Pro Tambang dan Agenda Manusia Abad Ini

Mahasiswa-Penulis Sajak-Sajak Cinta
Pro Tambang dan Agenda Manusia Abad Ini 20/06/2020 575 view Lainnya Lokasi Tambang Mangan di Desa Satar Punda. Foto: JPIC-OFM/Mongabay Indonesia

Pro-kontra mengenai kehadiran tambang dan pabrik semen di Kabupaten Manggarai Timur, tepatnya di wilayah kampung Lengko Lolok dan Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lambaleda belum menemui titik terang. Perdebatan mengenai kehadiran tambang dan pabrik ini melahirkan dua kelompok besar yakni kelompok yang pro tambang dan yang kontra tambang.

Kelompok pro mendukung kehadiran tambang karena menjanjikan dan dapat mensejahterakan masyarakat. Ke-pro-an mereka semakin terbukti ketika pada 9 Juni 2020 beberapa warga wilayah setempat menerima uang ganti rugi yang diberikan pihak perusahan.

Sikap warga yang menerima uang ganti rugi atau saya membahasakannya sebagai uang ‘pelunak hati’ ini tentu saja memberikan tanda yang serius bahwa tambang dan pabrik semen ini diterima dan akan segera beroperasi (jika IUP-nya diterbitkan).

Selain itu, penerimaan uang ganti rugi juga melemahkan semangat pihak yang kontra terhadap kehadiran tambang di wilayah tersebut. Alasannya ialah jika (sebagian) warga setempat telah menyetujui kehadiran para investor dengan menerima uang yang diberikan, apakah kita yang berada di luar wilayah ini mampu mengatasinya?

Atau setidak-tidaknya mampukah kita jika nantinya perusahaan yang memberikan dana ganti menuntut kita atau warga Lengko Lolok dan Luwuk untuk mengembalikan uang yang telah mereka bagikan apabila rencana penambangan dan pendirian pabrik semen ini gagal?

Pertanyaan-pertanyaan demikian memang terlalu dini untuk dikemukakan, akan tetapi ini perlu diantisipasi agar kita tidak teledor atau terlanjur menikmati apa yang diberikan tanpa perlu melihat lebih jernih akan maksud dan tujuan pemberian uang ganti rugi dan sikap sebagian warga yang menerima uang ini. Meski demikian, kelompok pro tetap pada keputusannya, bagi mereka kehadiran tambang akan membawa kesejahteraan dan dapat meningkatkan perekonomian serta taraf hidup masyarakat.

Seakan merespon tindakan warga yang telah ‘terlanjur’ menerima uang yang diberikan pihak perusahaan, pada hari Kamis, 18 Juni 2020, 66 organisasi yang bergabung dalam Koalisi Rakyat Tolak Tambang dan Pabrik Semen di Manggarai Timur menyurati Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat (Floresa.co).

Melalui surat itu, kelompok kontra ini mendesak gubernur agar membatalkan sekaligus tidak menerbitkan izin tambang dan pabrik semen di Kampung Lengko Lolok dan Luwuk. Upaya penolakan kehadiran tambang dan pabrik semen ini getol dilakukan karena tiga alasan berikut.

Pertama, kehadiran tambang memicu dua masalah baru di tengah masyarakat setempat yakni adanya relokasi kampung dan alihfungsi lahan pertanian. Relokasi kampung membuat waga setempat harus menempati suatu perkampungan baru. Dalam menempati suatu tempat yang baru, masyarakat tentunya harus mampu beradaptasi terutama secara sosial bila tempat yang baru itu telah berpenghuni.

Selain relokasi perkampungan, masalah lainnya ialah alihfungsi lahan pertanian menjadi lahan pertambangan. Pengalihfungsian lahan ini membuat masyarakat setempat mencari alternatif pekerjaan lain. Hal ini sangat perlu karena tidak semua anggota masyarakat setempat bisa diterima dan bekerja di pertambangan ataupun pabrik.

Alihfungsi lahan pertanian juga membuat masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhannya terutama kebutuhan akan pangan. Penyebabnya ialah lahan pertanian yang selama ini menyediakan pasokan kebutuhan pokok bagi masyarakat digunakan untuk keperluan lain yakni pertambangan dan pendirian pabrik.

Isfridus Sota (warga Lengko Lolok) mengatakan bahwa relokasi kampung dan alihfungsi lahan pertanian berpotensi melahirkan masalah sosial baru yakni adanya penolakan dari warga-warga di kampung sekitar lokasi baru dan para petani menjadi kehilangan ruang produksi dan sumber kehidupan (Floresa.co).

Kedua, kehadiran tambang memicu kerusakan lingkungan. Penolakan kehadiran tambang dan pabrik semen dilandasai alasan yang berkaitan dengan kesehatan ekologis. Acuan organisasi-organisasi penolak tambang ialah tambang yang ada di Manggarai menimbulkan kerusakan lingkungan dan mengabaikan upaya reklamasi lahan bekas pertambangan. Kenyataan ini dapat ditemukan di wilayah bekas tambang mangan di daerah Reo, Kabupaten Manggarai.

Ketiga, aktivitas pertambangan dan pabrik semen disinyalir dapat mengganggu kesehatan manusia. Berkaitan dengan ini, Melky Nahar, Manager Kampanye Jaringan Advokasi Tambang, mengatakan bahwa zat-zat yang muncul akibat pabrik semen dan penambangan bahan bakunya, memicu gangguan pada kesehatan manusia.

Salah satu zat berbahaya yang disebutkan beliau ialah (sebagaimana diberitakan oleh Floresa.co) PM2.5. PM2.5 mengandung senyawa beracun yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia seperti asma, infeksi saluran pernapasan akut, dan kanker paru-paru. Penjelasan di atas sedikitnya bisa menggambarkan alasan kelompok pro dan kontra atas kehadiran tambang di Manggarai Timur.

Namun saya tidak mau mencampuri urusan pro-kontra ini lebih jauh. Dalam tulisan ini saya hanya mau menyentil kelompok pro tambang dan mencoba menyadarkan mereka. Hemat saya posisi mereka yang pro tambang, -yang mana mereka tahu akan konsekuensinya namun tetap mendukung, mengandung sisi gelap yang sejalan dengan misi manusia abad ini.

Tentu saja saya tidak mempersalahkan, apa lagi mendesak mereka untuk menarik kembali dukungannya, sebab bagaimana pun (mungkin) ini soal hati dan pilihan serta mereka punya alasan untuk menerima tambang. Akan tetapi, semoga dengan tulisan sederhana ini mereka akan mengambil langkah yang lebih bijak dan kemudian mampu mengawasi jalannya pertambangan dan pabrik ini dengan baik apabila rencana kehadirannya dikukuhkan.

Mari kita uraikan dulu sekilas tentang manusia di abad ini. Manusia zaman sekarang, dimana teknologi makin mutakhir dan bencana-benacana seperti kelaparan dan wabah semakin sedikit dijumpai (kata Harari: Penulis Homo Deus), sibuk dengan agenda kemanusiaannya sendiri. Kenyamanan karena perkembangan teknologi membuat manusia mengangankan berbagai agenda besar dalam hidupnya.

Salah satu agenda besar manusia adalah memperkaya diri demi terjaminnya keseharian hidup. Dalil manusia dalam upaya memperkaya diri ini adalah untuk kesejahteraannya sebagai individu. Namun siapa sangka, proyek besar manusia menuju agendanya itu membuat ia kehilangan kendali, sehingga demi kekayaan dan ‘kesejahteraan’ ia menghalalkan segala cara semisal dengan korupsi dan mengeksploitasi alam.

Dalam menggapai cita-citanya ‘menjadi sejahtera’ manusia berubah menjadi mesin yang terus bergerak dan berusaha menguasai ciptaan lain. Yang terakhir ini erat kaitannya dengan salah satu upaya manusia menjadi kaya di atas yakni mengksploitasi alam. Alhasil alam kehilangan keseimbangannya yang berdampak pada munculnya pelbagai bencana baru seperti tsunami gangguan kesehatan, ketiadaan air bersih, polusi udara, dan lain sebagainnya.

Sejalan dengan agenda manusia masa kini, mereka yang pro tambang di atas berusaha mengecap kesejahteraan hidup dengan mendukung kehadiran tambang dan berharap nantinya bekerja, menjadi ‘kaya’ dan sejahtera. Hal ini memang bukan suatu kenaifan, apalagi jika masyarakat ‘bosan’ dengan kemiskinan struktural dan menjadi petani yang tidak pernah mendapat laba.

Namun, di sini sebenarnya ada pola pikir yang mungkin keliru. Kekeliruan yang ada menurut saya adalah masyarakat melihat tambang seoalah-olah sebagai satu-satunya ‘malaikat penolong’ yang akan membawa mereka keluar dari garis kemiskinan. Sebenarnya masih banyak yang bisa digalakkan untuk menjadi manusia sejahtera dan ‘kaya’, semisal melalui peternakan, peningkatan pertanian serta pengembangan industri kreatif.

Hal-hal ini memang tidak mudah dilakukan. Oleh karena itu pemerintah yang berkewajiban untuk membantu masyarakat harus turun tangan dengan melakukan pelatihan dan sosialisasi kepada masyarakat, bukannya membiarkan masyarakat menerima begitu saja kehadiran tambang.

Akan tetapi, hal ini sebenarnya hanya harapan. Nyatanya masyarakat, melalui kelompok pro dan pihak lain yang mendukung kehadiran tambang, tetap pada pendiriannya. Melalui keputusan ini mereka menjadi sama seperti ‘manusia global’ lainnya yakni mengambil jalan pintas menuju kesejahteraan.

Mereka tidak peduli jika tambang membawa serta kehancuran bagi lingkungan, merusak ekosistem, mengganggu kelangsungan hidup dan kesehatan manusia. Saya mengakhiri sentilan ini dengan narasi singkat tengtang manusia dan alam:

“Manusia memiliki banyak agenda yang hendak diraihnya demi kepuasaan dan kenyamanan hidup. Mewujudkan agenda ini mereka tidak tanggung-tanggung: menjadi musuh alam dan berusaha menaklukan serta mengeksploitasinya. Di saat yang sama mereka lupa bahwa sebenarnya alam juga memiliki agenda untuk menjaga agar bumi tetap seimbang. Demi mencapai keseimbangan ini, alam kadang berlaku ganas: melenyapkan makhluk hidup termasuk manusia melalui maut yang dibawanya. Siapa sangka, sebenarnya penyebab keganasan alam adalah bukan dirinya sendiri, melainkan manusia yang lebih dahulu melecehkannya.”

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya