Menekan Kasus Pelecehan Seksual

Mahasiswa
Menekan Kasus Pelecehan Seksual 24/01/2022 988 view Lainnya suara.com

Di awal tahun 2022 ini, Indonesia digentarkan dengan kasus pelecehan seksual yang terus meningkat dengan signifikan. Peningkatan kasus ini berhasil mendapat sorotan publik lantaran terdapat beberapa kasus yang dinilai telah melampaui ambang batas kemanusiaan.

Sebut saja beberapa kasus seperti, pemerkosaan 12 santriwati (13-16 tahun) di Bandung oleh seorang Guru Pesantren Herry Wirawan dalam kurung waktu semenjak tahun 2016 s.d. 2021, sampai melahirkan 9 orang bayi, (IDN Times, 14/01/2022). Kasus pemerkosaan terhadap 3 orang mahasiswi oleh seorang aktivis kampus UMY dengan inisial MA, dan yang terakhir ialah kasus dugaan pemerkosaan terhadap 9 orang mahasiswi di kampus UINSA Surabaya, (news.detik.com, 12/01/2022).

Deretan kasus tersebut merupakan sebagian dari sekian banyak kasus yang dilaporkan di awal tahun ini. Namun, melihat sederet persoalan tersebut, tampak bahwa kasus pelecehan seksual di awal tahun ini sangatlah memilukan. Pasalnya kasus pelecehan tersebut terjadi secara berulang dan berlanjut serta melibatkan lebih dari satu orang korban.

Yang parahnya lagi, kasus tersebut marak terjadi dalam dunia pendidikan, tempat di mana orang banyak menaruh kepercayan untuk mendidik anak-anaknya menjadi manusia yang cerdas dan berintelek. Lantaran pendidikan diyakini sebagai ruang yang dapat menciptakan keamanan dan kenyamanan bagi semua orang. Namun, pandangan ini kemudian mati setelah menguaknya kasus pelecehan seksual yang kian marak terjadi dalam dunia pendidikan.

Pendidikan justru menyumbang kasus pelecehan seksual yang paling banyak. Menurut Komisi Komnas HAM Perempuan, beberapa kasus yang terjadi di awal tahun 2022 ini turut menambah panjangnya kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan. Menurut laporannya per 27 Oktober 2021, sepanjang 2015-2020 terdapat 51 aduan kasus kekerasan seksual di lingkungan pendidikan. Komnas HAM Perempuan juga mengungkap bahwa Universitas menyumbang kasus kekerasan seksual paling banyak, yaitu 27 %, menyusul 19% dari pesantren atau sekolah berbasis agama Islam, 15% dari SMA/SMK, 7% dari tingkat SMP, dan 3% masing-masing dari tingkat TK, SD, dan SLB, (own.talk.co.id, 12/01/2022).

Melihat angka yang cukup besar tersebut, dunia pendidikan kemudian mendapat stigma buruk dari masyarakat. Pasalnya, pendidikan yang sejatinya tempat untuk menyiapkan generasi penerus bangsa justru dalam praktiknya tidak seideal ini. Masih terdapat begitu banyaknya persoalan pelecehan seksual dalam dunia pendidikan yang secara tidak langsung telah memutus impian dan rencana besar generasi muda saat ini (perempuan). Hal ini lantaran kasus kekerasan seksual merupakan tindakan kejahatan kemanusian, yang menurut Sulistyowati Irianto akan berkonsekuensi pada kehilangan nyawa, cacat, bahkan korban akan mengalami trauma seumur hidup (Kompas, 2021).

Dengan demikian, tatkala kaum terpelajar menjadi korban pelecehan seksual, maka yang terjadi ialah jejak pendidikannya mengalami kecacatan, bahkan sewaktu-waktu korban akan memilih untuk memutus sekolah karena tidak bisa menahan beban hidup. Apalagi jika korban mengalami cacat berat dan trauma seumur hidup seperti yang dialami oleh bocah 10 tahun di Manado, Sulawesi Utara yang mengalami pendarahan secara terus-menerus dari alat vitalnya setelah diperkosa oleh pelaku yang tidak bertanggung jawab.

Melihat fakta yang memilukan tersebut, tentunya kita mengharapkan upaya yang maksimal dalam usaha memberantas kasus pelecehan seksual dari akar-akarnya. Dan ini merupakan suatu tindakan yang cukup berat dan memerlukan jangkauan waktu yang sangat lama dalam usaha mencapai apa yang diharapkan. Menurut Christian Wibhowo, dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang, salah satu hal yang dapat dilakukan dalam usaha melawan kasus pelecehan seksual ialah lewat edukasi seks.

Namun, hemat penulis edukasi seks bukan merupakan satu-satunya langkah solutif dalam melawan kasus pelecehan seksual yang kian marak terjadi. Karena pasalnya, kasus pelecehan seksual ini terjadi bukan karena orang-orang tidak mengetahui apa itu seks dan segala dampaknya, bukan pula karena tidak mengenal secara sempurna bagian tubuh-tubuhnya. Tetapi, karena nafsu seseorang yang tidak bisa dikontrol dengan baik, sehingga berakhir dengan pelecehan.

Untuk itu satu-satunya cara ialah dengan menyerang mereka yang memiliki nafsu yang tidak bisa dikontrol. Mereka mesti diikat oleh sesuatu hal yang mau tidak mau membuatnya mengharuskan untuk mengontrol nafsu yang ada dalam diri.

Untuk itu ada beberapa hal yang mesti dibuat. Pertama, pemerintah harus membuat aturan yang tegas dan hukuman yang berat bagi siapa saja yang melakukan pelecehan seksual terhadap perempuan. Kedua, semua orang diharuskan untuk menjadi ‘mata-mata’ bagi sesamanya. Beberapa hal ini memang membutuhkan partisipasi aktif dari orang banyak, dan ini memang satu-satunya cara untuk menekan angka pelecehan seksual yang cukup tinggi.

Menurut Maria Adina Brand General Manager L’Oreal Paris Indonesia, usaha menghapus terjadinya pelecehan seksual di ruang publik tidak akan bisa dilakukan sendiri oleh satu pihak saja, tapi mesti melibatkan berbagai pihak (Kompas, 29/09/2021). Artinya, peran aktif semua pihak sangat dibutuhkan dalam rangka menghapus terjadinya pelecehan seksual.

Peran aktif semua pihak tersebut mesti diimplementasikan dalam beberapa hal yang telah dibicarakan di atas. Pertama, pemerintah mesti tegas dalam membuat aturan dan memberi hukuman berat kepada siapa saja yang melakukan pelecehan seksual. Meminjam kerangka berpikir Albert Aries, seorang pengajar di Fakultas Hukum Unversitas Trisakti, maraknya kasus kekerasan seksual membutuhkan aturan dan penegakan hukum yang komperehensif dan holistik sebagaimana adagium, "the law gives no more than is needed" (hukum memberi tidak lebih dari yang kita butuhkan) (Kompas, 2021).

Berdasarkan pemikiran Albert Aries tersebut, maka hukum memiliki peranan sangat penting. Dengan menegakkan hukum kepada para pelaku pelecehan seksual, maka mereka tentunya akan merasa takut jika seandainya melakukan pelecehan seksual. Hukum di sini bertujuan sebagai hantu yang akan menakut-nakuti. Dengan aturan hukum yang jelas dan sangat tegas maka orang-orang akan berusaha untuk menahan atau mengontrol nafsunya dengan baik, agar selamat dari hukuman yang ada.

Untuk itu pemerintah semestinya membuat aturan yang tegas dan hukuman yang berat kepada pelaku pelecehan seksual. Agar dengan melihat aturan tersebut, orang-orang akan merenungkan diri untuk tidak membuat hal yang sama, karena melihat aturan yang begitu mencekam.

Kedua, menjadi ‘mata-mata’ bagi sesama. Pelaku tindakan pelecehan seksual kerap kali kita tidak tahu, karena orang terdekat kita saja mempunyai peluang yang besar sebagai pelaku atas tindakan tersebut. Bahkan orang-orang terdekat yang paling banyak menjadi pelakunya. Ancha Maulana, seorang sekretaris Surabaya Children Crisis Center (SCCC), pernah mengatakan bahwa pelaku pelecehan seksual bisa saja tetangga, saudara, guru dan bahkan orang tua sendiri (IDN Times, 2021). Ini menunjukan bahwa orang-orang yang tidak kita sangka justru menjadi pelaku atas maraknya tindakan seksual yang terjadi.

Dengan pelaku yang kerap kita tidak tahu, maka kita semua diharapkan untuk menjadi ‘mata-mata’ bagi sesama kita. Artinya kita akan mengiming segala sesuatu yang berbau kecurigaan dari orang sekitar kita baik itu teman, sahabat, guru, orang tua, saudara dan bahkan orang tidak dikenal.

Konsekuensi dari hal ini memang cukup berat yaitu dapat menimbulkan kesalahpahaman yang berakibat pada perkelahian. Untuk itu maka diharapkan kepada kita untuk mengumpulkan bukti-bukti yang akurat berkaitan dengan apa yang kita curigakan tersebut, sebelum divonis benar melakukan pelecehan.

Tatkala berbagai bukti yang dikumpulkan telah kuat, maka tindakan selanjutnya ialah dengan melaporkan hal tersebut kepada pihak yang berwenang. Namun untuk saat ini, melapor kasus demikian tidak lagi sulit, karena Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bintang Puspayoga, telah meluncurkan call center SAPA 129 pada 8 Maret 2021 (yoursay.id, 23/12/2021).

Lewat call center ini orang-orang dapat mengajukan atau melaporkan kasus yang ia dapat untuk ditindaklanjuti secara hukum. Karena call center ini merupakan wadah yang telah disiapkan untuk menerima laporan dari berbagai pihak yang mendapat perlakuan pelecehan seksual.

Dengan demikian adanya call center ini sangat membantu para pelapor untuk melaporkan kasus-kasusnya. Sehingga, orang-orang akan semakin takut melakukan tindakan pelecehan seksual karena terdapat banyak mata yang akan memperhatikan semua gerak-gerik yang mengarah pada pelecehan seksual.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya