Tantangan Pembelajaran Daring selama Pandemi Covid-19

Alumni IFTK Ledalero
Tantangan Pembelajaran Daring selama Pandemi Covid-19 03/04/2020 1448 view Pendidikan Pexels.com

Physical distancing atau pembatasan fisik yang telah ditetapkan WHO sebagai pengganti social distancing atau pembatasan sosial merupakan salah satu upaya dalam proses penanganan virus corona atau Covid-19.

Virus ini diteliti oleh para medis sebagai virus mematikan dan cepat menyebar atau menular melalui udara (aerosol). Oleh karena itu, kebijakan physical distancing atau jaga jarak secara fisik yang telah ditetapkan oleh WHO merupakan langkah yang sangat penting dilakukan untuk meminimalisasi penularan virus corona.

Kebijakan WHO tersebut mendapat respon yang baik dari berbagai negara. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing negara seperti belajar di rumah, bekerja di rumah, dan berdoa di rumah merupakan hal penting yang mesti diterapkan oleh semua masyarakat.

Menurut Jokowi dalam pidatonya pada tanggal 15 Maret 2020 usaha ini merupakan langkah langkah preventif selama proses penanganan virus corona. Selanjutnya Jokowi juga mengatakan bahwa tiga hal penting tersebut merupakan perwujudan dari sikap gotong royong dalam memerangi virus corona (liputan6.com, diakses 02/04/20).

Belajar di rumah, bekerja di rumah, dan berdoa di rumah yang telah menjadi kebijakan Jokowi selama proses penanganan virus corona tentu memperoleh tantangan yang juga perlu diperhatikan secara cermat. Tantangan ini tidak hanya datang dari sektor ekonomi rakyat, tetapi juga datang dari sektor pendidikan.

Hal ini diakui oleh Manteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim. Nadiem mengatakan bahwa tantangan tersebut disebabkan oleh kurangnya fasilitas yang mampu menunjang pembelajaran dalam jaringan, khususnya di daerah-daerah terpencil atau daerah-daerah yang belum memeroleh fasilitas penunjang pembelajaran dalam jaringan (galamedianews.com, diakses 01/04/20).

Untuk menjawab tantangan yang muncul dari sektor pendidikan ini maka terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan bersama, antara lain; pertama, pemerintah menjalin kerjasama dalam lingkup yang lebih luas.

Kerjasama yang dimaksudkan adalah kerjasama yang bukan hanya terjadi dalam hirarki pemerintahan semata, yakni antara pemerintah pusat dan stakeholder di bawahnya melainkan juga kerjasama yang terjadi antara pihak pemerintah dan pihak swasta. Kerjasama ini mengandaikan adanya hubungan timbal balik antara pihak pemerintah dan pihak swasta dibawah regulasi yang jelas.

Pihak swasta dalam hal ini ialah para penyedia layanan informasi dan jaringan yang dapat menunjang efektivitas belajar di rumah selama proses penanganan pandemi corana. Usaha ini memang dinilai tidak mudah, tetapi sekurang-kurangnya dapat menunjang efektivitas belajar yang dilakukan peserta didik di rumah.

Kedua, pemerintah menyediakan buku gratis dalam bentuk e-book atau buku elektronik. Biasanya, e-book atau buku elektronik dapat diakses melalui website atau aplikasi tertentu. Namun, buku yang disediakan ini mesti disesuaikan dengan standar pendidikan yang sedang digeluti oleh peserta didik. Dengan ini, e-book yang telah disediakan pemerintah akan mempermudahkan peserta didik dalam proses belajar di rumah sekaligus menjadi reverensi atau sumber informasi yang terpercaya.

Ketiga, orangtua bertindak sebagai guru yang memberikan sosialisasi tentang bahaya penyebaran virus corona. Sosialisasi yang diberikan oleh orangtua kepada anak-anak dapat dilihat sebagai bentuk pembelajaran yang paling efektif dalam penanganan virus corona. Informasi tentang penanganan virus corona ini dapat diperoleh melalui pusat layanan kesehatan terdekat.

Pada umumnya, informasi tentang penanganan virus corona telah disosialisasikan oleh pemerintah yang bekerjasama dengan aparat negara seperti Polri, TNI, dan SatPol PP baik yang ada di pusat maupun di daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu, sosialisasi yang diberikan oleh orangtua ini sebenarnya merupakan perpanjangan tangan dari pemerintah kepada anak-anak sebagai peserta didik, guna memeroleh informasi tentang penanganan virus corona.

Di samping itu, sosialisasi yang diberikan oleh orangtua kepada anak-anak mengandaikan bahwa orangtua memiliki informasi yang cukup berkaitan dengan proses penanganan virus Corona atau Covid-19.

Keempat, peserta didik menerapkan pembelajaran yang berorientasi kepada keterampilan hidup. Proses pembelajaran tersebut dilakukan oleh peserta didik apabila informasi pembelajaran sama sekali tidak dapat diakses melalui jaringan internet. Pembelajaran keterampilan hidup ini dapat berupa pembelajaran yang diorientasikan kepada proses pengenalan diri, pengenalan lingkungan sosial, kecakapan akademik berbasis pengalaman, dan kecakapan dalam beretika.

Dengan menerapkan upaya-upaya tersebut, diharapkan kegiatan belajar di rumah selama pandemi corona ini dapat berjalan dengan maksimal sehingga para peserta didik tetap dapat menyerap ilmu dari para guru.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya