampai 16 tahun menghabiskan sembilan jam setiap hari untuk screen time.

World Health Organization (WHO) sebagai organisasi Kesehatan dunia menerbitkan pedoman screen time yang normal pada anak. Pada anak dua sampai lima tahun disarankan hanya boleh screen time tidak lebih satu jam dalam sehari. Hal tersebut tentu terpaut jauh dengan apa yang terjadi pada studi Uswitch di mana usia 5 sampai 16 tahun sudah 9 jam screen time sehari.

Efek pandemi Covid-19 adalah salah satu penyebab meningkatnya screen time pada anak. Segala kegiatan terutama pendidikan dilakukan secara online mengharuskan sang anak berlama-lama menatap gadgetnya. Pengawasan yang kurang baik dari tenaga pendidik ditambah orang tua yang terkesan abai memperburuk meningkatnya screen time pada anak. Minimnya alternatif yang di berikan pada anak dalam mengikuti proses belajar mengajar, mau tidak mau mengharuskan sang anak berada di depan layar dalam waktu berlebih.

Dalam sebuah studi yang di lakukan JAMA Pediatrics pada tahun 2022, dari The University of Calgary memeriksa hasil dari 63 studi yang mengamati 89.163 anak di bawah 5 tahun. Menemukan dua dari tiga anak di bawah lima tahun melebihi aturan penggunaan gadget selama masa pandemi Covid-19. Hal ini sangat berbanding lurus karena kebanyakan orang tua memberi hiburan praktis pada anak terutama gadget.

Peran orang tua sebagai pengawas sekaligus mengetahui apa yang baik dan buruk untuk anak rasanya tidak berjalan dengan baik. Minimnya pengetahuan terhadap dampak buruk yang akan timbul dari screen time yang berlebih. Bukan hanya dampak buruk jangka pendek seperti kesehatan mata, dampak buruk yang berkepanjangan juga dapat di derita sang anak. Efek kecanduan menjadi hal paling sering terjadi karena sang anak sudah terbiasa dengan aktivitas gadget yang diberikan orang tua.

Sedikitnya kreatifitas orang tua dalam memberikan alternatif hiburan yang diberikan kepada anak menjadi faktor utama anak cenderung tertarik pada gadget daripada aktivitas lainnya. Selain itu dengan alasan sudah tuntutan perkembangan zaman orang tua kerap kali sudah membiasakan anak sedari dini mungkin membiasakan anak dengan gadget. Banyak orang tua juga berpendapat jika anaknya yang masih kecil pandai mengoperasikan gadget dianggap keren dan pintar. Hal seperti itu seharusnya disesuaikan dengan usia sang anak dan tetap dengan pengawasan penuh orang tuanya.

Pendekatan orang tua terhadap anak yang kurang komunikatif menjadi faktor lainnya mengapa screen time pada anak tak terkontrol. Orang tua yang menginginkan hal praktis saat mengasuh anak acap kali memberi gadget sebagai solusi agar sang anak mudah diasuh. Selain itu kurangnya perhatian dan kesiapan orang tua untuk mempunyai anak juga kerap kali terjadi pada beberapa kasus. Orang tua yang terlalu sibuk dengan aktivitas sehari-hari menjadikan sang anak tak ada pilihan lain dalam menghabiskan waktunya selain berada di depan layar gadget atau sejenisnya.

Untuk itu sosok yang sebenarnya bertanggung jawab pada screen time anak adalah orang tua, karena merekalah orang yang pertama kali mengajari serta memberikan segala sesuatu pada anak. Lagi-lagi lemahnya aspek pengetahuan dan pengawasan orang tua menjadikan screen time pada anak tak lagi teratur dengan baik.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya