Media Sosial, Kebebasan dan Peribahasa Banjar

Suka kopi asal pahit.
Media Sosial, Kebebasan dan Peribahasa Banjar 14/01/2023 71 view Budaya pin.it/2yPUn9S

Indonesia negara yang majemuk. Memiliki kekayaan yang berlimpah. Sumber daya alam, budaya, pulau, bahasa, suku dan lainnya. Tetapi hadirnya media sosial patut dipertanyakan lagi? Apakah semakin menumbuh-kembangkan kekayaan yang ada atau malah menjauhkan dari generasi masa depan khususnya milenial dan z? Tulisan ini mencoba membahas salah satu budaya di Kalimantan Selatan yakni suku Banjar. Terkait peribahasa Banjar dalam kebebasan di media sosial.

Kebebasan berpendapat baik lisan maupun tulisan sangat dijunjung tinggi, "setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat" (Pasal 28E ayat (3) UUD NRI 1945). Setiap orang mendapat legitimasi dalam menyampaikan pendapatnya masing-masing. Melalui media sosial orang dengan mudah mengakses informasi dan pengetahuan lintas daerah, nasional bahkan dunia. Orang kemudian semakin gandrung terhadap ponsel pintar. Baik tua, kawula muda hingga anak-anak.

Data pengguna internet di Indonesia dari APJII (Asosiasi Penyelanggara Jasa Internet Indonesia) yang diterbitkan Juni 2022 menunjukkan hasil yang mirip yaitu 210 juta jiwa penduduk terkoneksi internet dari total populasi 272, 6 juta jiwa penduduk Indonesia tahun 2021 (APJII, 2022). Orang semakin hari semakin lama mengakses dunia maya. Satu sisi dapat dianggap sebagai alat untuk berkomunikasi di manapun dan kapanpun. Pada sisi yang lain, patut dipikirkan ulang, konten atau informasi apa yang didapatkan dan menyampaikan ekspresi yang seperti apa? Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan ruang digital yang sehat. Untuk itulah sudah sepatutnya setiap orang memiliki pedoman. Salah satu sumber tuntunan lahir dari akar budaya dalam hal ini terdapat pada peribahasa Banjar.

Menurut Sainul Hermawan, sebagian peribahasa Banjar masih bertahan dan relevan dengan konteks zaman sekarang tetapi ada pula yang telah benar-benar pudar. Peribahasa itu memberikan panduan sikap dalam menghadapi kehidupan. Peribahasa menjadi bukti bahwa orang Banjar memiliki panduan etika yang otentik dan berakar dari pengalaman hidup mereka (Hermawan, 2016).

Peribahasa Banjar menurut Ganie diartikan suatu kalimat pendek yang menggunakan Bahasa Banjar dengan bentuk kata-katanya sudah tersusun secara tetap, dikenal secara umum yang memiliki makna atau maksudnya dinyatakan secara tidak langsung (samar-samar), terselip dan berkias (Ilmi, 2021, hlm. 15).

Salah satu sumber yang dijadikan objek untuk menggali makna yang terkandung dari peribahasa Banjar sebagai pedoman dalam kebebasan berekspresi ini adalah buku yang berjudul Ungkapan Tradisional Daerah Kalimantan Selatan karya Tim Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1985. Adapun beberapa peribahasa Banjar itu diantaranya "Bila Wani Manimbai Lunta Wani Tu Manajuni" (Bila berani melempar jala berani juga menyelami). Maknanya apabila berani melakukan suatu perbuatan, maka harus pula berani menanggung segala resiko yang mungkin timbul akibat daripada perbuatan itu.

Peribahasa Banjar yang pertama berisi nilai tanggung jawab. Saat ini orang dengan mudah mengeluarkan ekspresi dalam berbagai bentuk. Opini atau pendapat, kritik, masukan. Tapi tidak jarang ketika itu dilakukan memantik persoalan baru. Ada sisi yang memungkinkan orang saling "bertengkar" di media sosial. Disinilah pentingnya untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah disampaikan.

Kaya Turun Bajajak Di Agung (Seperti turun berpijak di gong). Maknanya berbicara dan berperilakulah yang baik, dan kalau melakukan sesuatu perhitungkan baik buruknya dengan secermat-cermatnya.

Nilai yang kedua ini berisi kemaslahatan atau kebermanfaatan. Ketika menanggapi isu-isu yang belum jelas kebenarannya, misalnya isu munculnya komunis, perpanjangan masa jabatan presiden 3 periode, hutang luar negeri Indonesia dan sebagainya. Sudah sepatutnya menyeleksi berita yang ada kemudian bereaksi dengan pertimbangan yang matang dan tidak menimbulkan masalah baru.

Banganga Dahulu Haru Basiwara (Menganga dahulu baru berbicara). Mengandung makna bahwa sebelum berbicara, fikirkanlah dahulu akibatnya.

Di kalangan orang Banjar yang ketiga ini cukup familiar. Ada nilai otokritik di sana. Kita dituntut untuk melihat diri sendiri sebelum berbicara. Sehingga refleksi panjang tentang akibat yang mungkin terjadi dapat dibayangkan. Ini penting menjadi rambu-rambu dalam bermedia sosial hari ini. Kita dengan mudah menggunakan jari-jemari untuk "berbicara" kepada khalayak publik dengan sekali klik. Tanpa sadar apa akibatnya. Syukur-syukur kalau berisi manfaat tapi bila debat kusir hingga saling caci maki yang muncul. Yang rugi kita manusia bukan ponsel.

Mulut Kada Babasuh (Mulut tidak dicuci). Makna yang terkandung kalau berbicara hendaklah mempergunakan bahasa yang baik dan sopan.

Peribahasa Banjar yang keempat, lebih pada cara dalam menyampaikan ekspresi. Ada nilai etika dan moral. Entah itu kritik misalnya dilakukan dengan bahasa yang sopan. Tidak boleh ada kata-kata yang merendahkan martabat manusia. Apalagi menghakimi orang dengan kata-kata binatang. Kebebasan berekspresi itu bukan bebas-sebebasnya tapi ada nilai-nilai etika dan moral yang membatasinya.

Buah Bangkinang Masak Mangkal, Dalamnya Manggurinda, Urang Hangkinang Masuk Di Akal, Ampun Kami Kada (Buah bangkinang masak mengkal, Di dalamnya seperti gerinda, Orang Angkinang masuk di akal, Punya kami tidak). Maknanya adalah menghargai pendapat orang lain demi terciptanya kerukunan.

Terakhir berisi nilai inklusif (keterbukaan). Dari keterbukaan lalu menerima perbedaan. Ada suatu kebenaran yang menurut kita benar, tetapi menurut yang lain itu dianggap salah. Inilah pentingnya terbuka dan mau berlapang dada merupakan pintu masuk ke dalam "Bhinneka Tunggal Ika" (Berbeda-beda tetapi tetap satu). Kita tidak dipaksa untuk meninggalkan suatu entitas terdahulu kemudian melebur menjadi satu. Tetapi kita menghadirkan suatu entitas ke permukaan lalu saling berbagi pengetahuan budaya untuk saling menghargai dan menjadi satu. Bangsa Indonesia.

Ada banyak peribahasa Banjar lain yang kaya petuah. Begitu pula pada budaya-budaya lain. Banyak nilai yang mungkin bisa dijadikan pelajaran. Meskipun produk dari masa lampau namun memiliki nilai-nilai yang relevan hingga sekarang. Hal ini karena setidaknya dua sebab. Pertama, kebebasan yang diakui dan dijunjung tinggi di Indonesia. Kedua, masuknya media sosial sebagai alat yang cepat menuntun manusia berkomunikasi. Disitulah tercipta tantangan sekaligus peluang. Setiap orang khususnya generasi muda sudah seyogianya belajar dari masa lalu untuk menatap masa depan agar tidak terjebak pada banalitas dan brutalitas di media sosial.

Jika anda memiliki tulisan opini atau esai, silahkan dikirim melalui mekanisme di sini. Jika memenuhi standar The Columnist, kami dengan senang hati akan menerbitkannya untuk bertemu dengan para pembaca setia The Columnist.
Artikel Lainnya