Memaknai Cinta ala Rumi

Memaknai Cinta ala Rumi 05/05/2022 32 view Budaya tebuireng online

Mengulas lika-liku kehidupan para remaja yang sarat akan percintaan, tak lengkap rasanya jika tak membahas pula apa itu Cinta. Satu kata yang terdiri dari 5 huruf ini acap kali membuat sosok dibaliknya menjadi bahagia, senang tak karuan, senyum tiada henti, bahkan tak jarang juga menjadi pelaku utama yang membuat seseorang frustasi hingga bunuh diri. Lalu, apa sebenarnya hakikat makna Cinta?

Berbicara mengenai cinta, sosok legendaris yang menggeluti dunia sufi dengan syair-syairnya bahkan sampai menjadi kiblat di balik makna kata Cinta adalah Rumi. Ia dengan nama lengkapnya Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri yang sudah melalang buana dengan syair-syair indahnya. Dengan intelektual di atas rata-rata, dan kemahiran dalam menyihir rangkaian kata menjadi penuh makna cinta nan indah, Rumi menjadi salah satu filsuf dunia sejak awal abad 13 dengan karya-karyanya yang relevan hingga masa kini.

Cinta itu ketika Tuhanmu mengatakan, “Telah Kuciptakan semua untukmu.” Lalu kau membalasnya dengan, “Telah kutinggalkan semua untuk-Mu.” Begitu kiranya penggalan puisi darinya. Begitu magis karya Rumi bagi seseorang yang memahaminya.

Lahir pada tanggal 30 September 1207 M di Balkh (sekarang wilayah Afghanistan). Tepatnya di kota kecil bernama Wakhsh di Persia, yang merupakan bagian dari provinsi Balkh. Nama Rumi sendiri merupakan nama panggilannya sedari kecil yang dilahirkan dari seorang ibu bernama Mumina dan ayahnya bernama Bahaduddin Walad yang merupakan seorang ahli ilmu agama, ahli hukum, juga ahli dalam ilmu kebatinan. Ketika Rumi Lahir, ayahnya seorang guru atau pengajar pada zamannya.

Latar belakang keluarganya memang dekat dengan ilmu agama. Sedari kecil Rumi sudah terbiasa dengan ajaran-ajaran keagamaan dan kebatinan di lingkungan keluarganya. Bahkan seiring beranjak dewasa yang dilalui dengan berpindah-pindah tempat tinggal, pernah suatu ketika saat masih umur 24 tahun Rumi menjadi seorang imam dan penceramah besar di Konya untuk meneruskan tugas sang ayah.

Ayahnya menjadi salah satu sosok di balik cara berpikir dan kecerdasan Rumi. Selain ayahnya, Rumi juga getol mempelajari tentang pemikiran Sufi dan syair-syair karya Attar dan Sanai. Ia berawal kagum dengan karya-karya idolanya tersebut. Bahkan ia sempat menuangkan kekaguman itu dalam syairnya. Seperti syairnya,

Attar was the spirit
Sanai his eyes twain
And in time thereafter
Came we in their train
.

Lalu Rumi melanjutkan juga,

Attar has traversed the seven cities of love
We are still at the turn of one street.


Kira-kira begini maknanya jika diterjemahkan,

Attar adalah rohnya
Sanai matanya bersinar
Dan pada waktunya setelah itu
Datanglah kami di kereta mereka.

Attar telah melintasi tujuh kota cinta
Kita masih di belokan satu jalan.

Karena Cinta segalanya menjadi ada
Dan hanya karena Cinta pula,
maka ketiadaan nampak sebagai keberadaan

Jika direnungkan pada zaman masa kini, bukankah syair-syair di atas akan menjadi relevan bagi kaum-kaum remaja yang tumbuh dengan penuh Cinta. Lantas, bagaimana bisa kita senantiasa memenuhi hidup dengan kebencian dan keputusasaan? Apa karena jiwa rendah hati, sikap proporsional memadukan hati dan pikiran demi tercabutnya akar suatu masalah kalah dengan jiwa muda nan bergejolak? Bahkan meredam jiwa yang sarat akan ego saja tidak mampu. Rumi pernah menuliskan sebuah syair yang kian syahdu telinga mendengar dari kata yang terucap pada bibir.

Kekasih,
beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui bagaimana cara menyambut-Mu,
dan sulutlah obor di tangan-Mu agar membakar habis rumah ke-ego-an di dalam diriku.

Baik balita, remaja, dewasa, bahkan orang tua sekalipun sebaiknya tidak hanya dapat memahami, namun juga dapat mengimplementasikan sebuah makna Cinta dalam mengarungi kehidupannya. Dalam keadaan dan situasi apapun, baik emosi, frustasi, sedih, gembira, bahkan keburukan pun yang datang, kita dapat menanamkan benih cinta yang akan menumbuhkan ketenangan hati dalam hidup.

Penggalan ucapan Rumi yang sangat relate kita senandungkan dalam keadaan seperti ini, “Manusia ibarat suatu pesanggrahan. Setiap pagi selalu saja ada tamu baru yang datang; kegembiraan, kesedihan, atau pun keburukan; lalu kesadaran sesaat datang sebagai seorang tamu yang tak diduga. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua hanya membawa duka cita. Sambut dan hibur mereka semua, sekalipun mereka semua dengan kasar menyapu dan mengosongkan isi rumahmu. Perlakukan setiap tamu dengan hormat, sebab mereka semua mungkin adalah para utusan Tuhan yang akan mengisi rumahmu dengan beberapa kesenangan baru. Jika kau bertemu dengan pikiran yang gelap atau kedengkian atau beberapa prasangka yang memalukan, maka tertawalah bersama mereka dan undanglah mereka masuk ke dalam rumahmu. Berterimakasihlah untuk setiap tamu yang datang ke rumahmu, sebab mereka telah dikirim oleh-Nya sebagai pemandumu.”

Manusia diciptakan dari sepasang kekasih yang bercinta. Lantas, bagaimana bisa manusia memenuhi dunia dengan rasa benci yang tiada henti?

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya