Perempuan dan Bonus Demografi

PNS BKKBN
Perempuan dan Bonus Demografi 14/09/2019 795 view Ekonomi

Bonus demografi di Indonesia diperkirakan terjadi tahun 2020 sampai 2030. Ini berarti kurang dari setahun lagi kita akan memasuki bonus demografi. Waktu yang sesungguhnya sangat sempit untuk menyiapkan kualitas sumber daya manusia dalam menyongsong peluang ini.

Di era bonus demografi, populasi penduduk usia produktif, yaitu penduduk usia 15-64 tahun, mencapai 70 persen dari total jumlah penduduk. Sisanya adalah penduduk tidak produktif, yaitu penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun.

Bonus demografi bukan sekedar jumlah penduduk usia produktif belaka, tetapi mensyaratkan penduduk produktif yang benar-benar berkualitas. Penduduk produktif yang berkualitas tersebut dapat diukur dari tingkat pendidikan, keterampilan, serta kesehatan yang memadai sehingga mampu bersaing dalam mendapatkan atau menciptakan lapangan pekerjaan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.

Penduduk berkualitas, produktif dan sehat tidak akan membebani keluarga dan negara dengan berbagai macam persoalan. Seperti misalnya perilaku tak sehat, penyakit maupun pengangguran. Namun sebaliknya, berkontribusi positif terhadap peningkatan pendapatan perkapita karena penduduknya mampu bekerja dan menciptakan lapangan pekerjaan. Dan ini yang diharapkan dari hadirnya bonus demografi.

Ada beberapa syarat agar bonus demografi tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Syarat-syarat itu antara lain adalah pertama menekan angka kelahiran, kedua adalah sumber daya manusia yang berkualitas, yang ketiga adalah sumber daya yang berkualitas tersebut dapat terserap ke pasar kerja, keempat adanya tabungan keluarga serta kelima adalah meningkatnya porsi perempuan dalam pasar kerja.

Kondisi Perempuan Menjelang Bonus Demografi

Penduduk Indonesia berdasarkan SUPAS 2015 adalah sebesar 255.182.144 jiwa, dimana persentase penduduk laki-laki adalah 52,25 persen sementara penduduk perempuan sebesar 49,75 persen. Ini berarti jumlah penduduk laki-laki dan perempuan tidak terpaut jauh atau hampir sepadan.

Untuk itu dalam rangka memanfaatkan peluang bonus demografi tersebut, peran perempuan dalam menopang kehidupan keluarga serta berpartisipasi untuk pembangunan bangsa perlu ditingkatkan. Perempuan harus diberdayakan dengan meningkatkan kualitas hidup dan sumber daya manusianya. Selain itu perempuan juga perlu masuk ke dunia kerja seperti kaum laki-laki dengan upah yang tentu juga tidak distratifikasikan.

Namun patut disayangkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia perempuan pada tahun 2017 adalah sebesat 68,08. Kalah jika dibandingkan dengan Indeks Pembangunan Manusia laki-laki yaitu sebesar 74,85. Demikian juga dengan rata-rata lama sekolah perempuan yang masih lebih rendah dari rata-rata lama sekolah laki-laki. Lama sekolah penduduk laki-laki adalah 8,56 tahun dan untuk perempuan adalah sebesar 7,65 tahun.

Perbedaan Indeks Pembangunan Manusia dan juga rata-rata lama sekolah antara laki-laki dan perempuan di Indonesia mengindikasikan bahwa ada persoalan ketidakadilan dan kesetaraan gender. Laki-laki lebih diuntungkan dari pada perempuan dalam hal kesempatan pendidikan dan memperoleh pekerjaan.

Gambaran bahwa laki-laki lebih diuntungkan dalam hal memperoleh pekerjaan, tercermin dari tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Indonesia periode Februari 2017-Agustus 2018 untuk laki-laki adalah sebesar 82,69 persen. Sedangkan TPAK untuk perempuan adalah sebesar 51,88 persen.

Data tersebut memberi penjelasan bahwa masih adanya kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam iklim dunia ketenaga kerjaan di Indonesia. Ini terjadi karena masih rendahnya kualitas SDM perempuan di Indonesia dibandingkan dengan penduduk laki-laki.

Untuk itu, ke depan dengan waktu yang sangat mepet kualitas hidup perempuan perlu lebih ditingkatkan lagi. Tidak boleh ada anak perempuan yang putus sekolah atau tidak bisa sekolah karena alasan kemiskinan dan alasan sosial lainnya. Dengan demikian perempuan akan mampu mengejar ketertinggalannya dari sisi kualitas sumber daya manusia sehingga perempuan juga mampu terjun ke ranah publik untuk bekerja sama seperti laki-laki.

Selain hal tersebut, dalam menyongsong bonus demografi maka perempuan juga perlu disadarkan mengenai pentingnya pendewasaan usia perkawinan. Perempuan boleh menikah ketika mereka telah matang secara fisik, psikis, ekonomi dan sosial sehingga ketika mereka berkeluarga tidak lagi menjadi beban keluarga atau orang tua dari sisi ekonomi.

Peluang dan Tantangan

Hadirnya bonus demografi pada tahun 2020 sampai 2030 dan mencapai puncaknya pada tahun 2028, merupakan peluang besar jika bangsa ini mampu memanfaatkan dengan baik potensi sumber daya manusia yang berlimpah baik perempuan maupun laki-laki

Jumlah penduduk usia produktif perempuan (15-64) yang jumlahnya hampir sama dengan laki-laki juga harus dibekali dengan tingkat pendidikan dan keterampilan yang memadai serta kesehatan yang prima dan penciptaan lapangan pekerjaan sehingga perempuan mampu berkontribusi dalam pendapatan perkapita keluarga.

Masuknya perempuan produktif ke dalam dunia kerja merupakan kontribusi positif dalam rangka menyongsong bonus demografi. Dengan perempuan Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing serta masuk ke dunia kerja maka peluang bonus demografi yang merupakan jendela kesempatan menuju kesejahteraan bangsa ini dapat terwujud. Semoga.

 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya