Pendidikan Holistik Sebagai Opsi Solutif

Mahasiswa
Pendidikan Holistik Sebagai Opsi Solutif 17/02/2020 2471 view Opini Mingguan pixabay.com

Pada hakikatnya pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Artinya, fungsi penting pendidikan adalah mengantar manusia untuk menemukan hakikat kemanusiaannya sebagai makhluk yang multidimensional. Untuk alasan inilah Platon dalam The Republic menggagas ide tentang Paideia yang ditafsir oleh Martin Heidegger sebagai periogoge holes tes psukhes artinya adalah proses pembalikkan seluruh diri manusia (jiwanya).

Dalam arti yang lebih luas paideia dapat diterjemahkan sebagai pendidikan sekaligus pembudayaan, maka paideia dipresisikan oleh Platon sebagai “proses pembalikan” dari kondisi apaideusia (tak-terdidik, tak-berbudaya) ke kondisi berbudaya (SetyoWibowo 2017: 13).

Intinya, Platon mau menegaskan bahwa pendidikan merupakan “proses pembalikan” manusia dari kondisi terberinya (yang bersifat tak-berbudaya) ke kondisi baru yang diharapkan (kondisi terbudayakan).

Namun, model dan kondisi pendidikan Indonesia terkini justru mempresentasikan suatu paradoks yang melenceng jauh dari pemikiran Platon.

Pendidikan kita tidak lagi berkiblat pada paideia, tetapi justru sebaliknya terperosok jauh pada kondisi apaideusia atau kodisi ketak-berbudayaan.

Problem kekerasan dalam institusi pendidikan seperti penganiayaan terhadap siswi disable di Purworejo, bullying kepada seorang siswi di gresik yang berujung pada amputasi jari tangan, dan pertunjukan tak senonoh perkelahian dua guru di Medan tepat di hadapan murid-muridnya sendiri adalah contoh kecil kebobrokan institusi pendidikan kita.

Belum lagi maraknya kekerasan seksual yang terjadi di kampus-kampus, tawuran antar pelajar dan monopolisasi sistem pendidikan oleh pihak-pihak tertentu.

Tentu rentetan persoalan-persoalan seputar pendidikan di atas menjadi catatan serius bagi nasib pendidikan kita. Jangan sampai pendidikan kita menjadi tulang punggung bangsa yang keropos, rapuh dan tak mampu mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas dan kompetitif di masa depan. Sebab tak ada waktu bagi kita untuk menoleh dan kembali ke belakang. Saatnya kita mewujudkan pendidikan yang sejati yakni suatu proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional terhadap sesama manusia. Sebab tujuan hakiki pendidikan kita ialah mencerdaskan, menyadarkan serta memanusiakan manusia.

Manusia harus diproses oleh sistem pendidikan yang sehat dan bermutu agar ia tidak menjadi monster penindas, penganiayaan dan perundung terhadap orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengoreksi dan membumikan kembali konsep pendidikan holistik yang bisa menjawab berbagai akar persoalan kekerasan dalam institusi pendidikan bangsa ini.

Sebenarnya konsep pendidikan holistik ini sudah lama ditanamkan oleh bapak pendidikan kita Soewardi Surjaningrat yang biasa dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Ia secara sempurna merumuskan pendidikan holistik ini ke dalam suatu konsep pendidikan yang sering kita sebut sebagai “Budi Pekerti”.

Menurutnya, citra seseorang yang memiliki kecerdasan budi pekerti adalah orang yang senantiasa memikir-mikirkan, merasa-rasakan dan selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan tetap (dalam perkataan dan tindakannya) yang pantas dan terpuji terhadap sesama dan lingkungannya.

Artinya, ketika budi (pikiran) dan pekerti (tenaga) seseorang bersatu, maka bersatu jualah gerak, pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauannya untuk menimbulkan relasi harmonis antara dirinya dengan lingkungan sosialnya.

Jadi, pendidikan “budi pekerti” itulah yang membuat tiap-tiap manusia berdiri sebagai manusia merdeka yang dapat memerintah atau menguasai diri sendiri dan menjadi manusia beradab.

Intinya, kategori holistik yang dimaksudkan Ki Hadjar Dewantara dalam “Budi Pekerti” ialah menggabungkan secara intens antara kerja budi (pikiran) dan pekerti (tenaga). Keduanya harus saling melengkapi satu sama lain, sehingga proses pendidikan kita bersifat menyeluruh dan menyentuh semua aspek-aspek dalam diri manusia.

Misalnya, di bidang kognitif pendidikan kita harus mampu mengasah kemampuan siswa untuk menguraikan ilmu pengetahuan yang mereka terima dan membantu mereka mengenal dan memahami detail dari ilmu pengetahuan tersebut. Kemudian dalam ranah afektif, pendidikan mesti mampu membentuk karakter siswa agar bisa mengelola pengetahuan dan menggunakan nilai-nilai yang sudah dimiliki menjadi pegangan hidup.

Dengan demikian, menjadi jelas bahwa yang kurang dari proses pendidikan kita ialah ketidaksejajaran posisi antara aspek kognitif (budi) dan Afektif (pekerti). Praktisnya, pendidikan kita mentok pada tataran epistemologis-teoretis yang mendewakan akal. Sedangkan mental dan pekerti kita terperosok jauh ke dalam lubang imoralitas yang akut. Akibatnya, pendidikan hanya berlangsung di dalam kelas ketika guru ada dan mengajar, tetapi ketika keluar dari kelas semuanya menjadi penjajah, perundung dan penganiaya terhadap orang lain.

Ketidakseimbangan porsi edukatif antara aspek kognitif dan afektif dalam diri siswa adalah penyebab utama munculnya kekerasan dalam institusi pendidikan kita. Oleh sebab itu, usaha untuk membumikan kembali konsep pendidikan holistik ala Ki Hadjar Dewantara menjadi urgen dilakukan.

Akhirnya, Proses pendidikan kita harus bersifat menyeluruh dan tidak berat sebelah agar tujuan pendidikan yang memanusiakan manusia dapat terwujud dan konsep paideia Platon bisa diaktualisasikan secara nyata.
 

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya