Utopia Milenial, Kaya 30 Detik di Binomo

Mahasiswa Sanata Dharma
Utopia Milenial, Kaya 30 Detik di Binomo 14/04/2022 158 view Ekonomi Katadata.co.id

Binomo akronim dari Binary Option ini merupakan salah satu platfrom trading illegal, yang mana menjadi salah satu penyedia layanan trading digital yang marak digunakan oleh masyarakat Indonesia dikarenakan tawaran profit yang juga menjanjikan keuntungan instan dan mekanisme “perdagangannya” yang bisa dikatakan menggunakan analisis teknikal tertentu yang juga mudah dipahami. Mekanisme investasi yang ditawarkan oleh platform ini adalah sistem betting menebak alur grafik harga menggunakan tools/indicator yang sudah didesain sedemikian rupa agar kelihatan seperti trading sungguhan.

Tawaran dan sistem perdaganganan dari platform binomo ini kemudian menimbulkan semacam keinginan untuk kaya mendadak dengan periode waktu yang dapat disetel oleh masing-masing trader bahkan periode waktu tebakan harga bisa disetel hingga 30 detik. Model inilah yang kemudian menarik atensi masyarakat Indonesia khususnya milenial berkecimpung dalam dunia trading-trading-an ini dan membuat mereka terjebak dalam pikiran kaya secara instan. Pola pikir inilah yang kemudian cenderung disebut utopia. Istilah utopia diciptakan dalam bahasa Yunani oleh Sir Thomas More untuk buku Utopia karyanya yang diterbitkan pada tahun 1516, yang menggambarkan suatu masyarakat di pulau khayalan di Samudra Atlantik. Meskipun istilah ini sudah ada sejak Yunani kuno dan mengandung pelbagai interpretasi baik dari segi ekonomi, sosial maupun politik.

Utopia, menjadi patologi baru di tengah pandemi, masyarakat tidak lagi mengandalkan proses dalam bekerja, melainkan beradu nasib pada ketidakpastian trading di binomo yang ternyata adalah aplikasi illegal belum tersertifikasi BAPPETI bahkan tak ada satupun bangunan/gedung yang menjadi aset atau setidaknya bukti operasional perusahaan. Mirisnya dengan semua realitas seperti ini kaum muda milenial menjadi promotor yang menjerumuskan masyarakat ke dalam pusaran lingkaran setan judi berbasis trading ini. Dalam kasus binomo nama Indra Kenz menjadi mencuat, Bareskrim Polri menyita total asetnya sekitar Rp 55 miliar. Pemilik nama lengkap Indra Kesuma tersebut ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan investasi ilegal melalui aplikasi Binomo. Sedangkan dalam kasus Doni Salmanan, Bareskrim Polri setidaknya menyita total aset sekitar Rp 64 miliar. Doni Taufik Salmanan ini menjadi tersangka penipuan dan money laundry binary option khusus aplikasi quotex.

Miris melihat kenyataan demikian, milenial yang seharusnya menjadi tonggak estafet perubahan justru banyak yang terjebak dalam utopia akan keinginan untuk kaya mendadak, berharap pundi-pundi dolar masuk hanya bermodalkan sejengkal pemahaman yang ditawarkan segelintir orang sehingga nalar kritis tidak lagi menjadi pisau analisis untuk melihat dan menginterpretasi realitas finansial. Lantas mengapa hal demikian bisa terjadi? Apakah milenial kehilangan nalar kritis sehingga terjebak dalam utopia kaya mendadak?

Binomo, Investasi atau Judi?

Saat ini salah satu yang ramai diperbincangkan adalah Binomo, yang merupakan platform online trading yang menyediakan aset berupa uang asing (forex), saham, emas, dan perak. Sistem Binomo dianggap ilegal karena menggunakan sistem binary option yang cara kerjanya mirip dengan judi. Sebagai contoh, pengguna diminta untuk memilih aset seperti emas, forex, saham hingga kripto, kemudian menebak harga dalam waktu tertentu. Pengguna diminta untuk mempertaruhkan modal untuk menebak, kemudian jika tebakan benar, maka pengguna akan mendapatkan keuntungan 80 persen dari modal yang diberikannya. Namun jika salah, maka semua yang pengguna pertaruhkan akan hilang.

Ada juga investasi ilegal berbentuk robot trading yang mengklaim dengan menggunakan teknologi robot yang mereka miliki, pengguna dapat menghasilkan keuntungan secara konsisten. Selain itu ada juga money game atau skema ponzi, investasi emas palsu, investasi batu bara dan perdagangan asep kripto. Semua rata-rata menawarkan investasi dengan imbal hasil tinggi serta iming-iming fixed income, passive income, dan profit sharing. Tidak hanya itu, investasi ilegal tersebut juga banyak dibantu oleh endorsement yang dilakukan oleh para influencer yang 90 persen adalah kaum muda dengan berbagai media sosial termasuk Instagram, Facebook dan YouTube. Mereka secara bebas memberikan rekomendasi investasi bodong atau judi yang keberadaannya sudah jelas ilegal di Indonesia.

Para influencer ini juga memainkan psikologi masyarakat dengan membangun citra sukses dan kaya raya, agar bisa dipercaya oleh calon investor sehingga tidak sedikit dari mereka tertarik untuk mendapat kekayaan secara instan seolah-olah kekayaan sekejap yang mereka peroleh berasal dari trading 30 detik. Parahnya lagi, para influencer ini aktornya adalah kaum muda yang sebetulnya punya literasi yang kuat akan tetapi tidak mampu memanfaatkan pemahaman tersebut pada kehidupan nyata, kaum milenial seperti dibutakan untuk mencari kesenangan dan kekayaan dalam waktu singkat demi memamerkan hasil penipuan tersebut.

Semakin banyak orang di Indonesia yang sadar akan pentingnya melakukan investasi, namun kurangnya literasi keuangan membuat banyak orang terjebak dengan investasi ilegal. Hal tersebut sejalan dengan statement CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani, yang membeberkan pernyataan bahwa dengan semakin banyaknya instrumen investasi yang beredar di pasaran saat ini, banyak masyarakat yang tertarik untuk berinvestasi, namun sayangnya hal tersebut tak sejalan literasi yang kuat untuk bertahan. Hal ini terepresentasi pula dalam data yang dipublikasikan katadata.co.id dengan basik data yang diambil dari otoritas jasa keuangan dan katadata insight center.

Data menunjukan bahwa tingkat/indeks literasi keuangan milenial ataupun pelajar di Indonesia cukup minim mengingat indeksnya berada pada 23,4 persen pada tahun 2016 dan meningkat sebesar 31,7 persen pada tahun 2019. Meskipun mengalami peningkatan, sayangnya indeks literasi keuangan masih berada di bawah 50 persen, hal yang cukup miris dan memilukan bagi Pendidikan bangsa ini. Beberapa gagasan di atas setidaknya sudah menjadi fondasi yang kuat untuk kita bahwasannya binomo itu bukan merupakan aplikasi trading, melainkan beting atau perjudian yang dibungkus dengan finance indicator untuk mengelabui masyarakat Indonesia.

Hilangkan Utopia, Dari Not Literate Menuju Well Literate

Pelaksanaan Edukasi, bimbingan dan pelatihan dalam rangka meningkatkan literasi keuangan masyarakat khususnya kaum milenial sangat diperlukan karena berdasarkan survei yang dilakukan oleh OJK pada 2013 (data sampai saat ini belum diperbaharui), bahwa tingkat literasi keuangan penduduk Indonesia dibagi menjadi empat bagian, yakni: Well literate (21,84 persen), yakni memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan, serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan. Sufficient literate (75,69 persen), memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.

Less literate (2,06 persen), hanya memiliki pengetahuan tentang lembaga jasa keuangan, produk dan jasa keuangan. Not literate (0,41 persen), tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap lembaga jasa keuangan serta produk dan jasa keuangan, serta tidak memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Tentunya Literasi Keuangan memiliki tujuan jangka panjang bagi milenial khususnya sebagai tulang punggung masa depan bangsa dan negara. Literasi keuangan sebagai Tawaran solusi untuk menghilangkan utopia kaya mendadak sudah barang tentu menjadi hal yang yang sangat penting. Implementasi itu dapat dilakukan dengan meningkatkan nalar kritis melalui membaca buku, memanfaatkan media sosial untuk bersosialisi mengenai aplikasi trading berkedok judi, seperti binomo, sehingga mengurangi korban yang lebih banyak lagi. Selain itu, perlu adanya peran serta dari pemerintah dalam hal sosialiasi peningkatkan literasi masyarakat yang sebelumnya less literate atau not literate menjadi well literate melalui pelatihan dan kerja sama dengan lembaga keuangan.

Bagi masyarakat, literasi keuangan memberikan manfaat yang besar, seperti mampu memilih dan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan yang sesuai kebutuhan, memiliki kemampuan dalam melakukan perencanaan keuangan dengan lebih baik, terhindar dari aktivitas investasi pada instrumen keuangan yang tidak jelas serta mendapatkan pemahaman mengenai manfaat dan risiko produk dan layanan jasa keuangan.

Literasi Keuangan juga memberikan manfaat yang besar bagi sektor jasa keuangan. Lembaga keuangan dan masyarakat saling membutuhkan satu sama lain sehingga semakin tinggi tingkat literasi keuangan masyarakat, maka semakin banyak masyarakat yang akan memanfaatkan produk dan layanan jasa keuangan.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya